Cemburu? No!

803 Kata
Gendis pun langsung membantu Mahasiswi itu namun saat ia berniat untuk membantunya berdiri mahasiswi itu malah berdecak kesal dan menepis tangannya dengan sangat kasar yang membuatnya terkejut dan bingung. Siswi itu mendelik marah pada Gendis. "Eh lu tuh nggak usah sok sok baik deh sama gue! Gara-gara lu Satrio langsung pergi gitu aja padahal gue kan pengen ada banyak interaksi sama dia! Gara-gara elu rencana gue jadi gagal total tau nggak!" makinya lalu ia pun pergi meninggalkan Gendis yang terdiam itu. Gendis masih berdiri di sana karena ia merasa heran, niatnya baik ingin menolong mahasiswi itu namun ternyata ia malah mendapatkan balasan seperti itu. Ternyata mahasiswi itu menyukai Satrio. Cemburu? Ia langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat membantah pikirannya sendiri yang muncul secara tiba-tiba itu. Ia tak mungkin merasa cemburu karena ia sendiri tak punya perasaan yang istimewa kepada suaminya itu. Ia menghela napas panjang, sudahlah ia tak perlu memikirkan hal itu lagi. Dan pria bertopeng itu masih saja diam bersembunyi di dalam bilik toilet. Gendis pergi ke kantin untuk mulai buka warung, ketika ia sedang sibuk siap-siap ia malah melihat kedatangan Satrio bersama seorang perempuan yang tampak centil bernama Vanya dan mereka duduk di meja kantin, bercanda tawa bersama. Mereka seperti sepasang kekasih saja karena siswi itu tak segan-segan sesekali memukul pelan bahu Satrio dan Satrio hanya diam saja tak protes sedikitpun. Gendis menghela napas berat, pagi-pagi tapi Satrio sudah membuat masalah lagi dengannya. Ia pun menghampiri mereka berdua dan membuat dua sejoli itu menoleh ke arahnya, Satrio tampak marah sedangkan Vanya tampak bingung. "Maaf, tapi emang nggak ada tempat lain ya untuk pacaran? Ini kan di kantin yang nggak sepatutnya dong kalian pacaran di sini nanti takutnya malah warung saya jadinya sepi gara-gara ulah kalian itu!" tegur Gendis yang memasang wajah juteknya itu dan ia bersilang d**a menantang Satrio. Satrio berdecak kesal. "Urusannya sama lu apa hah? Lu tuh kenapa sih kayaknya sensi banget liat gua? Tadi pas di toilet lu ikut campur urusan gua dan sekarang lu gitu juga lu tuh maunya apa sih!" semprotnya marah. "Iya, lu tuh kenapa sih? Lu iri ya sama gue dan Satrio karena lu itu cewek jomblo!" sambung mahasiswi centil itu yang menatap Gendis dengan tatapan tak suka. Gendis terlihat sangat kesal sekali mendengar ejekan dari Vanya tersebut. Tadi Vanya mengatakan apa tentangnya? Jomblo? Tidak salah? Justru laki-laki yang bersamanya itu adalah suaminya dan justru Vanya yang kecentilan seperti itu! ingin sekali Gendis mengatakan isi hatinya itu pada Vanya namun ia masih berusaha untuk bisa menahan diri agar tak terjadi kegaduhan di kampus. Lagipula ia sadar diri kalau pernikahannya dengan Satrio harus dirahasiakan dari semua orang karena itulah ia akan diam. "Udah deh nggak usah banyak protes, sana pergi cari tempat lain buat pacaran! Jangan di sini karena di sini tempatnya cari uang!" usir Gendis yang tak takut sekalipun dengan mereka berdua terutama pada Satrio. "Ayo, sayang kita pergi aja deh dari sini," ajak Vanya sambil menggandeng lengan kekar Satrio. Satrio mengangguk namun matanya menatap tajam pada Gendis, tajam penuh amarah dan ancaman. "Awas lu ye," desis Satrio penuh ancaman pada Gendis saat ia berjalan melewati istrinya itu namun Gendis tak takut sedikitpun padanya. "Hush hush pergi sono!" ucap Gendis sambil menggerakkan tangannya seperti sedang mengusir ayam. Di saat yang sama pria bertopeng itu kini sedang berada di dalam sebuah kamar hotel yang mewah bersama seorang wanita yang menemaninya itu. Sebuah kecupan singkat pria itu berikan di bibir wanita yang berbusana minim itu. Pria bertopeng itu, Rendra namanya tangannya mengelus pipi wanita yang telah ia bayar itu dengan lembut. Wanita itu tersenyum penuh goda. "Bagaimana servis saya, Tuan? Apakah memuaskan Tuan?" tanyanya dengan nada yang manja. Rendra terkekeh lalu ia menarik tangannya dari wajah wanita itu. Ia mengangguk pelan lalu ia meneguk minumannya dengan pelan. "Ya, kamu memang menarik dan saya jujur aja suka dan puas dengan pelayanan kamu itu, jadi untuk dua hari kedepan kamu akan di sini untuk temani saya." "Terimakasih, Tuan," balas wanita itu dengan senyuman yang nakal. Wanita itu kemudian memberanikan diri duduk di atas pangkuan Rendra, dengan pelan ia mengecup bibir pria muda yang usianya sekitar tiga puluh tahunan itu dan Rendra menyambut ciumannya. Mereka terus berciuman hingga berakhir tidur bersama lagi. Beberapa menit kemudian setelah mereka selesai melakukannya, Rendra turun dari tempat tidur sedangkan wanita itu masih terlelap. Rendra kemudian pergi ke toilet untuk membersihkan diri, ia kemudian menatap wajah tampannya itu yang terlihat di cermin. Ia kemudian terkekeh sendiri lalu berujung ia tertawa terbahak-bahak. "Banyak wanita yang seksi dan jago di ranjang tapi tetap nggak ada yang bisa menandingi kecantikan Gendis. Karena itulah saya sangat memuja dia, dia itu beda dari wanita manapun," ujar Rendra dengan lirih. "Apapun yang terjadi Gendis harus menjadi milik saya, milik saya seutuhnya," lanjut Rendra dengan tangan yang terkepal kuat lalu ia meninju kaca dengan sangat keras hingga pecah dan darah mengalir di tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN