Sudah saatnya Gendis pulang karena kantin juga sudah tutup, ia pun mencegat angkutan umum dan ia pun naik. Tubuhnya terasa pegal maka dari itulah ia memukul-mukul pelan lengannya sendiri saat dalam perjalanan.
Di saat yang sama Satrio juga dalam perjalanan pulang dan ia pun dicegat oleh para mahasiswa dari kampus lain yang membuatnya bingung dan gemetar ketakutan namun ia terpaksa berhenti di jalanan yang sepi itu.
"Eh turun lu!" seru salah seorang di antara mereka.
Satrio diam saja ia hanya menunduk saja di atas motornya itu.
"Lu kagak denger ya? Turun buruan lu turun!"
Satrio pun mengangguk sambil menundukkan kepalanya ketakutan dan juga tubuhnya gemetaran. Ia turun dari motornya itu lalu ia berdiri sambil tetap menunduk ketakutan.
"Eh lu kan yang namanya Satrio itu? Lu kan yang kemarin udah gebukin temen gue yang satu kampus sama lu itu? Nah sekarang lu terima balasan dari kita kita nih!"
"I...iya gua Satrio. Lu semua siapa?" tanya Satrio lirih tanpa berani menatap mereka semua, ia menelan ludah takut.
Tanpa aba-aba mereka berempat langsung menendang Satrio hingga tersungkur di rerumputan itu lalu mereka menghajarnya hingga babak belur.
Gendis yang kebetulan lewat di jalan itu ia tanpa sengaja menoleh dan ia terbelalak melihat ada motor sport milik suaminya karena ia memang hapal dan ia juga melihat pengeroyokan tersebut ia pun panik dan langsung berhenti lalu ia bergegas turun dari angkutan umum itu setelah ia memberikan uang pada pak sopir.
"Woy berhenti woy!" seru Gendis sambil berjalan menghampiri mereka semua membuat mereka menoleh ke arahnya dan panik lalu mereka pun langsung kabur dengan mengendarai motor mereka masing-masing.
"Woy malah kabur kalian!" teriak Gendis kesal.
Gendis pun memeriksa motor itu baik-baik dan memang benar itu adalah motor milik suaminya. Tambah panik lah ia lalu ia pun menghampiri Satrio yang masih tersungkur itu. Buru-buru ia menghubungi pihak rumah sakit dan tak lama ambulans pun datang membawa Satrio dan Gendis.
Beberapa jam kemudian di rumah sakit, di ruang rawat.
"Kamu kenapa diem aja sih ngapain kamu nggak lawan kamu itu kan jagoan?" tanya Gendis saat ini ia sedang duduk di ruang rawat suaminya itu.
Satrio berdecak kesal. "Lawan gimana gua aja kagak kenal mereka siapa! Aduh mana masih sakit banget lagi nih, awas aja mereka bakalan gua laporin ke bokap gua lihat aja udah bikin gua sampai babak belur gini."
Gendis tertawa mengejek. "Dasar anak manja malah mau ngadu ke ortu segala, kamu nggak bisa apa selesaikan masalah kamu sendiri?" cibirnya.
"Gua kagak bisa, puas lu!" balas Satrio kesal.
Gendis geleng-geleng kepala, ia tak menyangka bahwa Satrio yang ia tahu selalu bersikap sangat arogan, sok jagoan di kampus dan juga sering membuli murid lain ternyata hanyalah anak mami, anak yang manja dan penakut jika di luar dan ia tanpa teman-temannya itu. Siapa sangka ia kini mempunyai seorang suami yang sikapnya buruk seperti itu?
Tak lama Aura ibu mertuanya Gendis datang ke ruang rawat Satrio dan ia sangat cemas melihat keadaannya.
Gendis lagi dan lagi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat betapa suaminya itu sangat berlebihan dalam mendiskripsikan tentang apa yang dialaminya itu pada ibunya dan ibu mertuanya juga ternyata sama berlebihannya dengan Satrio. Dan ibu anak itu malah menangis bersama.
Besoknya Gendis datang ke acara arisan di rumah keluarga konglomerat atas suruhan Aura karena ibu mertuanya itu pergi ke luar kota jadi ia yang menggantikannya. Di sana ia disambut dengan ramah dan ia sangat terkejut ketika ia melihat Karin, musuh bebuyutannya ada di sana juga.
"Kenapa bisa ya orang kismin kayak kamu ini bisa gabung di arisan yang isinya istri konglomerat?" lirih Karin dengan penuh ejekan yang membuat Gendis sangat kesal.
Gendis menghela napas panjang, ia sebisa mungkin harus bisa menahan diri agar tak menjambak atau menampar Karin mengingat sekarang mereka ada di depan umum. Jadi ia hanya duduk diam saja dan menatap ke arah lain.
Karin mendengus kesal lalu ia pun duduk di tempat duduknya sendiri.
Beberapa jam kemudian
PLAK!
Rendra terkejut dan matanya mendelik marah setelah ia baru saja ditampar oleh Claudia ibu kandungnya sendiri.
"Kamu harus dengar ya, Rendra. Kamu itu pewaris di keluarga kita jadi kamu harusnya jangan bertindak seenaknya lagi paham kamu!" bentak Claudia sambil mendelik marah.
"Tapi cuma dia perempuan yang aku cintai, Ma. Aku nggak akan diam aja sebelum aku bisa dapetin dia!" bentak Rendra yang membuat ibunya semakin marah padanya dan menamparnya lagi.
Karin yang baru saja pulang dari acara arisan ia terkejut mendengar percakapan antara suaminya dan ibu mertuanya tersebut. Ia pun menguping di balik tembok karena ia merasa penasaran.
"Cinta? Kamu itu udah punya istri seharusnya Karin yang kamu cintai bukan si Gendis itu!" teriak Claudia.
Karin terkejut hingga ia sampai menutup mulutnya, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar itu? Gendis? Ia memang tahu bahwa suaminya hingga kini belum bisa mencintainya namun ia tak menyangka bahwa dari semua orang mengapa harus Gendis yang suaminya cintai? Tangannya mengepal kuat saking marahnya ia, lagi dan lagi Gendis selalu menjadi saingannya dalam hal apapun dan ia tak terima.