Masa Lalu

1009 Kata
Gendis baru saja pulang dari acara arisan, ia bergegas masuk ke dalam kamar lalu ia duduk di tepi ranjang. Rasa kesalnya kembali muncul saat ia teringat pertemuannya dengan Karin tadi di acara arisan tersebut. Ia tak menyangka setelah sekian lama akhirnya ia bertemu lagi dengan musuh bebuyutannya saat dulu di sekolah. Ya, mereka berdua memang dulu satu sekolah. Flashback Saat itu Gendis sedang berjalan santai memasuki toilet yang sepi namun tiba-tiba saja Karin datang menghadangnya membuat langkahnya terhenti. Gendis terlihat bingung karena tiba-tiba saja teman satu kelasnya itu menghadangnya seperti itu. "Minggir!" perintah Gendis dengan kesal. Karin malah tertawa terbahak-bahak lalu ia pergi untuk mengambil air dengan gayung yang kemudian ia siramkan air itu ke arah Gendis membuat Gendis basah kuyup seperti itu. Ia lanjut tertawa terbahak-bahak menertawakan Gendis. Gendis yang kesal ia mengepalkan tangannya lalu menatap Karin yang sedang tertawa itu dengan marah. Ia pun kemudian pergi mengambil air dengan gayung juga lalu ia membalas apa yang Karin lakukan padanya tadi membuat Karin berteriak marah karena badannya basah kuyup. "Berani banget kamu bales aku? Awas aja ya aku bakal bikin kamu dikeluarin dari sekolah ini lihat aja!" ancam Karin. "Aku nggak takut lagian kamu duluan kok yang salah ya aku bales lah!" balas Gendis tanpa takut sedikitpun pada Karin. Karin pergi dari toilet dengan penuh amarah namun Gendis tak peduli. Dan besoknya Gendis ternyata diskors selama lima hari karena dituduh membuli Karin dan walaupun ia sudah membela diri namun ia tetap kalah dan akhirnya ia harus terima. Karin tertawa jahat ia sangat puas sudah berhasil membuat Gendis sampai diskors karena kebohongannya itu. "Puas kamu? Puas kamu udah bikin aku diskors gara-gara kebohongan kamu itu hah!" seru Gendis. "Iya lah puas banget aku, lagian salah kamu sendiri beraninya cari masalah sama aku," balas Karin. Gendis tampak kesal mendengarnya, cari masalah Karin bilang? Justru Karin sendiri yang lebih dulu mencari masalah dengannya, batinnya kesal. Karena ia tak ingin lebih marah lagi ia pun pergi diiringi suara tawa ejekan Karin. Flashback off Meskipun itu sudah masa lalu namun rasa marah dan kecewa itu tak pernah bisa Gendis lupakan. Betapa licik si Karin itu dari dulu yang selalu memusuhinya tanpa ia tahu kesalahannya apa. Dan saat dirinya sudah lama tak tahu kabar tentang Karin namun malah ia bertemu lagi dengan perempuan licik itu. "Semoga aja aku nggak akan pernah ketemu sama dia lagi setelah ini," ucap Gendis penuh harap. Ya, ia tak ingin terlibat apapun dengan Karin lagi. Gendis pun memutuskan untuk mandi karena rasanya sangat lelah sekali siapa tahu dengan mandi rasa lelahnya hilang, pikirnya. Gendis pergi ke kamar mandi bersamaan dengan Satrio yang masuk ke kamar. Satrio membaringkan tubuhnya yang masih sakit semua itu ke atas tempat tidur lalu ia memejamkan matanya mencoba untuk terlelap agar bisa mengurangi rasa sakitnya itu. Tak lama Gendis yang baru saja selesai mandi dan hanya memakai handuk kimono mandi itu ia langsung pergi ke lemari untuk mengambil daster santai yang akan ia pakai malam ini. "Eh lu mau ngapain hah?" tegur Satrio yang membuat Gendis terkejut saat akan melepaskan handuk kimononya itu. Gendis menoleh dan ia terbelalak melihat siluet seseorang dari kegelapan kamar mereka itu. "Kamu siapa?" tanya Gendis yang masih terkejut itu. "Pakai nanya lagi gua siapa emang lu kagak bisa ngenalin suara suami lu ini?" balas Satrio kesal. Gendis menghela napas lega sekarang. "Ok deh kalau gitu kamu tutup mata soalnya aku mau pakai baju!" Satrio berdecak kesal namun ia mengatakan iya dengan malas. "Awas kalau kamu berani buka mata!" ancam Gendis. "Kagak lah, udah lah lu kagak usah banyak ngomong buruan pakai baju lu!" Gendis pun segera memakai dasternya setelah itu ia pergi ke kamar mandi dan tak lama ia kembali ke kamar. Ia menyalakan lampu dan ia mendengus kesal melihat Satrio yang sedang berbaring santai di atas tempat tidur nge-game di ponselnya itu. Ia tanpa mengatakan apapun ia duduk di depan meja rias lalu ia mulai memakai handbody di kakinya juga tangannya lalu setelah itu ia pun berbaring di tempat tidur yang sama dengan Satrio namun jaraknya jauh dari suaminya itu dan membelakangi suaminya. Satrio hanya melirik ke arah istrinya saja lalu ia kembali fokus dengan ponselnya itu. "Kok kamu udah pulang sih bukannya kamu masih harus dirawat sampai besok ya?" tanya Gendis sambil mengambil guling untuk ia peluk. Satrio berdecak kesal namun ia tak membalas pertanyaan istrinya itu karena ia sibuk dengan gamenya. Gendis pun tak ingin bertanya lebih lanjut ia ingin tidur. Sementara itu Karin masuk ke kamar Rendra dengan hati-hati saat ia melangkah karena ia takut suaminya yang sudah terlelap itu terbangun dan membuatnya kena marah. Pernah saat ia tak sengaja berisik dan suaminya itu terbangun ia langsung dikunci di kamar mandi selama lima jam dan membuatnya menggigil hebat karena kedinginan. Ia tak ingin ia dihukum lagi oleh suaminya yang kasar dan tak punya hati itu. Ya, ia tahu suaminya itu pria yang sangat kasar dan tak punya rasa kasihan padanya ia tahu betul akan hal itu. Namun ia tetap ingin bertahan dalam pernikahan mereka yang sudah berjalan selama satu tahun itu. Dalam satu tahun itu ia tak pernah mendapatkan nafkah batin dari suaminya itu karena Rendra mengatakan sangat jijik jika berdekatan dengannya. Ia terpaksa menahan rasa sakit hati itu karena ia sangat mencintai Rendra, cinta pada pandangan pertama. Dan karena uang juga karena suaminya itu anak orang kaya, ia ingin menjadi menantu orang kaya agar ia dihormati karena statusnya itu. Ia bertemu dengan suaminya saat dulu mereka berada hadir di acara pesta ulang tahun sahabatnya. Karena rasa cintanya yang dalam itu ia sampai meminta pada orang tuanya untuk menikahkannya dengan Rendra. Karin membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang beda dengan Rendra. Ya, selama mereka menikah mereka memang tak tidur dalam satu ranjang yang sama. "Mas? Kamu mau ke mana?" tanya Karin sambil bangun dari tidurnya saat ia melihat Rendra yang sepertinya akan pergi itu. "Bukan urusan kamu," balas Rendra dingin. "Kamu mau pergi ketemuan sama Gendis perempuan murahan itu?" tanya Karin dan ia langsung menutup mulutnya karena ia sudah keceplosan. "Jaga mulut kamu, Karin!" bentak Rendra lalu ia menghampiri Karin dan mencekik leher istrinya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN