Berangkat Bersama Ke Kampus

1049 Kata
Karin sampai sesak napas dicekik seperti itu oleh suaminya sendiri. Sekuat tenaga ia berusaha untuk memberontak namun tetap saja ia tak berhasil, ia jelas kalah telak dengan Rendra. Rendra yang melihat istrinya hampir pingsan ia pun melepaskan cengkeramannya itu sehingga Karin bisa bernapas dengan bebas dan terbatuk-batuk. "Saya lepasin kamu karena saya masih punya rasa kasihan ke kamu, Karin. Tapi sekali lagi saya dengar kamu menghina Gendis maka kamu akan habis di tangah saya paham kamu!" Rendra mengancam istrinya itu tak main-main. "Apa Gendis yang aku maksud itu sama dengan orang yang kamu maksud itu, Mas? Apa benar namanya Gendis Sekar Larasati?" tanya Karin memastikan setelah ia sudah kembali tenang. "Iya, dia gadis yang saya cintai, kalau kamu berani macem-macem sama dia ingat tangan saya ini yang akan kubur kamu!" ancam Rendra lagi sebelum ia pergi meninggalkan istrinya yang terguncang itu. Tangan Karin mengepal kuat setelah ia tahu semua itu. Ternyata firasatnya memang tak pernah salah, benar yang ia kira bahwa Gendis musuhnya lah yang suaminya cintai. Tadinya ia sempat mengira bahwa bukan Gendis yang ia kenal yang suaminya cintai itu namun ternyata Gendis yang sama, musuhnya. Semakin bertambah benci ia terhadap musuh bebuyutannya sejak sekolah itu. Dalam hatinya ia mengatakan ia tak akan tinggal diam, ia akan membalas dendam pada Gendis tanpa Rendra tahu tentu saja. Ia akan bermain dengan tenang agar suaminya itu tak mengetahui pergerakannya. Karin mendengus marah. "Yang bener aja perempuan kismin macem si Gendis bisa bikin Mas Rendra suamiku yang berasal dari keluarga tajir melintir kayak gitu bisa kepincut juga sama dia." Ternyata Rendra menghentikan mobilnya tepat di depan kediaman keluarga Satrio. Ia hanya diam saja di dalam mobilnya tak ada niatan untuk masuk. Rendra memperhatikan rumah mewah dan megah itu dengan lekat-lekat lalu ia menghela napas panjang. "Kapan saya bisa tidur di samping kamu, sayang," lirih Rendra. Mendadak wajah Rendra berubah marah lalu tangannya mengepal. "Awa aja kalau sampai si Satrio bocah ingusan itu berani macem-macem ke Gendis. Kalau dia melakukan itu dia nggak akan selamat," ucap Rendra karena ia tak terima gadis cantik pujaan hatinya itu disentuh oleh lelaki manapun. Sedangkan di dalam kamar di rumah mewah itu, Satrio menelan ludah saat ia tak sengaja menoleh ke arah samping ke arah Gendis ia malah melihat daster selutut yang dikenakan istrinya itu tersingkap dan memperlihatkan sebagian paha mulusnya itu. Tergoda, ingin rasanya ia memeluk istrinya itu dan melakukan banyak hal dengannya. Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya ia tak boleh punya pikiran seperti itu meskipun Gendis adalah istrinya sendiri. Ia pun pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan pikirannya itu. Sehingga ia tak tahu Gendis terbangun lalu kembali terlelap. Besok paginya Saat sarapan bersama hanya berdua saja karena ibu dan ayahnya sedang pergi ke luar negeri, Satrio melirik ke arah Gendis lalu ia menatap ke arah lain dengan gugup saat ia tertangkap Gendis ia telah mencuri pandang ke arah istrinya itu. "Ngapain kamu lirik lirik aku kayak gitu?" tegur Gendis sambil menyendokkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. "Dih siapa juga yang lirik elu? Nggak usah geer dah!" balas Satrio. "Siapa juga yang geer orang aku tadi lihat kamu kok lagi lirik lirik aku!" Satrio berdecak kesal lalu ia menyelesaikan sarapannya itu tanpa membalas ucapan istrinya lagi. "Dasar bocah!" ejek Gendis namun suaminya tak peduli. Setelah selesai sarapan Gendis pun bersiap untuk berangkat kerja. Ia berjalan lumayan jauh untuk mencari angkutan umum yang lewat. Satrio yang melihat Gendis jalan kaki seperti itu ia merasa iba juga. Bukan apa-apa namun ia merasa sangat berterima kasih pada Gendis karena jika tak ada istrinya di tempat kejadian tentu ia tak akan selamat mungkin karena terus tergeletak di jalan waktu itu. Ia menghela napas panjang. Ya, ia akan menurunkan egonya kali ini. Akhirnya ia menghentikan motor sportnya itu tepat di depan istrinya. Gendis terkejut melihat Satrio dan ia pun berhenti sejenak. "Buruan naik!" perintah Satrio membuat Gendis merasa bingung. "Buruan, Dis! Gua bilang ayo naik motor gua!" lanjut Satrio sambil menoleh ke belakang dengan tak sabaran karena istrinya hanya diam saja. "Nggak usah deh, makasih. Aku naik bis aja." "Udah bareng gua aja buruan naik!" Gendis menghela napas panjang akhirnya ia pun menuruti suaminya itu, ia duduk di jok belakang motor Satrio. "Pegangan!" "Iya." Gendis terpaksa memeluk pinggang Satrio saat suaminya itu malah mengebut. Satrio malah tertawa saja saat ia protes membuatnya kesal. Tanpa mereka tahu ternyata ada Rendra yang mengikuti mereka dengan mobilnya itu. Ia tepat ada di belakang motor Satrio dan wajahnya sangat kesal sekali melihat Gendis memeluk Satrio dengan sangat erat seperti itu. Rendra memukul setir mobil dengan kesal. Seandainya ia yang berada di posisi Satrio ia pasti sangat senang karena dipeluk oleh Gendis. Sampai di kampus Gendis pun bergegas turun dari motor Satrio. "Makasih," ucap Gendis dengan wajah yang jutek. Satrio terkekeh geli. "Apa lu bilang gua kagak denger nih, coba ulangi sekali lagi!" Gendis berdecak kesal, ia setengah hati mengucapakan kata tersebut malah ia disuruh untuk mengulanginya lagi. "Kalau gitu aku tarik deh ucapan aku itu," balas Gendis namun Satrio tak marah ia hanya tertawa saja. Vanya tiba-tiba saja datang menghampiri Satrio dan bergelayut manja yang membuat Gendis sedikit kesal entah mengapa ia juga tak tahu. "Sayang, kamu kok lama banget sih aku udah nungguin kamu dari tadi loh," ucap Vanya dengan nada manjanya yang dibuat-buat itu membuat Gendis tampak muak. Sedangkan Satrio hanya diam saja yang semakin membuat Gendis tambah kesal. "Loh kok kamu kok kayak ada luka luka gini kamu kenapa?" Vanya tampak khawatir melihat ada luka di wajah tampan Satrio. "Kemarin abis berantem tapi nggak apa-apa kok, jadi kamu tenang aja ya," balas Satrio dengan nada yang lembut. Vanya tersenyum senang lalu ia menatap sinis ke arah Gendis yang masih berdiri di sana. "Ngapain lu di sini lu nungguin apa hah? Atau lu iri karena lu jomblo jadi lu nggak bisa mesraan sama cowok iya? Kasihan deh lu!" ejek Vanya. Gendis tak bisa menahan amarahnya lagi maka dari itulah ia memutuskan untuk pergi ke kantin, lebih baik ia segera bersiap-siap untuk membuka warung. "Aku bingung nih, aku kan kemarin malem lihat kamu ada di arisan tapi sekarang kenapa kamu malah ada di sini? Atau jangan-jangan kamu itu kemarin bisa dateng ke acara itu karena kamu itu simpenan suami orang? Pantes sih muka muka kayak kamu ini emang cocok sih jadi perempuan penghibur laki orang!" ejek Karin yang tiba-tiba saja muncul di warung Gendis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN