Gendis sampai terdiam mendengar ejekan dari Karin. Ia juga sampai menghentikan kegiatannya itu sejenak.
"Kenapa kamu diem aja berarti bener dong kamu itu simpanan suami orang iya kan?" ejek Karin lagi benar-benar memancing kemarahan Gendis.
"Kacau kamu tuh, mana mungkin orang yang ngakunya terpelajar tapi punya pikiran jelek kayak gitu!"
Karin ingin membalas karena ia tak terima Gendis mengatakan hal seperti itu padanya namun ia diam karena ia ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh Gendis lagi.
"Mendingan kamu pergi deh kalau niat kamu cuma mau ganggu orang yang lagi kerja, aku tuh sibuk nggak kayak kamu yang pengangguran itu," cibir Gendis.
Karin mendengus kesal. "Eh jaga ya mulut kamu, Gendis! Kamu bilang aku ini pengangguran? Kalau emang iya tapi kamu harus tau kalau aku ini adalah istrinya anak konglomerat kamu harus tau itu! Permisi!" ia berlalu pergi.
Gendis mendecih kesal, menurutnya Karin itu konyol sekali mengatakan tentang siapa dirinya sebenarnya toh jika memang benar Karin itu istri anak orang kaya lalu apa urusannya dengannya. Ia tak ingin ambil pusing jadi ia pun melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Sekitar pukul setengah sepuluh pagi, Linda ibunya Gendis datang ke kantin tepatnya ia datang ke warung Gendis. Ia berdecak kesal melihat anaknya yang malah bekerja di kantin.
"Kamu tuh kenapa malah masih kerja di sini apa kamu nggak capek? Mama itu kan udah bener udah nikahin kamu sama Satrio anak orang kaya tapi kamu malah masih aja kerja harusnya kan kamu enak tidur di rumah mewah itu tapi kamu malah..."
"Udahlah, Ma. Aku ini seneng kerja di sini soalnya di rumah itu kan sepi ya jadi aku bosan," balas Gendis.
"Terserah kamu deh, oh iya kamu ngomong sama Ibu mertua kamu dong kamu bilang ke dia suruh belikan Mama rumah yang bagus masa iya sih Mama masih aja tinggal di kontrakan kecil kayak gitu sedangkan besan Mama itu kan orang kaya," pinta Linda.
Gendis terdiam, di satu sisi ia merasa sedih karena hingga kini ia belum bisa membahagiakan ibunya itu namun di sisi lain ia juga tak enak bila ia tiba-tiba meminta pada Aura untuk membelikan rumah yang mewah untuk ibunya itu. Jika ia melakukan hal itu sudah pasti ia akan otomatis dicap sebagai menantu yang matre. Sejak awal saja ia sudah merasa ibu mertuanya itu tak suka padanya apalagi jika ia sampai meminta ini itu ia tak tahu apa yang akan dikatakan oleh ibu mertuanya padanya.
"Maaf, Ma. Tapi aku nggak enak kalau minta ini itu ke mereka, lagian Mama sendiri juga kenapa malah waktu itu jodohin aku sama si Satrio itu kalau tau ujung-ujungnya begini. Mama harus tau kalau dia itu bukan suami yang baik," balas Gendis yang berakhir ia kena cubit pelan dari ibunya di lengannya itu.
"Kamu tuh gimana sih si Satrio si Satrio, kamu itu sekarang istrinya jadi kamu harus hormat sama dia! Kamu juga harusnya bersyukur kamu sekarang bisa tinggal di rumah yang mewah bisa makan enak terus tiap hari dan juga kamu tidur di kamar yang mewah!"
Dalam hati Gendis menggerutu bahagia apanya, namun Gendis hanya diam saja daripada ia kena marah ibunya lagi kan?
"Sekarang Mama minta uang ke kamu, Mama nggak punya uang nih buat beli makan aja nggak ada."
Gendis langsung mengambil tasnya lalu ia memberikan sejumlah uang pada ibunya itu namun ibunya malah mengatakan jumlahnya tak seberapa ia ingin uang yang banyak agar bisa cukup untuk satu bulan.
"Pokoknya kamu harus minta sama suami kamu, kan dia itu pasti uangnya banyak mana mungkin dia nggak ada uang," paksa Linda seenaknya.
Gendis terdiam dan hanya menghela napas. Mana mungkin ia meminta uang pada suaminya itu yang ada malah ia akan kehilangan harga dirinya di depan Satrio.
Akhirnya pulang dari kerja Gendis pergi ke rumah ibunya untuk memberikan uang yang banyak ke ibunya itu hasil dari ia kas bon di bosnya itu.
Malamnya
Satrio masuk ke kamar dan ia bingung melihat Gendis yang sedang memakai lipstik di bibirnya itu, dan penampilan istrinya malam ini sungguh berbeda. Istrinya itu mengenakan gaun sabrina warna hitam di atas lutut dan jujur saja ia terpesona melihat istrinya itu. Bahkan saking terpesonanya ia sampai ternganga lalu ia mengelap air liurnya itu ke bajunya sendiri.
"Lu mau pergi ke mana dandan lebay gitu?" tanya Satrio sambil duduk di tepi tempat tidur menghadap ke arah istrinya itu.
"Aku mau ke pesta, Mama yang minta aku untuk datang. Kamu sendiri kenapa belum siap-siap?" balas Gendis tanpa menoleh ke arah suaminya itu.
Satrio tambah bingung lagi mendengar pertanyaan dari istrinya itu. Iya juga ya, jika Gendis saja diminta untuk ikut ke acara pesta lalu mengapa ia tak diajak oleh ibunya itu? Pesta apa yang akan dihadiri oleh ibunya dan juga Gendis? Dan entah mengapa perasaannya tak enak kali ini seperti akan ada sesuatu yang akan terjadi tapi entah apa ia tak tahu.
Satrio menggelengkan kepalanya pelan meski istrinya tak melihatnya karena masih saja sibuk dandan.
"Nggak gua nggak ikut," balas Satrio lirih.
Gendis terdiam sejenak mendengar ucapan suaminya itu. Satrio tak ikut? Tunggu dulu! Jika Satrio saja yang anak kandungnya ibu mertuanya itu tak ikut ke pesta itu lalu mengapa justru ia yang malah ikut pergi dengan Aura? Apakah pesta itu khusus untuk perempuan saja? batinnya bertanya-tanya.
"Kok bisa sih kamu nggak ikut?" tanya Gendis sambil menoleh ke arah suaminya itu dan ia tak mendapatkan jawaban apapun karena suaminya itu hanya diam saja menatapnya dengan lekat-lekat.
Gendis merasa bingung melihat seperti ada kekhawatiran di mata suaminya itu, tak biasanya suaminya seperti itu. Ada apa sebenarnya? batinnya resah.
"Kamu kenapa, Sat?" tanya Gendis.
"Nggak tau."
Namun obrolan mereka harus berakhir karena Gendis pergi setelah ia dipanggil oleh Aura untuk segera berangkat ke pesta katanya agar tak terlambat.
Entah mengapa hati Satrio tak tenang akhirnya ia pun ikut pergi membuntuti mobil ibunya dengan motornya itu. Ia terus mengikuti mobil tersebut hingga mobil itu berhenti di rumah keluarga Nyonya Claudia.
"Mau ngapain Mama dan Gendis di rumah Tante Claudia?" tanya Satrio heran.
Sementara itu di dalam rumah mewah itu, acara sudah di mulai dan terlihat Gendis dan juga Aura sedang makan malam bersama Claudia di meja makan.
"Selamat malam, Tante Aura?" Rendra menyapa tepat di belakang Gendis yang membuat Gendis terbelalak mendengar suaranya itu.