Kehujanan

1132 Kata
Tubuh Gendis tiba-tiba saja bergetar hebat mendengar suara itu, suara pria itu seperti tak asing baginya. Seperti ia pernah mendengarnya. Karena rasa penasaran itulah ia akhirnya menoleh dengan gerakan yang sangat pelan. Dan sebelum ia dapat melihat pria di belakangnya itu Satrio datang dan menyuruhnya untuk pulang ia menurutinya saja meski ia bingung. Aura melongo melihat kepergian Gendis yang tiba-tiba itu, sedangkan Rendra langsung marah dan menggebrak meja membuatnya kaget setengah mati dan menunduk takut. "Dasar nggak becus kalian semua!" teriak Rendra penuh amarah sambil berlalu pergi. Claudia menatap Aura dengan tatapan marah. "Aura, apa kamu tau apa yang sudah kamu lakukan itu? Kenapa kamu nggak bisa atur anak kamu itu?" serunya marah. "Maaf, tapi..." Aura memberanikan diri menatap wajah Claudia namun ia langsung menunduk lagi setelah ia mendapatkan tatapan kesal dari Claudia. Claudia mendelik marah. "Maaf kamu bilang? Seenaknya anak kamu itu bawa Gendis pergi dari sini dan kamu cuma bilang maaf?" ia menjeda kalimatnya itu. "Aura kamu harus tau ya, susah payah saya menyusun rencana untuk mempertemukan anak saya dengan menantu kamu yang kampungan itu tapi anak kamu malah hancurin seenaknya!" teriak Claudia membuat Aura terkejut karenanya. "Aura kamu juga harus ingat ya, saya udah ngasih uang yang sangat banyak ke kamu jadi kamu harus tanggung jawab! Kamu harus bawa menantu kamu itu ke sini lagi paham kamu!" "I...iya..." "Sekarang juga kamu pulang sana! Saya udah muak lihat muka kamu itu! Pergi sana!" seru Claudia mengusir Aura. Aura pun pergi dari rumah itu dengan kesal. Claudia pergi ke kamarnya Rendra, saat ia masuk ke dalamnya kamar itu gelap gulita. Ia terkejut mendengar teriakkan marah anaknya itu. Saat ia melangkah ia hampir saja tersandung barang-barang yang berserakan di lantai. Sudah biasa anaknya seperti itu jika sedang marah. "Sayang? Udah ya cukup marahnya, Mama janji kok dia pasti dateng lagi ke sini temuin kamu. Mama tadi udah ngancem Aura jadi dia pasti takut sama kita," bujuk Claudia. "Dia itu cantik dan seksi banget tadi, hampir aja aku bisa ngobrol sama dia tapi malah..." Rendra menghentikan ucapannya itu lalu ia membanting vas bunga ke lantai. PRANG! Claudia terkejut dibuatnya, ia marah karena anaknya itu terus saja menghancurkan barang-barang yang sangat ia sukai itu. Dengan susah payah dan butuh biaya yang banyak untuk membelinya namun anaknya malah menghancurkannya dalam sekejap. "Rendra cukup!" bentak Claudia saat ia mendengar vas bunga dilempar lagi oleh anaknya itu. Cukup sudah! Kesabarannya sudah habis sekarang. "Mama tau aku ini cinta banget sama Gendis dan tadi aku hampir aja dapetin dia harusnya malam ini menjadi malam pertama buat aku dan dia tapi malah bocah ingusan itu ganggu rencana aku, Ma!" teriak Rendra lagi. "Semua orang yang mencoba menghalangi aku dekat sama Gendis harus aku habisi dan itu termasuk Satrio juga, Ma!" "Cukup! Kamu tau kamu nggak akan bisa lakukan hal itu, Rendra! Kamu bisa habisi orang lain tapi bukan Satrio!" teriak Claudia. Rendra pun terdiam jika ibunya sudah mengatakan hal tersebut itu artinya ia tak boleh keluar jalur. "Maaf." "Sekarang kamu istirahat, kamu bisa pergi ke kamar Mama dulu biar kamar kamu ini dibersihkan sama art. Sebentar lagi istri kamu pulang jangan sampai dia lihat kamar kalian ini berantakan gara-gara ulah kamu." "Iya, Ma." Rendra pun menuruti ibunya untuk pergi ke kamar ibunya itu selagi kamarnya dibersihkan oleh asisten rumah tangga di rumah mewah mereka itu. Sementara itu Sampai di rumah, Aura berteriak kesal karena kejadian tadi itu. Ia sampai dimaki-maki oleh Claudia seperti ia tak punya harga diri saja. Kalau saja bukan karena uang ia tak akan sudi datang ke rumah mereka. "Awas aja kalau sampai Satrio dan Gendis udah pulang saya akan ngasih pelajaran ke mereka berdua terutama ke si Gendis. Gara-gara dia saya malah dicaci maki sama Claudia yang menyebalkan itu." Di saat yang sama, saat dalam perjalanan pulang ke rumah, Satrio dan Gendis malah kehujanan sehingga mereka terpaksa berteduh di sebuah rumah yang sepertinya kosong. Mereka masuk ke dalamnya meski Satrio mati-matian harus melawan rasa takutnya itu. Mau bagaimana lagi tempat itu satu-satunya untuk mereka bisa berteduh dari guyuran hujan yang sangat deras di luar sana. "Sebenarnya di sini serem sih tapi ya udahlah ya mau gimana lagi kita nekat pulang pun nggak bisa nanti malah jadi sakit," ujar Satrio. "Iya." Gendis hanya mengangguk saja, tubuhnya kini basah kuyup dan ia merasa malu karena gaun minim yang ia kenakan itu sehingga membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas ia juga berusaha untuk menarik-narik ujung gaunnya agar bisa menutupi pahanya itu meski tetap tak bisa. Dan semua itu ternyata tak lewat dari pandangan Satrio yang melirik ke arahnya terutama ke arah pahanya itu. Satrio akhirnya berinisiatif untuk melepaskan jaketnya lalu ia menutupi paha Gendis dengan jaketnya itu. "Nggak usah, Sat nanti kamu malah kedinginan," tolak Gendis lirih. "Udah lu pakai aja, lagian gua ini kagak kedinginan kok," balas Satrio. Tiba-tiba saja terdengar suara petir yang membuat Satrio kaget dan refleks ia memeluk Gendis yang membuat istrinya itu terkikik geli. "Kenapa malah ketawa emang ada yang lucu?" protes Satrio tak terima ia ditertawakan oleh istrinya itu. Gendis geleng-geleng kepala lalu ia tertawa lagi membuat suaminya berdecak kesal. Lagipula ia tak merasa heran bila suaminya itu terkejut seperti itu karena ia tahu betul suaminya itu penakut sekali. Ia jadi heran salah apa ia di masa lalu sehingga ia mendapat suami yang pengecut seperti Satrio itu. "Jangan cari kesempatan dalam kesempitan!" tegur Gendis saat ia melihat Satrio yang akan memeluknya lagi. Satrio lagi dan lagi berdecak kesal lalu ia menjauh dan berbaring di atas lantai tanpa alas apapun. Hujan sangatlah deras jadi tak mungkin mereka bisa pulang secepatnya maka ia sekarang ingin tiduran saja. DUARRRR CETAAAAAAR! DUAAAAAAR! Petir terus menyambar membuat Gendis merinding juga sekarang, ia pun beringsut mendekat ke arah suaminya itu. "Sat, kamu jangan tidur dong aku kan takut," rengek Gendis yang entah mengapa ia mengeluarkan sisi yang tak pernah ia perlihatkan pada siapapun itu. Satrio yang mendengar istrinya merengek manja seperti itu mendadak ia terbangun lalu ia memeluk pinggang Gendis dan ia tak keberatan saat istrinya itu menyadarkan kepalanya di bahunya itu. "Lu tenang aja gua nggak tidur kok," ucap Satrio dengan lirih sambil mengusap punggung istrinya itu, menenangkannya. DUAAAAAR DUAAAAARRR! Gendis mengeratkan pelukannya itu karena saking takutnya. Tanpa mereka tahu ada Rendra yang mengintai mereka berdua dari dalam mobilnya itu. Ia memukul setir dengan keras karena marah dan tak terima melihat Gendis dan Satrio yang sedang bermesraan itu. "Seharusnya saya yang ada di posisi si bocah ingusan itu," geram Rendra lalu ia memukul setir mobilnya lagi. "Awas kamu Satrio, kamu akan habis di tangan saya kalau kamu berani ikut campur urusan saya dan Gendis." Terdengar suara seperti barang yang jatuh membuat Satrio terkejut dan ia berteriak ketakutan sambil menyebut nama ibunya. "Mamaaaa aku takut!" seru Satrio seperti anak kecil. Gendis langsung melepaskan pelukan mereka karena ia merasa ilfil pada suaminya itu. "Dasar penakut kamu!" ejek Gendis tepat sasaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN