Aura Marah Besar

1129 Kata
Gendis dan Satrio hingga kini mereka masih berteduh di rumah kosong itu karena hujan belum reda. Jadi mereka terpaksa tetap berada di sana padahal Satrio sangat kekuatan setelah ia tadi mendengar ada suara barang yang jatuh. Gendis berdecak kesal melihat tingkah suaminya itu yang masih saja memeluknya karena takut. Sebenarnya ia merasa risih namun ia membiarkannya saja karena walau bagaimanapun Satrio adalah suaminya bukan orang lain. Mendadak Gendis kembali teringat saat di pesta tadi, ia masih teringat akan suara pria yang berada di belakangnya itu. "Sat?" panggil Gendis pada suaminya itu. "Hm?" "Laki-laki yang tadi itu yang ada di pesta itu kamu kenal sama dia? Siapa dia?" "Oh itu, dia namanya Rendra anak tunggalnya Tante Claudia. Dia orangnya aneh banget udah gitu..." mendadak Satrio menghentikan ucapannya itu dan ia jadi penasaran sekarang. Satrio duduk tegak di samping Gendis lalu ia menatap tajam istrinya itu membuat Gendis menatapnya bingung. "Kenapa tiba-tiba lu tanya soal Rendra? Lu suka sama dia?" tanya Satrio kesal entah mengapa ia pun tak tahu. Gendis menelan ludah gugup lalu ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Enggak lah kamu tuh gimana sih mana mungkin aku bisa suka sama dia, pernah ketemu aja enggak kok dan lihat orangnya aja belum! Kamu tuh ada ada aja ya." Satrio menghela napas lega, ia senang mendengarnya. "Lagian tuh orang udah punya istri jadi lu kagak ada kesempatan kalau misal suka sama dia," ujar Satrio. "Nggak, Satrio. Aku tuh nggak ada naksir sama dia dan lagi aku ini bukan pelakor!" bantah Gendis kesal karena ia dituduh sembarangan seperti itu. "Ya udah deh." Mereka berdua terdiam sejenak, hanya ada suara hujan yang menemani keduanya. "Terus, maksud kamu apa tadi kok tiba-tiba kamu masuk ke rumah itu dan kamu nyuruh aku ikut kamu? Kan kamu bilang kalau kamu nggak diajak Mama ke pesta itu?" tanya Gendis memecah suasana. "Oh itu? Entah kenapa gua ngerasa kayak nggak enak aja entah itu cuma perasaan gua aja apa gimana gua juga nggak tau," balas Satria yang juga ia bingung dengan apa yang tadi ia lakukan itu. Tiba-tiba saja ia masuk ke rumah itu dan mengajak istrinya pergi dari sana. Gendis terdiam dan ia hanya menganggukkan kepalanya saja. "Udahlah lupain aja," ujar Satrio enteng. Namun dalam hati Gendis baru saja berpikir tentang bagaimana jika nanti ibu mertuanya itu akan marah pada mereka berdua karena tiba-tiba saja pergi dari sana. Sudah pasti ia yang akan banyak kena amukan dari Aura. Ia menghela napas panjang, memang ternyata sangat sulit sekali menjadi menantu dari keluarga kaya, sangatlah rumit. Hujan reda jadi Satrio dan Gendis pun memutuskan untuk pulang lagipula sekarang ini sudah hampir pagi. Di perjalanan pulang Gendis memeluk Satrio tanpa sadar namun suaminya itu membiarkan saja dan tak merasa risih ataupun marah. Tak lama mereka telah sampai rumah, di ruang tamu Aura tampak marah menyambut kepulangan mereka berdua. Ia menatap Gendis dengan tajam membuat menantunya itu menundukkan kepalanya takut. Gendis sangat terkejut dan merasa iba saat melihat suaminya ditampar oleh Aura. "Kalian dari mana aja jam segini baru pulang? Dan kamu Satrio, kamu tuh ngapain tadi ngajak Gendis pulang hah? Acara pesta kan belum selesai kok kamu main bawa pergi istri kamu seenaknya sih? Mama kan nggak ngajak kamu terus ngapain kamu pergi ke rumah Tante Claudia? Kamu tuh kok jadi anak nggak punya sopan santun gitu sih?" bentak Aura marah. Namun Satrio hanya diam saja dan menunduk takut. "Dan kamu Gendis, ngapain kamu juga malah ikut Satrio pergi tadi? Harusnya kamu tetap di sana kan Mama ngajak kamu ke pesta itu, harusnya kamu ini bisa bersikap hormat dong ke mereka. Kita kan tamu, tamu yang diundang jadi kita nggak bisa tiba-tiba pulang seenaknya dong. Kamu tau nggak, tadi Mama tuh ngerasa nggak enak ke mereka, Mama malu sama mereka gara-gara ulah kamu! Gara-gara kamu juga semuanya jadi berantakan tau nggak!" kali ini Aura marah pada Gendis. "Mama udah, yang salah itu bukan Gendis tapi aku! Kalau Mama mau marah, marah aja ke aku jangan ke dia karena dia itu nggak salah apa-apa," balas Satrio membela istrinya itu. Aura tertawa mengejek. "Oh jadi kamu sekarang udah berani lawan Mama dan kamu malah berani belain istri kamu itu? Udah jelas kok dia itu juga salah karena ikut kamu tadi!" bentaknya. "Tapi, Ma..." "Satrio, sekarang juga kamu masuk ke kamar kamu!" perintah Aura. Satrio melirik ke arah Gendis dengan iba lalu ia menghela napas panjang dan terpaksa ia pun pergi dari sana. Gendis masih menunduk takut dan masih berada di ruang tamu bersama ibu mertuanya itu. Aura bersilang d**a. "Gendis kamu harus ingat satu hal ok? Lain kali kamu nggak boleh begitu lagi!" "Iya, Ma," balas Gendis lirih. "Oke sekarang kamu juga boleh pergi, istirahat." Gendis mengangguk pelan kemudian ia berlalu pergi dari hadapan Aura. Dalan perjalanan menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas itu Gendis terus berpikir keras. Mengapa bisa ibu mertuanya itu sangat marah sekali pada mereka berdua hanya karena Satrio mengajaknya pulang? Ia terus bertanya-tanya namun ia tak menemukan jawabannya. Namun itu sangat mengganjal di hatinya. Gendis kemudian masuk ke dalam kamar dan ia terkejut melihat Satrio yang bertelanjang d**a di depannya. Wajahnya bersemu merah lalu ia langsung meletakkan tasnya ke meja lalu ia bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia tak ingin suaminya itu salah paham karena melihatnya yang sedang tersipu malu seperti itu. "Lagian aku tuh kenapa sih mesti malu segala dia itu kan masih bocah umurnya aja jauh dari aku, ngapain aku malu coba!" Gendis memarahi dirinya sendiri. Setelah selesai mandi dan memakai handuk kimono, Gendis pun masuk ke kamar lagi untuk memakai daster berbahan kaos yang membuatnya nyaman jika dipakai tidur itu. Ia berani memakai baju di kamar karena ia melihat Satrio yang langsung membelakanginya saat tahu ia masuk ke kamar itu. Sementara itu Karena ia sedang sangat marah dan kecewa akhirnya Rendra pergi ke hotel dan ia menemui wanita simpanannya itu. Di sana ia langsung disambut oleh pemandangan yang luar biasa panas yaitu wanita itu hanya mengenakan baju tidur tipis dan sudah siap berbaring di atas ranjang. "Kok lama banget sih, Pak? Saya udah dari tadi loh nunggu Bapak di sini?" ujar wanita itu yang langsung kena tampar oleh Rendra yang membuatnya meringis kesakitan. "Kamu itu cuma penghibur saya kamu nggak ada hak untuk komentar apapun tentang saya paham kamu!" bentak Rendra dan perempuan itu mengangguk takut. Rendra langsung melucuti pakaiannya dan melakukan hal panas dengan wanita itu. Di luar kamar hotel itu, ada Karin yang menahan tangisnya dan terus menatap lurus ke arah kamar yang suaminya sewa itu. "Sampai kapan aku harus kayak gini terus?" gumam Karin lirih, air matanya akhirnya turun tanpa bisa ia tahan lagi. Hatinya sangat sakit seperti tercabik setiap harinya. Padahal ia istri sahnya lalu mengapa Rendra malah tak pernah menyentuhnya dan justru tidur dengan banyak wanita? Ia selama ini dianggap apa? Apa hanya sebagai istri pajangan saja?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN