Karin pun pergi dari sana dengan membawa hatinya yang hancur lebur. Ia masuk ke dalam mobilnya lalu ia memukul-mukul setir mobilnya itu sambil menangis histeris. Betapa hatinya terasa sangat sakit karena pengkhianatan suaminya itu. Tunggu, apakah bahkan bisa disebut pengkhianatan jika suaminya saja tak pernah membuka hati untuknya selama ini?
Lagi dan lagi Karin memukul setir mobilnya lalu ia menyandarkan tubuhnya ke jok mobilnya.
"Kenapa bukan aku yang ada di hati kamu, Mas? Dan kenapa harus Gendis yang ada di hati kamu itu? Aku nggak akan terima apalagi dia itu musuh bebuyutannya aku, Mas," ucap Karin disela-sela isak tangisnya itu.
Karin memukul jok dengan keras lalu ia kembali berteriak marah.
Di saat yang sama ternyata Satrio tak bisa tidur karena matanya terus melirik ke arah Gendis yang sudah terlelap di sampingnya itu. Ia menelan ludah ketika matanya tertuju ke arah daster istrinya yang terangkat itu hingga memperlihatkan paha mulus istrinya itu. Bagaimana ia bisa tidur jika ia melihat godaan yang sulit ia lewatkan itu. Tubuhnya terasa panas karena nalurinya ingin sekali menyentuh Gendis namun ia tahu ia tak boleh melakukannya karena ibunya melarangnya untuk menyentuh Gendis walaupun mereka sudah menikah. Alasannya adalah karena ia masih sekolah.
Lagi dan lagi akhirnya Satrio memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, ia ingin mandi air dingin agar pikirannya jernih lagi.
Besok paginya
Aura yang berada di meja makan itu ia terlihat tak sabar seperti sedang menunggu seseorang.
"Aduh tuh anak dua pada ke mana ya kok malah belum ke sini sih untuk sarapan. Apa mereka berdua belum bangun apa ya?"
Aura masih menunggu hingga jam setengah tujuh pagi. Tak lama akhirnya ia bisa melihat anak dan menantunya itu yang pergi ke meja makan ikut gabung dengannya.
Gendis menunduk saat ia ditatap tajam oleh ibu mertuanya itu.
"Kalian berdua tuh kenapa kok telat ke sininya?" tanya Aura kesal lalu ia mendelik marah ke arah Satrio dan Gendis.
"Tadi malam kalian nggak habis melakukan yang aneh aneh kan? Kalian tau lah maksud Mama," tuding Aura.
Satrio dan Gendis sontak menggeleng kuat-kuat.
"Nggak mungkin lah, Ma. Kan kata Mama aku ini nggak boleh aneh aneh karena masih kuliah. Lagian kok bisa sih Mama punya pikiran kayak gitu?" balas Satrio.
"Baguslah kalau gitu, iya kamu itu masih kuliah jadi jangan aneh-aneh! Dan juga kamu Gendis, kamu juga harus nolak kalau Satrio aneh aneh ke kamu ok? Kamu itu harus masih virgin."
"I...iya, Ma."
Selesai sarapan Satrio dan Gendis pergi berangkat bersama ke kampus boncengan motor Satrio.
Aura ingin bersantai, ia duduk di ruang tamu sambil baca majalah.
"Kalau Gendis udah nggak perawan kan saya juga yang kena marah Rendra si anak nggak jelas itu," gumam Aura lalu ia bergidik ngeri karena ia tak ingin kena marah Rendra dan Claudia seperti tadi malam itu.
Pintu rumahnya terbuka dan masuklah Linda, besannya itu yang membuat Aura terkejut melihatnya. Aura langsung meletakkan majalah itu ke atas meja.
"Ngapain kamu ke sini?" tanya Aura sinis. Terlihat jelas bahwa ia tak menyukai besannya itu datang ke rumahnya.
Linda duduk di sofa sambil tersenyum lebar.
"Duh Jeng Aura lagi ngapain nih sepertinya sedang santai ya?" sapa Linda dengan sok ramah namun besannya itu malah mendengus kesal.
"Udah nggak usah basa basi kamu mau ngapain ke sini? Mau minta uang ya? Kalau gitu coba kamu sebutkan nominalnya berapa nanti saya transfer tapi kamu buruan pergi karena saya ini eneg lihat muka kamu itu!"
Linda ikut marah karena Aura yang malah sombong padanya itu.
"Sombong banget kamu, Aura. Mentang mentang kamu itu nikah sama orang kaya jadinya sombong kayak gitu. Tapi nggak apa-apa sih aku juga sebenarnya nggak sudi jadi besan kamu tapi kamu maksa mau besanan sama saya ya udah terima resikonya!" bentak Linda marah. Jadi tanpa basa basi ia pun meminta uang sebanyak dua puluh juta pada besannya itu.
Aura melotot marah. "Enak aja uang segitu banyaknya untuk apa? Nggak akan saya ngasih kamu uang sebanyak itu!" tolaknya mentah-mentah.
Linda berdecak kesal ia pun tetap memaksa hingga akhirnya Aura pun setuju ia bilang akan transfer nanti.
Tiba di kampus, Vanya merasa marah melihat Satrio yang lagi lagi berangkat ke kampus membonceng Gendis. Tentu saja ia tak terima akan hal itu, ia merasa cemburu akut. Tangannya mengepal kuat dan matanya mendelik marah. Ia sudah menyusun rencana untuk bisa memberikan pelajaran pada Gendis.
Siangnya, Satrio bersama anak buahnya itu berada di dalam gudang yang kosong dan di hadapan mereka ada murid laki-laki yang berjongkok dan mereka semua menyiramkan air ke badan si murid itu hingga basah kuyup lalu mereka semua tertawa mengejek mahasiswa itu sedangkan mahasiswa yang dibuli oleh mereka itu hanya diam saja tak berani melawan mereka tentu saja.
"Dasar cemen lu!" ejek Satrio sambil menendang mahasiswa itu lalu ia pun berlalu pergi diikuti oleh teman-temannya itu.
Gendis yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala, ternyata suaminya itu masih juga belum berubah malah semakin parah menindas murid lain.
Pulang dari kampus, Satrio kembali dihadang oleh gerombolan orang asing saat ia melewati jalan yang sepi itu. Karena ia merasa takut ia pun berusaha untuk kabur dengan putar balik namun mereka tetap mengikutinya dengan kecepatan penuh. Mereka terus kejar-kejaran namun naas Satrio pun terjatuh dari motornya, ia jatuh ke semak-semak sambil meringis kesakitan. Ia bahkan hampir menangis saat merasakan tubuhnya kesakitan apalagi saat mereka semua menghampiri dirinya membuatnya bergetar ketakutan. Ia heran ia salah apa pada mereka sehingga ia terus dikejar oleh gerombolan tak ia kenal itu. Atau jangan-jangan mereka itu adalah orang yang sama seperti yang waktu itu menghajarnya sehingga ia berakhir di rumah sakit itu? Tapi untung saat itu ia ditolong oleh Gendis. Habis sudah ia sekarang! batinnya takut.
"Ampun, Bang! Gua minta maap dah walaupun gua kagak tau gua salah apa ke kalian," ucap Satrio memelas sambil mengatupkan kedua tangannya itu meminta ampun dan belas kasih mereka.
"Eh lu harus tau ya kita kita ini orang suruhannya bocah yang udah lu buli tadi di kampus paham lu! Makanya jadi anak jangan sok jago, ternyata lu nggak punya nyali sedikitpun!" ejek para gerombolan itu.
Setidaknya Satrio sudah tahu siapa mereka sebelum ia akhirnya ditendang, dipukul oleh mereka hingga ia babak belur lagi.