Balas Dendam Karin

1107 Kata
Satrio kini dirawat di rumah sakit lagi dan Gendis lah yang membawanya ke sana karena tadi yang menolongnya adalah istrinya sendiri. "Makanya kamu nggak usah lah cari ribut sama orang nih jadi begini lagi kan ujung-ujungnya," omel Gendis yang duduk di kursi samping tempat tidur suaminya itu. Satrio berdecak kesal karena mendengar omelan istrinya yang sejak tadi tak ada hentinya itu. "Lu kalau masih mau ngemeng mending lu pulang dah mendingan gua sendirian di mari puyeng gua denger lu ngomel mulu dari tadi," usir Satrio. Gendis menghela napas panjang. "Dikasih tau bukannya..." "Bukannya apa hah? Kamu itu gimana sih lihat tuh suami kamu lagi sakit gitu tapi kamu malah nyalahin dia terus harusnya kamu itu sebagai istrinya kamu hibur dia dong!" tegur Aura yang tiba-tiba saja masuk ke kamar rawat Satrio lalu ia mendelik tajam pada Gendis. Gendis menunduk takut dan mengatakan maaf pada ibu mertuanya itu. "Sekarang juga kamu pulang sana biar Mama aja yang jagain anak kesayangan Mama ini. Pulang sana buruan!" Gendis mengangguk pasrah ia kemudian melirik ke arah Satrio. Namun Satrio tak peduli pada Gendis, ia malah langsung menangis pilu saat ibunya memeluknya dan menanyakan kondisinya dan mengapa bisa sampai babak belur seperti itu. Dan seperti biasa ia akan mengatakan yang berlebihan dan omong kosong berbohong pada ibunya tentang bagaimana ia melawan musuhnya itu hingga ia babak belur seperti itu karena musuh-musuhnya sangat banyak jadi ia kehilangan tenaga. Dan seperti biasa Aura akan percaya pada anaknya itu dan mereka menangis bersama. "Iya, Ma. Aku tuh anak baik tapi malah tiba-tiba aja mereka cegat aku dan langsung nyerang di jalan. Aku nggak salah apa-apa jadi aku bales dong tapi aku kalah jumlah makanya sekarang berakhir di sini, Ma," rengek Satrio dengan manja sambil mengerucutkan bibirnya itu manja. "Aku takut, Ma. Aku takut kalau mereka dateng dan mukul aku lagi nanti aku babak belur lagi kan sakit, Ma." "Utututu sayangnya Mama udah ya, Nak. Kamu nggak usah takut kan ada Mama di sini," ucap Aura sambil menghapus air mata Satrio. Gendis menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah ibu dan anak itu yang sangatlah berlebihan itu lalu ia pun pamit pada mereka namun mereka tak peduli. "Dasar bocil labil absurd anak mami pula. Gimana mungkin aku punya suami yang cemen kayak dia sih?" Gendis hingga sekarang masih saja heran dengan hidupnya itu. Gendis pun memutuskan untuk pulang saja karena sekarang sudah ada Aura yang menemani Satrio di rumah sakit lagipula ia kan sudah diusir tadi. Sementara itu Rendra menggebrak meja yang ada di dalam ruangan kerjanya itu di hadapan Claudia. Ia terlihat sangat marah sekali lihat saja matanya yang merah seperti itu. "Kurang ajar! Aku nggak bisa terus menerus diem aku harus bertindak, Ma!" seru Rendra sambil berbalik menghadap ibunya itu. "Ma, tadi aku lihat si bocah ingusan itu dan Gendis neduh di rumah kosong. Ternyata bocah itu bawa Gendis ke sana, Ma. Aku nggak bisa terima lihat mereka lagi mesraan si bocah b*****t tengik itu malah cari kesempatan meluk meluk Gendis!" "Ya udah kamu tenang dong, Nak. Mama minta kamu tenang ok?" bujuk Claudia. "Tenang, Ma? Aku mana bisa tenang kalau Satrio deketin Gendis kayak gitu! Aku harus lakuin sesuatu kalau perlu aku mau nyingkirin Satrio," tekad Rendra. Claudia melotot marah mendengar ucapan anaknya itu. "Rendra kamu dengerin Mama! Kamu itu nggak boleh gegabah, kalau kamu mau nyingkirin si Satrio itu sama saja kamu cari mati dan kamu mau hancurin keluarga kita. Inget ya, Rendra kamu nggak boleh menggagalkan rencana kita yang udah kita susun rapi dari lama ok?" Rendra diam saja mendengar pesan tegas dari ibunya tersebut. "Aku pergi, Ma." "Mau pergi ke mana kamu?" tanya Claudia meminta penjelasan. Rendra menghela napas panjang lalu ia menggaruk tengkuknya yang gak gatal. "Mau cari angin bentar aja kok," katanya. "Ok, tapi kamu harus ingat pesan Mama kamu nggak boleh melakukan sesuatu tanpa persetujuan atau perintah dari Mama!" "Iya, Ma." Rendra tampak muak mendengar pesan tersebut dari ibunya berkali-kali. Saat Rendra baru saja keluar dari ruangan kerjanya itu ia berpapasan dengan Karin. Ia tampak kesal melihat istrinya yang memberikan senyuman padanya. Ia pun melanjutkan langkahnya tanpa peduli pada istrinya itu. Karin tampak sedih lalu ia menghela napas kasar. "Mas, tunggu! Aku mau bicara sama kamu, Mas!" pinta Karin dengan tegas dan ia berhasil membuat suaminya itu menghentikan langkahnya itu. Karin tersenyum senang lalu ia berjalan menghampiri suaminya itu dan berdiri tepat di hadapannya. "Kamu mau pergi ke mana, Mas?" tanya Karin dengan nada bicara yang lembut. "Bukan urusan kamu!" balas Rendra dingin dan ia tak sudi menatap ke arah istrinya itu. Karin memaklumi suaminya itu, ia tersenyum pahit. "Tapi udah dua tahun loh, Mas. Dan hari ini hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita," lirih Karin. Rendra tetap saja tak bereaksi apapun wajahnya tetap datar. "Terus?" "Tolong kamu jangan pergi dulu, aku udah siapin kue dan kado buat kamu, Mas. Kamu mau ya?" pinta Karin dengan penuh harap. "Saya sibuk nggak ada waktu untuk omong kosong macem begitu," tolak Rendra dan ia pun berlalu pergi meninggalkan Karin yang terguncang itu. Karin menghapus air matanya lalu ia pergi ke kamarnya dan menangis sejadi-jadinya di dalam sana. Ia juga memecahkan barang-barang dengan putus asa. Dan tangisannya semakin keras saat ia melihat ke arah meja yang isinya kue itu. Ia pun juga membuang kue tersebut ke lantai lalu ia terduduk di lantai dan memeluk lututnya sendiri. Hati Karin sangatlah sakit karena penolakan suaminya yang sudah tak bisa ia hitung karena terlalu sering itu. Bayangkan saja ia sudah menyiapkan semuanya kue ulang tahun pernikahan mereka itu namun malah hanya sia-sia saja. "Ini semua gara-gara si Gendis perempuan pelakor itu!" seru Karin tiba-tiba. Ingin sekali Karin membuat perhitungan pada Gendis untuk membalas sakit hatinya itu. Lima hari kemudian Karin datang lagi ke kampus tepatnya ke kantin, ia berjalan menuju ke arah warung Gendis lalu ia menoleh ke arah kanan dan kiri memastikan tak ada orang yang melihatnya di sana. Setelah ia memastikan kondisi telah aman, ia pun bergerak masuk ke warung tersebut lalu ia mencari tempat bekal makanan milik Gendis. Dan ketika ia menemukannya ia pun membuka wadah tersebut lalu ia menggantikannya dengan wadah yang sama. Setelah itu ia pun menjauh dari sana dan bersembunyi. Tak lama Gendis pun datang lalu ia mulai makan karena sekarang sudah siang, sesuap dua suap akhirnya ia merasa gatal yang tak tertahankan hingga akhirnya ia pun pingsan. Satrio yang kebetulan pergi ke warung Gendis ia pun terkejut dan panik melihat istrinya yang pingsan itu lalu ia angkat dan segera bawa ke rumah sakit dengan mobilnya. Karin tampak tersenyum puas. "Rasain kamu, Gendis dasar kamu pelakor kamu gatel sih orangnya jadi rasain deh tuh kamu gatel gatel gitu! Moga aja kamu nggak selamat deh ya," ucapnya senang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN