* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Aku beneran tidur sama kamu, kan?” Dalam sehari, speertinya ini sudah ke tiga atau ke empat kalinya Deril menanyakan pertanyaan yang sama. Shara yang sedang mengeringkan wajahnya dengan tisu wajah—karena ia baru selesai cuci muka dan hendak melakukan rutinitas sebelum tidurnya alias skin care-an dulu—jadi menoleh, dengan mata menyipit menatap kekasihnya yang masih duduk di sofa seperti semula. “Kamu udah tanya, loh, ya, tadi.” “Mastiin aja,” Deril menjawab dengan mengedikkan bahu. “Siapa tahu kamu tiba-tiba berubah pikiran.” Mendengar kalimat tersebut, Shara makin mengernyit bingung. “Ini kita cuman tidur. Cuman tidur like literally tidur, kan, R

