1.5

3336 Kata

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Hari senin pertama sebagai siswa baru. Upacara pertama di SMA. Kadang Deril merutuki kenapa dia terlahir tinggi—ralat, tinggi banget—dan membuatnya jadi pawang bagi teman-teman untuk berteduh kala upacara dilaksanakan. Bagaimana tidak? Karena ia punya tinggi badan nomor 1 paling tinggi di kelas, membuat Deril jadi harus baris di barisan paling depan. Deril juga pingin sesekali, tuh, kayak Agas yang selalu berteduh di balik punggungnya. Apa lagi cowok-cowok yang dengan nyamannya baris di paling belakang, terus tiba-tiba di tengah upacara kabur biar gak ikutan acara sampai akhir. Lah Deril mana bisa? Hari ini, masih seperti hari-hari biasanya. Gak ada

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN