[Sometimes , someone comes into your life, so unexpectedly, takes your heart by surprise and changes your life forever
- viacuriano.com -]
Entahlah kenapa aku bisa berakhir duduk berduaan dengan Elang di restoran tepi pantai ini. Suara debur ombak membuat kami berdua memandang ke arah lautan yang tenang. Tapi hari ini aku mendapati sisi lain dari Elang Segara.
Oh My God, apa ini berarti aku memaafkan dan menerimanya?
"Papa pengin gue sekolah bisnis di New York dan ngejalanin bisnisnya di sana, dan gue enggak pernah mau," katanya, "karena gue punya bisnis sendiri di sini," lanjutnya sambil membuka bungkus sedotan dan membuangnya begitu saja ke lantai.
Aku manggut-manggut sembari memungut bungkus sedotan tadi dan menyimpannya di atas meja, "Berarti sekarang kamu mau jalanin bisnis papa kamu?" tanyaku hati-hati.
Elang menerima pesanan makanan yang datang. Ia mengedikkan bahunya, "Mungkin, ditambah lagi ada cewek yang enggak pengin gue ada di hidupnya. Jadi buat apa gue tetap di sini?" ujarnya penuh sindiran.
"Issh...," jawabku sambil membersihkan sendokku dengan tisu dan mengeluarkan cairan pembersih tangan.
Elang melihat ke arah pergelangan tangan kiriku, ia tersenyum kecil ketika melihatku seakan menyembunyikan rasa maluku—ya karena aku menggunakan gelang pemberiannya waktu itu, dan aku lupa kalau aku sedang memakainya sekarang.
"Rei, gue belum pernah ngerasa begini ... sumpah! Rasa pengin ketemu, pengin nyentuh lo—walau cuma bisa nyentuh tangan lo aja, pengin cium bibir lo—walau lo akan tampar gue lagi dan lagi. Gue enggak tahu kenapa rasa 'ingin' ini begitu kuat, Rei!" lontarnya, "dan gue happy banget ngeliat lo pakai gelang pemberian gue—itu artinya lo kangen gue kan?" tudingnya percaya diri. "Kasih gue kesempatan untuk perbaiki semuanyanya, Rei ... please," ujarnya setengah memohon.
"Entahlah, Lang. Aku—masih merasa kalau kita enggak mungkin cocok," jawabku menggeleng
Elang menarik napasnya sambil menunduk dan melihatnya membuatku meleleh. Jari-jarinya memijat pelipisnya dengan matanya yang terpejam, seolah-olah ia benar-benar terluka dan tidak tahu harus melakukan apa lagi. Tapi aku tidak bisa berkata lain selain membiarkannya menjauh dariku atau hidupku akan benar-benar berantakan kalau membiarkannya masuk lagi—walaupun hatiku sendiri tercabik-cabik saat ini karena menolaknya.
Elang mengangkat kepalanya, matanya yang cokelat menatapku. Matanya teduh dan menyejukkan, aku rela tenggelam di dalamnya demi mendapatkan keteduhan itu. Ia berdiri dan memakai topi hitamnya, menyembunyikan matanya, "Oke, kalau gitu, ini kedua kalinya gue pamit...," katanya. "Gue belum minta maaf karena pertemuan kita yang buruk—mungkin di kehidupan lain kita bisa bertemu baik-baik, Rei," ujarnya benar-benar terdengar tulus dan frustrasi. "Maafin gue...," katanya membuat dadaku bergetar.
Aku terdiam sembari tanganku menjulur kaku ketika Elang menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Sepertinya ini benar-benar salam perpisahan. Apa aku tidak akan menyesal membiarkan Elang memutar tubuhnya dan pergi menjauh menuju pintu keluar restauran ini? Jantungku berdebar hebat ketika sosoknya tidak terlihat lagi.
Kemudian seperti ada kekuatan kasat mata yang membuatku berdiri dan bergegas mengejarnya. Sosoknya masih terlihat sedang berjalan cepat menuju ke mobilnya. Ada dorongan kuat sehingga mulutku meneriakkan namanya dengan keras, "ELAAANG!" Semoga kata hatiku tidak salah kali ini.
Ia menoleh dengan ekspresi bingung bercampur senang, dan dalam hitungan detik tubuhku sudah menabraknya. Ia meraihku dalam pelukannya dan kakiku melingkar begitu saja di pinggangnya. Sumpah ini diluar kendaliku, aku menyembunyikan wajahku di lehernya dan merasakan napasnya di leherku. Kami berdiam sesaat dengan posisi berpelukan seperti itu. Tidak peduli dengan belasan pasang mata yang memperhatikan kami.
Wajahku menjauh dan memandangnya, "Apa kamu akan kembali lagi ke sini karena aku?"
Elang mengulum bibirnya seraya tersenyum sumringah dan mendongakkan kepalanya ke atas. Ekspresinya benar-benar senang dan terlihat real. "Thanks God!" gumamnya, "gue janji balik lagi demi lo, Bu Lurah," ujarnya seraya menurunkanku dan mencubit hidungku.
***
Elang membuatku setuju untuk ke apartemennya—lagi-lagi membuatku harus izin tidak bekerja—dengan alasan agar aku bisa membantunya mengemasi barang-barang keperluannya pergi. Ia akan pergi kurang lebih satu minggu lamanya. Setelah satu koper selesai dikemas, aku duduk di ruang tamunya dan Elang duduk di sebelahku. Ia meraih tanganku dan memainkannya.
Aku menghela napas panjang sambil menaikkan bahu. "Kamu langit dan aku itu bumi—."
"Gue baru tahu nama lo Bumi, gue kira Kirei...," selorohnya sambil menciumi jari-jariku, membuat darahku berdesir lebih cepat.
Aku terkekeh ringan mendengar celetukannya, "Lang...."
"Ssshh ... Langit dan Bumi itu saling melengkapi tahu enggak? Lagian lo itu matahari buat gue—menerangi dan menghangatkan...," cetusnya sembari menarikku ke dalam pelukannya, "daaan Langit butuh Matahari" lirihnya membuatku meleleh dan terkekeh sekaligus mendengar gombalannya.
Aku menjauhkan diri dan menatapnya, "Ih! Aku enggak nyangka kamu jago ngegombal."
Dia mengangguk sambil pamer lesung pipi dengan senyumnya yang lebar, menatapku intens dan dalam. Hingga aku harus membuang wajahnya untuk mengalihkan pandangannya sehingga ia mengaduh protes, "Kenapa sih?"
"Jangan lihatin aku kayak gitu."
Matanya kembali padaku, dengan lesung pipinya yang menyebalkan itu, "Kayak gimana?"
Aku pun beranjak ke arah jendela apartemen Elang dan melihat pemandangan di luar sana dari lantai 31. Apartemennya mungkin sepuluh kali lebih besar dari punyaku. Ruang tamunya luas, ada dua kamar tidur, desain minimalis modern yang maskulin membuat apartemen Elang memang terlihat mewah. Lalu lintas kota yang padat di bawah sana menjadi pemandangan sehari-harinya. Suara langkah kaki berderap membuat jantungku berdegup kencang. "Rei...," suaranya bergetar.
Aku memutar tubuhku dan menatapnya dengan mendongak sedikit, Elang semakin dekat—meraih pinggangku dan menariknya hingga tidak meninggalkan jarak—wajahnya menunduk sampai aku merasakan napasnya menerpa wajahku, bibirnya hanya berjarak beberapa inci saja dari bibirku. Matanya bergerak-gerak—sampai akhirnya hanya fokus pada bibirku saja, "Gue butuh lo, Rei," tangannya menyentuh rahangku, membuatku seperti tersengat listrik.
"Lang...." Aku rasa aku mendesahkan namanya saat tanganku menyentuh tangannya di rahangku dan membiarkan bibirnya menyentuh tipis bibirku—sampai akhirnya bibirnya membimbingku sampai ke langit, membuatku terbang melayang.
Dengan susah payah aku menelan ludah dan masih membiarkan bibirnya mengguncang jantungku dengan sangat dahsyat. Kepalanya bergerak ke kanan kiri dan sekarang kedua tangannya menangkup rahangku dengan kuat, menahan kepalaku tetap di tempatnya sementara ia makin memperdalam ciumannya. Lututku lemas dan dadaku berdebar kencang menikmati hangatnya bibir Elang.
Salahkah kalau aku memilih bahagia dengan menerimanya menjadi bagian dari hidupku?
***