"Tidak. Kau tidak akan pergi kemanapun. Aku tidak mengizinkan," tandas Erland menatapnya tajam. Eleana menggemakan tawa. "Kau pikir, kau siapa? Sampai melarangku seperti itu, Erland?" "Kau istriku, Eira!!" pekiknya seraya menggenggam tangan Eleana. "Aku bukan istrimu. Aku hanya pemuas nafsumu, Er. Apa kau lupa, jika selama ini kau hanya datang untuk menghamiliku. Aku, aku kau jadikan pabrik pembuatan anak." Eleana berusaha melepaskan genggaman tangannya yang semakin erat. Tubuh Erland menegang. Tak mungkin secepat itu, Eleana mendapatkan memorinya kembali. Ia mengira jika istrinya akan amnesia dalam waktu lama. "Ei, dengarkan penjelasan aku dulu." "Lepas. Aku akan pergi selamanya darimu dan anak-anak," cetus Eleana seraya melepas paksa cekalan tangannya. Erland mengusap wajahny

