Semalaman, Erland tak bisa tidur karena mengurusi istrinya yang jatuh sakit. Ia terus mengompres keningnya dengan telaten. Melihat wanita yang ia cintai tak berdaya seperti ini, membuatnya merasa tak berguna. Erland gagal membujuk Eleana untuk diperiksa. Untungnya, wanita itu masih mau makan setelah dibujuk rayu olehnya dan Bi Ela. "Mau muntah," lirih Eleana membuka matanya yang berair. Dengan sigap, Erland menyibak selimut dan menggendong istrinya ke kamar mandi. Ia memegang pinggang Eleana untuk menopang tubuhnya yang lemas. Setelah memuntahkan isi perutnya, Eleana mencuci wajah dan meninggalkan Erland begitu saja. Ia masih mampu berjalan tanpa meminta bantuan dari siapa pun. Meski tubuhnya sudah sangat tidak karuan. "Ei! Eira!" teriak Erland yang langsung memegang kedua lengan is

