MJM-24

1922 Kata

Eleana mengusap jejak air mata yang mengalir di pipinya. Ia berusaha terlihat baik-baik saja. Jangan sampai para bawahan Erland mencurigainya. Setelah menguasai diri, ia melangkah mendekati pagar hitam yang menjulang tinggi. Satpam rumah segera membukakan pintu untuk sang nyonya. Ia merasa heran dengan nyonya mereka yang biasanya menyapa menjadi pendiam. Tatapan matanya terlihat kosong, entah apa yang terjadi sebenarnya. "Mommy...," rengek Emmanuel yang sudah lama menunggunya. Ia memeluk Eleana yang bergeming di tempat. Eleana tidak boleh lemah. Wanita itu harus kuat demi kelima anak Eira dan bayi dalam kandungannya. Tangannya terulur mengelus puncak kepala Emmanuel. Ia merasa iba pada nasib anak-anaknya. Tidak seharusnya, mereka juga ikut menjadi korban kebodohan Erland. "Kita masuk,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN