Langkah kaki tegas beranjak dari ruang ganti menuju ruang untuk menerima tamu perusahaan. Jovi mengangkat sedikit dagunya saat berjalan. Baginya ini sudah seperti sebuah kebiasaan. Dimana dengan begitu ia terlihat berani, tegas, dan yakin dalam setiap mengambil langkah ataupun keputusan. “Ada apa Steve?” tanya Jovi. Ia menatap tajam pada Steve yang duduk santai di atas sofa. Steve tersenyum kecil. “Perasaan, kita udah cukup dekat. Kenapa kamu masih saja bersikap formal sekali?” Jovi menghela nafas berat. Entah mengapa pria di depannya ini begitu sering bersikap seperti ini akhir-akhir ini. Bersikap seenaknya sendiri, Jovi pun menatap dengan lirikan kesal. “Aku nggak ngerasa dekat sama kamu.” Steve tersenyum kecut, merasa disisihkan dengan cara yang menurutnya tak seharusnya. Ya, baga

