Tak Tahu Lagi

1007 Kata
Seragam SMA sudah dikenakan Gavin pagi ini. Ia merasa sudah siap. Tas dan kunci motor juga sudah dibawa di tangan.Sedikit agak mengantuk sebenarnya, karena semalam ia sempat tak bisa terpejam karena ulah Jovi. Dengan langkah yang pasti, Gavin menuju meja makan. Seperti biasanya meja makan, dihuni dirinya dan sang papa. Tak ada lagi yang lain, meski jumlah anggota keluarga mereka bertambah. Papanya, Kevin Armano mulai menyesap kopi hitam pekat yang cenderung begitu pahit. Katanya itu meningkatkan semangat di pagi hari. Tapi, bagi putranya yang pernah mencicipi. Itu tidak lebih dari sebuah minuman yang tidak enak. Memangnya dengan minuman seperti itu, semangat bisa didapat dari mana. “Sudah beberapa hari ini Jovi nggak pernah makan bareng sama kita!” ucap Kevin meletakkan gelas kopinya. Putranya, Gavin, hanya hening sambil melanjutkan kegiatan di meja makan. Bibirnya bahkan tidak sedikitpun terbuka untuk membalas ucapan papanya barusan. Ia sebenarnya sadar kalau Jovi tak pernah muncul untuk makan bersama, baik itu pagi atau malam, dan itu terjadi sejak dirinya masuk kamar Jovi untuk menunjukkan sedikit emosi, hanya sedikit. “Kenapa nggak kamu coba panggil dia?” tanya Kevin. Gavin tentu saja mematung sambil menatap papanya. “Nggak mau!” Pak Kevin menghela nafas. Ia merasa sulit menelan roti selai sarapannya. Harusnya dirinya tidak kaget kalau mendengar Gavin bicara singkat. Hanya saja, untuk kali ini saja. Pak Kevin berharap anaknya bisa sedikit diajak kerjasama. “Papa nggak akan maksa. Biar papa aja yang manggil Jovi. Entah, nantinya siapa yang akan jadi anak papa kalau papa udah tua!” Pak Kevin meletakkan sisa rotinya di atas piring, dan mendorong kursinya agar ia bisa berdiri untuk bergerak memanggil Jovi. “Tunggu!” Gavin pada akhirnya harus berubah pikiran. Ia meletakkan roti yang akan disantapnya. “Biar aku aja!” Pak Kevin menahan senyum kemenangan. Ya, itulah putranya yang sebenarnya tak tega kalau papanya harus susah payah. Gavin bergerak menuju kamar Jovi yang ada di lantai atas. Ia melihat pintu kamar seseorang yang kata papanya sudah jadi adik angkatnya itu. Tangannya pun mulai mengetuk. Jovi yang ada di dalam kamar, mulai bergerak. Dengan baju tidur yang masih menempel di tubuhnya. Ia mulai bergerak membuka pintu. Lalu sepasang matanya yang dingin dan tajam melihat Gavin ada dibalik pintu dengan seragam sekolah SMA, yang tentunya membuat gadi muda begitu kesal karena iri. "Ngapain kamu kesini. Aku nggak bikin kegaduhan yang ganggu kuping tetangga kan!" ucap Jovi menyambut kemunculan Gavin. Ia begitu datar saat bicara. Gavin masih mematung. Ia menatap Jovi dengan mata tak berkedip. Pertama kalinya, ia melihat gadis dengan rambut berantakan seperti ini. Jangan tanya bagaimana cara berpakaian seorang Jovi yang bar muncul di balik pintu. Mungkin saat dipanggil tadi, Jovi sedang berada di atas tempat tidur dan tak peduli atau sadar kalau bajunya sedikit tidak benar. 'Sebenarnya apa yang dipikirin cewek ini dengan baju kurang bahan dan compang camping kayak gini. Apa jangan-jangan dia punya otak buat jadi w*************a,' batin Gavin. Ia pun terpaksa menghela nafas. Bingung harus merasa kesal, tapi disisi lain ia juga resah. Saliva tertelan sebelum akhirnya beberapa kata yang terangkai di otaknya bisa terucap di bibir. "Ayo sarapan bareng!" ajak Gavin. Ia berusaha fokus menatap mata Jovi saja. Tak mau melihat ke arah lain. Melihat Jovi hanya diam. Gavin coba membujuk. "Papa yang minta." Masih diam dengan wajah datar, Jovi membalas hanya dengan anggukan. Gavin sudah bisa kembali ke meja makan dengan tenang. Ia duduk lagi di kursinya semula. "Mana Jovi?" tanya Papanya. "Bentar lagi juga kesini." Benar saja, beberapa saat kemudian Jovi datang. Ia hanya menambahkan kimono untuk menutupi bajunya yang sedikit terbuka. "Maaf pa! Aku baru bangun!" ucap Jovi sambil duduk di kursinya. "Iya! Nggak papa." Gavin melirik kesal. Ia tak mengira kalau papanya bisa sesantai itu melihat anak gadis jam segini baru bangun. 'Rasanya dunia ini nggak adil,' batin Gavin merasa iri. Ia kesal dengan tanggapan dan respon papanya yang biasa-biasa saja pada Jovi. Harusnya ada sedikit rasa tak terima yang bisa ditunjukkan papanya karena Jovi bersikap seenaknya sendiri. ** Di sekolahnya, Gavin merasa sedikit kacau. Pikirannya tidak tenang dan terganggu gara-gara membangunkan Jovi tadi pagi. Ia ternyata sulit melupakan. Bahkan tanpa disuruh, otaknya sudah menyimpan memori tentang hal itu dengan sangat baik dan detail sekali kalau Gavin sewaktu-waktu ingin mengingatnya. Gavin Armano yang memang terkenal diam dan tak suka banyak bicara, akhirnya memutuskan untuk ingin pulang saja. Karena hari ini, ada banyak guru yang absen dan membuat kelas sudah seperti pasar menurutnya, dan ia tak suka. Karena papanya juga adalah seorang yang cukup punya nama, sebagai donatur utama di sekolahnya. Gavin terkadang memanfaatkan itu untuk sedikit berbuat seenaknya sendiri. Apalagi dia pintar dan cukup berbakat dan berprestasi. Hingga beberapa orang yang mengenalnya akan gampang sekali ditaklukan. Gavin memutuskan pulang lebih awal. Ia mendatangi ruang kesehatan sekolah, berpura-pura kalau tubuhnya merasa kurang sehat. Lalu tanpa merasa bersalah sedikitpun. Ia pun meminta izin untuk istirahat di rumah. 'Ini lebih baik,' batin Gavin sambil menyalakan mesin motornya. Berpikir untuk pulang ke rumah, dan menghabiskan waktu dengan membaca buku. Setelah sampai rumah Gavin langsung menuju perpustakaan pribadinya. Ia tak tahu kalau siang ini di perpustakaan itu ada orang yang menyelinap. Dilepas jaketnya dan meletakkan dengan sembarangan. Menuju langsung ke rak buku yang sedang ingin dibacanya. Nyatanya di sana, di rak buku itu, tampak Jovi sedang duduk di atas lantai dengan kedua lutut yang diluruskan. Ia juga memegang sebuah buku. Bisa dikatakan itu buku yang sedang ingin dibaca Gavin. "Ternyata kamu udah berani ya masuk sini!" ucap Gavin dan sontak membuat Jovi terkejut. Jovi pun segera berdiri bangun dan karena saking kagetnya ia menjatuhkan buku yang sedang dipegang tadi, dan itu membuat Gavin tak suka. "Jangan jatuhkan bukuku sembarangan!" Gavin melangkah mendekat ke arah Jovi untuk mengambil bukunya. Ia sedikit kesal dengan apa yang dilakukan Jovi barusan. "Maaf!" ucap Jovi sambil melangkahkan kakinya mundur. Di saat terkejut seperti ini, apalagi melihat ekspresi Gavin sedikit beda. Ia cenderung ketakutan sendiri, dan merasa lebih baik menghindar. Gavin menatap kesal. "Buku ini susah payah aku dapat. Buku lama yang udah jarang banget dijual. Kenapa malah kamu jatuhin sembarangan." "Maaf!" Jovi hanya bisa mengatakan itu lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN