Berbuat Baik

1002 Kata
Gavin dengan tatapan datar, mendekat ke arah Jovi dan memungut bukunya. Ia masih tampak begitu dingin. Tak suka sekali melihat Jovi menyentuh barang pribadinya tanpa izin. Memangnya dia siapa, adik angkat yang belum resmi ia akui. Satu sisi alisnya terangkat satu karena memikirkan itu. Jovi sendiri hanya bisa diam, dan menatap kaku. Matanya tak berkedip karena takut. Kedua tangannya saling meremas coba mencari ketenangan. Seiring detik kakinya coba mencari perlindungan dengan melangkah mundur, dan Gavin bisa melihat hal tersebut. Gavin menatap heran. Ia berpikir, apa separah itu trauma yang membekas dalam diri Jovi. Ya, mungkin karena sampai detik ini staff di rumahnya yang bertugas untuk Jovi selalu wanita. Papanya juga selalu mengultimatum dan mengingatkan kalau jangan ada staff pria yang mendekat pada Jovi. “Kamu takut sama aku?” tanya Gavin. Nada bicaranya begitu datar. Akan tetapi, bagi Jovi ia malah dibuat bingung untuk mengartikan nada bicara tersebut. Apa Gavin marah atau tidak. Tiba-tiba saja tatapan matanya tak setajam tadi. Hanya saja, Jovi tak mau melihatnya lama-lama. “Kamu masih mau baca buku ini?” tanya Gavin. Ia berusaha lembut, meski caranya kaku sekali seperti batang besi yang susah dibengkokkan. Jovi tak mau menjawab, hanya saja kedua tangannya yang saling meremas sudah mulai bebas di sisi masing-masing. Bagaimanapun wajah Jovi memang cantik, dan itu membekas di hati gavin. Pria tersebut merasa kasihan juga kalau melihat Jovi semurung ini. Apalagi sejak tahu kalau sebenarnya Jovi juga ingin kembali seperti dulu. Bisa berjalan dan melakukan hal lain yang sesuai dengan usianya. “Ini!” Gavin coba berdamai dengan keadaan. Diberikan pada Jovi buku yang sempat dipegang tadi. “Kamu takut sama aku?” tanya Gavin lagi. Jovi mengangguk. Detik itu juga Gavin tersenyum kecil. Hanya kecil, tapi andai saja Jovi mau melihat senyum yang tulus itu dan membawa ketenangan. Gavin begitu tampak bersinar dengan senyum tersebut. Karena selain sosok Gavin yang tidak banyak bicara, dia juga jarang tersenyum. Menurutnya senyum itu melelahkan urat syaraf dan tanpa ekspresi itu lebih baik, dan menghemat tenaga. “Jangan takut! Kita ini udah satu kartu keluarga. Jadi, nggak mungkin aku nyakitin kamu. Ini! Kamu masih mau baca buku ini nggak?” tanya Gavin. Akhirnya Jovi mau menatap Gavin, bergantian mengalihkan pandangannya ke arah tangan Gavin yang coba memberikan bukunya lagi. Bibir Jovi masih menguncup. Hingga perlahan meraih buku itu lagi, dan dengan suara seraknya, ia mengucapkan ‘makasih’. Gavin tidak menjawab, ia kemudian berbalik dan mengambil jaketnya dan tas yang dibuang begitu saja tadi. Lalu menghilang di pintu perpustakaan pribadinya. ‘Gavin Armano. Dia kelihatan seenaknya sendiri.’ batin Jovi lalu menatap buku yang sedang dipegangnya itu. ** Sore ini, musim penghujan masih bisa dirasakan. Gemericik airnya yang jatuh dari genteng, bisa terdengar dengan duduk di balkon kamar. Jovi sedang ada di sana. Dia sedang berusaha berdamai dengan keadaan malam itu. Bagaimanapun, baginya hujan memiliki cerita suram, mengingatkan malam kelabu yang merenggut nyawa seluruh keluarganya. “Hahhh …!” Gadis muda itu menghela nafas. Ia sungguh masih sulit menerima keadaan ini. Sampai detik ini saja. Ia belum pernah sekalipun ke makam keluarganya. Hanya saja, satu pertanyaan yang masih coba ia cari jawabannya. Sampai kapan ia akan terus begini. Bahkan untuk menyentuh air hujan saja ia kadang ketakutan. Mungkin tidak sehisteris dulu. Tapi, tetap saja ia belum bisa dikatakan normal. Bella masuk ke kamar Jovi untuk memberitahu makan malam sudah menunggu. Di meja makan sudah ada Tuan Kevin, papa angkatnya. Tapi, Jovi rasanya malas kesana. Hujan malam ini membuat dia tak semangat. Gavin yang kebetulan juga sedang keluar kamar, dan bermaksud akan pergi ke meja makan. Ia melihat pintu kamar Jovi terbuka, dan tak lama setelahnya keluar bibi Bella. “Jovi sedang apa?” tanya Gavin penasaran. “Duduk di balkon kamarnya Tuan!” “Apa dia udah makan malam?” tanya Gavin lebih lanjut. “Belum tuan. Nona Jovi malah belum makan sejak pagi tadi, kecuali sarapan roti selai.” Gavin menghela nafas lagi. Ia merasa Jovi seperti orang yang hanya menunggu mati. Apa itu yang dia mau. Gavin coba masuk kamarnya, dan akan mengajak Jovi makan malam bersama. Meski ada secuil perasaannya yang menentang agar dirinya tak melakukan itu. Memangnya ia sudah mengakui hubungan di antara mereka berdua sebagai saudara angkat. Gavin juga tak mengerti hanya saja kakinya lebih memilih melangkah masuk kamar Jovi ketimbang melanjutkan perjalanan ke meja makan. Melihat Jovi ada di balkon kamar. Gavin dengan hati-hati mendekat gadis itu. “Makan yuk! Papa pasti nungguin kita makan bareng!” ajak Gavin. Ia berusaha membujuk, entah caranya ini berhasil atau tidak. Jovi kaget mendengar suara Gavin ada di dalam kamarnya. Ia merasa tak percaya dan saat dirinya mencari sumber suara. Ternyata memang Gavin ada dan sedang berdiri di antara pintu balkon dan kamar. “Ga-Gavin!” Untuk pertama kalinya, Jovi akhirnya menyebut nama itu. “Aku pikir kamu nggak ngerti namaku,” sahut Gavin. Jovi masih diam. Melihat cara Jovi yang belum ada respon dengan perkataannya. Ia pun memberanikan diri mendekat, dan penuh dengan hati-hati. “Makan! Papa pasti udah nunggu!” Gavin kembali membujuk. Jovi menatap sekali lagi. Ia bingung harus makan atau tidak. Suasana hatinya tidak mendukung sama sekali. Gavin menggaruk rambutnya. Ia bingung menghadapi Jovi harus seperti apa. “Kamu pengen bisa belajar jalan ‘kan! Isi dulu perut kamu sama makanan yang bener. Emangnya nontonin air turun dari langit bisa bikin kamu kenyang. Terus dapat tenaga dari mana itu kaki biar kuat jalan sendiri.” Sungguh! Jovi sedikit emosi mendengar itu. Sejak ia masuk rumah ini, tak ada satupun manusia yang berani berceloteh menyalahkan apa yang sedang dilakukan. Kecuali membujuk dan merayu, seperti bocah yang sedang dirayu agar mau sekolah. Tanpa mengatakan apa-apa, Jovi mengambil alat bantu jalannya. Ia berusaha berdiri dengan kesal. Ingin menggerutu. Tapi, bukan kebiasaan yang baik menurutnya. Dua manusia yang sedang berinteraksi itu benar-benar memiliki ciri khas masing-masing dalam bersikap. “Mau aku bantu?” tanya Gavin. “Nggak!” “Ok! nggak papa. Kalau gitu kamu jalan duluan.” Gavin berusaha berbuat baik dengan caranya sendiri. Meski perbuatan baik yang dilakukan ternyata malah ditolak mentah-mentah oleh penerimanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN