Dengan susah payah sendiri, Jovi akhirnya bisa berjalan dengan alat bantunya hingga bisa keluar dari kamar. Sementara Gavin cukup memperhatikan dalam diam. Ia tak mau memberi bantuan, baik berupa ucapan maupun perbuatan.
Menuruni anak tangga, jangan tanya bagaimana sulitnya bagi seorang Jovi. Baru beberapa anak tangga saja, ia sudah merasa lemas. Tenaganya cukup banyak yang terpakai. Hingga membuat ia lelah sebelum sampai.
Gavin masih diam dan memperhatikan Jovi susah payah dengan alatnya untuk berjalan. Sebenarnya kakak angkatnya itu ingin membantu, tapi gadis di depannya itu kan merasa sangat kuat dan selalu ingin menampakkan dirinya tak butuh apa-apa. Kalau begitu ya sudah, memangnya Gavin bisa apa. Lanjutkan saja langkah kaki dan mendahului Jovi untuk menuruni sisa anak tangga yang masih banyak.
Jovi menarik nafas dari sela giginya yang menutup rapat, terdengar mendesis kesal.
“Kamu nggak mau bantuin aku?” tanya Jovi melihat Gavin yang akan meninggalkan dirinya dalam hitungan detik.
Gavin terhenti dan kemudian menoleh ke belakang yang ada Jovi di sana. “Nggak mau! Nanti kamu bisa histeris lagi kalau aku sentuh.”
“Aku!” Sesaat Jovi terhenti bicara. Ia memang belum terbiasa disentuh pria sejak malam petaka itu terjadi. Rasanya kalau ingat itu, apalagi kalau ada pria yang mendekat, bayangan mencekam yang hampir menghancurkan masa depannya seperti datang menyakiti hati. Ia merasa perlu belajar untuk melupakan kenangan buruk tersebut.
“Aku, aku mau belajar nerima sentuhan dari kamu!” jawab Jovi meski sedikit ragu.
Mendengar itu, Gavin tanpa berkata apa-apa lagi, langsung saja memberikan uluran tangan. Menatap dengan serius, seolah perbuatan lebih penting daripada ucapan, dan Jovi coba menerima.
Sampai di meja makan, betapa kaget seorang Kevin Armano, papa kandung Gavin sekaligus papa angkat dari Jovi itu, menatap tanpa kedip ke arah Jovi yang berjalan lebih dulu dengan jarak tak sampai satu meter dari Gavin.
‘Apa yang terjadi, kok bisa?’ tanya Pak Kevin dalam hati. Ia meminum air putih hingga tersedak.
“Kenapa Pa? Hati-hati!” ucap Jovi yang baru saja duduk di kursinya. Ia menatap cemas ke arah pak Kevin.
“Nggak kenapa-napa. Papa cuma kaget lihat kalian berdua muncul hampir barengan,” jawab Pak Kevin.
Gavin tetap tak berkata apa-apa. Ia merasa itu tak perlu dijelaskan. Yang penting ‘kan mereka bertiga makan bersama, dan Jovi mengisi perutnya. Jangan sampai gadis labil itu malah punya penyakit dalam hanya karena telat makan.
‘Merepotkan,’ batin Gavin. Ia pun berusaha melahap makan malamnya saja.
**
Makan malam telah usai, Gavin sedang berada di perpustakaan pribadinya. Ia begitu fokus, sampai-sampai saat papanya masuk ke dalam perpus. Dirinya tak sadar sama sekali.
“Gavin!” panggil papanya.
Gavin menoleh dan baru sadar ada papanya. “Papa! ada apa?”
Sesaat kemudian, mereka berdua memutuskan untuk bicara empat mata di dalam perpustakaan keluarga itu. Ad sebuah kursi sofa yang cukup nyaman untuk digunakan. Ditambah sedikit cemilan di meja yang selalu disiapkan oleh pembantu di rumah tersebut.
“Papa mau kamu jadi kakak yang baik. Papa kasihan banget sama Jovi kalau dia terus menerus seperti ini.”
“Bukannya dia udah lebih baik.”
“Kamu nggak lihat dia belum bisa barengan sama laki-laki. Terus tadi papa lihat kamu berhasil dekat sama dia. Papa pengennya …!” ucap pak Kevin dengan perlahan, namun langsung dipotong oleh Gavin.
“Udah deh Pa. Jangan minta jantung dong. Gavin nggak bisa kasih nurutin yang papa mau. Lagian yang tadi cuma kebetulan, dia mau deket sama aku,” sela Gavin. Ia tak suka papanya minta lagi dan lagi. Dirinya sudah coba berbuat baik. Kalau sudah begitu, ia harap jangan jadi minta lagi yang lain. Yang pasti akan merepotkan saja baginya.
Pak Kevin menghela nafas. “Tapi Gavin, dia itu secepatnya harus bisa kembali seperti dulu.”
“Kan ada dokter Ana, dia dokter yang papa mau secara khusus buat nangani Jovi kan.”
“Tapi, akan lebih cepat pulih kalau kita benar-benar bisa jadi keluarganya.”
Ucapan papanya barusan sangat malas didengar oleh Gavin disaat ia ingin baca buku seperti sekarang ini. Ia pun menutup buku yang dibawanya dengan kasar. Lalu memandang ke papanya.
“Gavin! Papanya Jovi yang udah bantuin kita pas sulit lho!” ucap pak Kevin lagi.
“Iya paham.”
“Terus?”
“Iya, papa kan mesti maksa kalau ngasih perintah.”
“Jadi?”
“Hemb!”
“Hemb!” Pak Kevin mengulang satu kata yang baru ia dengar. Ia mengulanginya dengan nada bingung dan bertanya.
“Iya!” jelas Gavin, dirinya lalu bangun dan berjalan ke rak buku lagi.
“Makasih ya Gavin. Sebenarnya papa juga lagi sibuk suruh orang menyelidiki kasus yang menimpa Jovi. Papa rasa ada yang mencurigakan terjadi di keluarga Chandra,” ucap Pak Kevin. Ia menunggu sebentar sambil merasakan kelegaan, karena Gavin menuruti keinginannya. Baru setelahnya, ia pergi.
Gavin juga tak mengatakan apa-apa. Ia mendengar hal yang dikatakan papanya tadi tentang Pak Chandra. Dirinya tahu siapa pria tersebut, tapi peduli amat dengan semua itu. Memangnya dia mau apa. Tak ada kepentingan sama sekali untuk hidupnya.
Sayangnya, rasa penasaran dan gara-gara teringat terus dengan bayangan wajah Jovi. Gavin yang sudah cukup bosan membaca buku di perpus, akhirnya memutuskan kembali duduk di sofa. Ia kemudian membuka laptopnya.
Mesin pencari dituju, sepasang matanya membaca berita dan artikel tentang tragedi yang terjadi di keluarga Jovi.
“Kalau cuma ngincer harta, harusnya para perampok itu nggak usah bunuh papa mamanya Jovi dan keluarga yang lain. Ini memang mencurigakan,’ batin Gavin. Ia pun menghabiskan malam itu di depan laptop.
**
Setiap pagi, Gavin merasa begitu aneh kalau harus sarapan bersama dengan Jovi. Satu meja dengan gadis itu saat pagi, sangat beda rasanya dengan saat makan malam. Entah harus seperti apa Gavin menyimpulkan perasaan tersebut. Hanya saja, dirinya merasa ada cara pandang yang aneh dari Jovi untuk dirinya.
Puncaknya pagi ini, saat akan berangkat sekolah. Ia yang sudah tidak tahan dengan Jovi. Apalagi mengingat gadis itu juga sudah mau bicara dengan dirinya. Gavin merasa lebih baik bertanya langsung dan itu terjadi sesaat usai papanya berangkat ke kantor lebih dahulu.
“Tunggu!” panggil Gavin saat Jovi akan pergi dari meja makan.
“Ada apa?”
“Apa ada yang salah sama aku kalau pagi gini. Kenapa kalau sarapan kamu sering lihat ke arahku?” tanya Gavin langsung pada inti masalahnya.
Jovi sedikit berpaling lalu menatap Gavin lagi. “Cuma perasaan kamu aja.”
“Sayangnya, perasaanku nggak pernah salah.”
Jovi menelan saliva merasa dirinya mendadak sulit bicara.
Karena merasa diacuhkan, Gavin pun menarik nafas panjang. “Aku udah berusaha jadi kakak yang baik, masak kamu nggak mau jadi adik yang baik.”
Mendengar itu, Jovi makin tajam menatap ke arah Gavin. Sudut matanya tanpa ragu melihat ke arah kakak angkatnya itu. “Aku, aku cuma iri lihat kamu pakai seragam. Itu aja, aku nggak bermaksud yang lain kok!”
**
Pikiran seorang Gavin benar-benar diusik oleh adik angkatnya. ia merasa beban sekali mendengar jawaban dari Jovi tadi pagi.
Sambil membereskan buku pelajarannya, ia masih saja berpikir apa yang terbaik untuk Jovi saat ini. Kalau untuk sekolah formal seperti yang ia lakukan. Memangnya gadis itu sudah bisa berinteraksi. Mengapa juga trauma yang diderita Jovi bisa begitu parah dan sulit dihilangkan.
Sampai pulang sekolah, dan Gavin melihat Jovi latihan berjalan lagi. Gadis itu masih seperti biasanya, selalu emosi dan ingin marah kalau sudah gagal latihan berjalan. Tidak betah rasanya Gavin melihatnya.
“Kenapa malam itu aku nggak mati aja sih! Kenapa juga nyawaku masih nempel. Kan kalau aku udah nggak ada di dunia ini, aku nggak perlu ngerasain hidup kayak gini!” ucap Jovi yang cukup jelas didengar oleh Gavin.
Dokter Ana segera mendekat. “Jangan bilang begitu, masa depan kamu masih panjang. Ayo semangat. kamu pasti bisa jalan lagi. Atau kalau kamu mau kita terapi lagi di rumah sakit”
“Aku bosen dokter kalau harus ke rumah sakit terus. Udahlah aku nyerah aja. Aku capek!” sahut Jovi merasa lelah. “Aku nggak mau belajar jalan lagi!”
Gavin mulai mendekat. “Kalau gitu nggak usah idup aja sekalian. Biar aku juga nggak capek lihat kamu capek. Emangnya di dunia ini yang ngerasa capek cuma kamu doang.”
“Kamu nyuruh aku mati sekarang?”
“Kalau kamu mau, silahkan! Tanah pemakaman juga masih luas kok.”
‘Aduh Tuan Gavin ngomong apa sih!’ keluh bibi Bella yang melihat pertikaian tersebut. Dirinya ingin melerai, tapi kapasitasnya tak mungkin untuk melakukan.
“Udah Gavin, biar saya aja yang bantuin dia ya,” ucap dokter Ana meredam suasana yang sedikit panas.
“Nggak usah dibantuin Dok! Dia aja nggak sayang sama nyawanya,” tambah Gavin lagi.
“Saya buatkan coklat dingin yuk Tuan Gavin!” bibi Bella berusaha membujuk. Tapi, Gavin bukan bocah dibawah umur yang bisa dengan mudah dirayu dengan hanya secangkir coklat dingin. Tentu saja dirinya malah acuh dan tak menanggapi perkataan Bibi Bella.
Gavin yang jarang tersenyum, malah berjalan makin dekat pada Jovi. Ia yang melihat gadis itu sudah penuh emosi di wajahnya, ikut berjongkok di lantai segaris dengan wajah Jovi. Lalu membisikkan sesuatu di telinga gadis tersebut.
“Susah kalau ketemu orang yang nggak sadar dirinya udah dapat kesempatan kedua. Padahal nggak semua orang bisa dapat itu,” bisik Gavin. Ia kemudian bangun dan pergi meninggalkan Jovi begitu saja.