Hubungan Kakak Adik

1523 Kata
Jovi berusaha tenang dan nyaman di atas tempat tidurnya. Tapi, ia masih kepikiran dengan perkataan Gavin tadi siang. Kesempatan kedua! Memangnya siapa yang dapat kesempatan kedua? Emangnya kesempatan kedua itu seperti apa. “Ah … kenapa dia ngomong kayak gitu sih! nggak jelas banget.” Jovi mengoceh sendiri. Ia merasa tak terima dengan ucapan Gavin yang kurang bisa diartikan olehnya. Gila Jovi memikirkan itu. Ia jadi tidak bisa tidur. Berusaha bergerak bangun. Diambil alat bantunya untuk berjalan dan keluar kamar. Satu tempat yang dituju, dan mungkin Gavin ada di situ. Perpustakaan pribadinya. Dengan langkah yang terburu-buru, Jovi berusaha agar segera sampai perpustakaan. Ia pun berusaha membuka pintu perpustakaan itu meski dengan susah payah karena hanya menggunakan satu tangan. Dan pintu akhirnya terbuka, Jovi masih melihat kekosongan di depannya. Mungkin karena suara pintu yang dibuka oleh Jovi barusan begitu berisik. Hingga Gavin yang memang ada di sana dan berada di salah satu rak buku. Akhirnya berjalan ke arah pintu masuk, dan ia pun bisa melihat Jovi berdiri dengan alat bantunya. Mereka berdua saling bertatapan. Belum ada yang mengeluarkan kata-kata untuk menyapa duluan. Wajah Jovi terkesan tak bisa senyum, ia bahkan tampak angkuh meski kalau diperhatikan tubuhnya sedang tidak berdaya. Berjalan saja dengan alat bantu, lalu apa yang perlu diangkuhkan dengan keadaannya itu. Gavin hanya melihat dengan kesal dan ekspresi wajah yang datar. Ia tak mau peduli. Gavin bergerak kembali ke rak tempatnya tadi. “Gavin!” panggil Jovi dengan lantang. Gavin berbalik dan menatap adik angkatnya itu. “Apa!” sahutnya singkat. “Maksud kamu ngomong tadi siang itu apa?” tanya Jovi. “Tadi siang!” Gavin mengulang kalimat itu. Tanpa merasa bersalah, ia malah berkata hal yang memuakkan bagi Jovi. “Aku lupa!” Jovi menghembuskan nafas panjang, mungkin karbondioksida yang dihembuskan itu berkali-kali lipat jumlahnya daripada saat ia bernafas tanpa bicara dengan Gavin. Pria itu lebih banyak membuat dirinya emosi, daripada merasa tenang. “Kamu abis kebentur rak buku. Atau buku-buku yang kamu baca itu bikin kamu lupa ingatan. Gimana bisa omongan tadi siang aja udah nggak ingat sih!” “Emang nggak ingat. Apalagi omongan sama kamu.” “Nyesel aku anggap kamu kakak yang baik!” imbuh Jovi sambil menghembuskan nafas panjang lagi. Emosinya diusahakan agar tetap stabil. Gavin tersenyum, tak disangka ucapannya tadi siang bisa membekas sampai harus ditanyakan. “Maksud kamu kesempatan kedua?” tanya Gavin. “Masak gitu aja nggak ngerti.” Dengan santai dan tak peduli lawan bicaranya yang sudah merasa darahnya telah mendidih dan naik ke kepala. Gavin malah mencari tempat duduk yang nyaman, dan menunjukkan kalau dirinya baru siap untuk diajak bicara. ‘Anak sama bapak, kenapa beda banget sifatnya!’ batin Jovi. Ia putuskan untuk mengikuti saja keinginan Gavin. Dilihat dari bahasa tubuhnya, pria itu seperti sedang mengiyakan untuk diajak bicara oleh Jovi malam ini, dan Jovi pun duduk tak jauh dari kakaknya berada. “Jelasin yang jelas. Kamu jangan bikin aku sia-sia datang kesini!” ucap Jovi. “Aku pikir kamu udah paham.” Masih coba bersabar Jovi menghadapi kakaknya tersebut. “Anggap aja aku nggak punya otak buat mikir.” Dirinya lalu melirik tajam pada Gavin. Ingin tersenyum mendengar perkataan barusan. Tapi, Gavin tetap berusaha datar, tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa. “Emangnya kamu nggak kepikiran, kenapa sampai sekarang masih aja hidup.” Jovi mendesis kesal. Ia butuh penjelasan bukan pertanyaan. “Baik, kalau kamu nggak mau kasih tau. Aku akan beneran mati besok. Tinggal loncat aja dari balkon kamar. Udah selesai semua urusan.” “Eh! Jangan!" cegah Gavin dan langsung membuat Jovi duduk lagi di tempatnya. "Aku cuma mau bilang, kalau kamu beruntung masih hidup. Mungkin itu adalah kesempatan kedua kamu buat ada di dunia ini. Jadi, anggaplah kamu terlahir lagi, dan sebagai sosok yang baru lahir, kamu harusnya belajar banyak hal!” akhirnya Gavin mau menjelaskan. Rasanya tak ada kalimat sebelum ini yang begitu kena dalam hati seorang Jovi. Perasaannya tersentuh dengan lembut, seperti ada bagian hati yang dibuka tapi tidak dengan paksa. Sangat beda dengan cara dokter Ana yang selama ini ia dapatkan. "Kenapa? Kenapa kamu bilang kayak begitu?" tanya Jovi. "Bukannya kamu cuma formalitas aja anggap aku adek. Semua itu karena Papa Kevin 'kan!" ucap Jovi. "Aku cuma nggak suka lihat kamu tiap hari emosi karena nggak bisa jalan. Bukannya semua itu emang butuh proses. Kamu nggak mungkin langsung bisa lari. Kamu kudu belajar berdiri dan jalan pelan-pelan. Baru bisa lari." Gavin mengatakan itu dengan begitu tenang. Ia harap itu saja sudah bisa menyadarkan hati Jovi. Berat kalau dirinya harus bicara lagi. "Kalau gitu, aku balik kamar dulu. Kalau kamu mau pakai perpus ini, silahkan." Gavin lalu bangun dari duduk ya dan berjalan langsung menuju pintu. "Gavin!" panggil Jovi yang langsung membuat langkah kaki Gavin terhenti. "Apalagi?" Jovi sedikit tersenyum dan menunjukkannya pada Gavin. "Makasih!" Gavin tak membalas. Ia hanya menatap saja lalu menghilang dari balik pintu. Meninggalkan Jovi sendirian di perpustakaan. *** Diam-diam Jovi melatih dirinya berjalan. Ia minta bantuan Gavin. Tanpa ragu ia memohon pada kakak angkatnya saat berdua saja di dalam perpustakaan. Dengan penuh perhatian, meski tidak disampaikan lewat kalimat. Karena Gavin lebih banyak diam. Pria itu hanya yakin satu hal. Selagi ada keinginan pasti ada jalan. Terbukti, itu bisa diterapkan pada Jovi. Di hari yang kesekian, pada akhirnya Jovi bisa jalan. Ia seperti sudah siap melihat dunia lagi. Kakinya sudah cukup kuat untuk menopang. Hanya saja atas saran dokter Ana, dirinya cukup berjalan biasa saja. Masih belum bisa atau bahkan belum boleh melakukan kegiatan yang berat. "Nggak papa, masih ada banyak hal positif yang bisa kamu lakukan," ucap Gavin yang baru saja selesai sekolah dan menemui Jovi. Ia duduk bersandar di kursi ruang tamu tempat dokter Ana menemui Jovi barusan. "Aku pengen bisa balet lagi." "Terus! Kalau kamu disuruh balet berpasangan pas pentas. Emangnya kamu bisa?" tanya Gavin. Seperti ada suara detik jam yang mengiringi diamnya Jovi. Gadis itu tidak kepikiran sampai situ. Ia diam dan berpikir cukup lama. Membiarkan Gavin dibuat menunggu. "Ya kan!" ucap Gavin lagi. "Eh, tapi kan!" sela Jovi sambil berpikir untuk mengatakan sebuah pembelaan. "Tapi apa? Kamu belum bisa dekat-dekat sama cowok," sahut Gavin langsung. "Udah kok. Aku udah bisa dekat sama kamu." "Nggak juga. Aku masih liat kamu takut sama aku." Jovi menghela nafas panjang. Bisa dikatakan susah-susah gampang bisa dengan Gavin. Memang masih ada jarak. Tapi, ia sudah berusaha. Sejauh ini dirinya tidak sampai berteriak kalau berdekatan dengan Gavin. Karena Jovi hanya diam. Gavin jadi merasa membuang waktu saja. Lebih baik dirinya bangun dan masuk ke kamar. "Mau ke mana Vin?" "Kamar!" "Sebentar. Ehm … selama ini kan kamu terus yang nyentuh aku duluan. Sekarang, biar aku yang nyentuh kamu duluan." Jovi menatap wajah Gavin begitu dalam sambil menggerakkan tangannya akan menyentuh pria tersebut. Gavin menatap datar tapi kaget juga mendengar perkataan adiknya. Sontak tangan Jovi dihentikan. "Kenapa?" tanya Jovi. "Aku mau ganti baju dulu." ** Cara bernafas yang santai seperti berusaha menikmati momen untuk diri sendiri yang sedang di bawah guyuran air dingin. Membuat segar meski dingin. Rasa lelah dan bosan sedikit demi sedikit pudar. 'Kok bisa Jovi punya pikiran begitu. Dia pikir aku bukan cowok normal,' batin Gavin mengingat hal yang terjadi tadi. Ia coba melupakan tapi tidak bisa. 'Dasar Gavin bodoh, dia mikir kalau aku ini kakaknya. Udah pasti segala jenis sentuhan hanya berdasarkan hubungan sodara.' Gavin berbicara sendiri. Ia merasa aneh dan tak bisa menjelaskan apa yang dirasakan saat ini dengan hal ilmiah seperti di buku yang sering dibaca. Selesai mandi, Gavin mengganti bajunya dengan kaos santai dan celana pendek berwarna gelap. Bermaksud keluar kamar untuk ke dapur, sekedar ingin meneguk air putih. Tapi, tiba-tiba keinginannya itu tidak jadi "Hahhh …!" Kakinya malah berputar kembali masuk kamar. Ia menuju tempat tidurnya dan jatuh disana. ** Perusahaan Manos Group, perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi. Beberapa bulan ini, tampak seorang pengacara hukum datang hampir setiap berapa hari sekali di perusahaan itu. Tak ada yang tahu apa kepentingan pengacara tersebut. Yang pasti resepsionis perusahaan Manos, selalu tahu kemana pengacara itu untuk dipersilahkan, dan saat sekretaris cantik bernama Sasya tahu orang itu datang. Maka, pintu ruang kerja seorang Kevin Adista Armani pasti akan terbuka lebar. "Silahkan langsung masuk saja Pak!" ucap Sasya kepada David, yang tak lain adalah pengacara kepercayaan Kevin. "Iya! Makasih ya!" David pun masuk, di hadapannya sudah ada Kevin, papa Gavin yang sudah menunggu dengan tidak sabar. Meski tangannya tampak sibuk memilih berkas. Tapi, Kevin cukup cekatan dan bisa fokus pada banyak hal. Ia tahu pengacaranya sudah datang dan ingin segera bicara. "Bagaimana. Apa sudah ketemu bukti untuk sesuatu yang mencurigakan itu?" tanya Kevin lebih dahulu. "Sudah. Kebetulan berkasnya juga sudah siap. Tapi, aku butuh satu orang dalam untuk ditanyai tentang kondisi keluarga besar dari Pak Chandra. Bagaimana hubungan diantara mereka." "Kalau itu ada satu orang yang bisa ditanyai. Pamannya Jovi. Bukan orang licik dan mungkin kalau dijelaskan bisa diajak kerjasama." "Kalau begitu aku minta alamatnya. Biar aku temui sendiri dia," pinta David. Segera saja Kevin memberikan alamat paman Jovi itu. Ia berharap dirinya memiliki alasan untuk membuka lagi kasus Jovi. Perasaannya mengatakan kasus itu cukup ganjil. Beberapa hal yang berkaitan dengan peninggalan keluarga Chandra juga seolah lenyap begitu saja. Ini bukan hal baik kalau Jovi berada di tangan yang salah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN