Gavin Rahardian Armano, putra tunggal dari keluarga Armano. Sangat dikenal sebagai pria pendiam yang punya banyak pesona. Jangan diragukan soal iq yang dimiliki. Andai dirinya mau, sudah pasti sekolah tempatnya menimba ilmu sekarang, akan memberikan beasiswa penuh padanya.
Hanya saja, ia menolak dengan alasan papanya adalah donatur sekolah. Sama saja bohong kalau donasi yang diberikan oleh papanya, pada akhirnya membuat dirinya bisa sekolah gratis.
Masalah pendidikan setelah SMA, beberapa kampus luar negeri sudah siap menampung. Gavin hanya tinggal memilih.
"Sombong juga kamu," ucap Jovi saat tahu hal itu. Ia mendengar cerita itu dari bibi Bella yang tahu sekali tentang Gavin.
Mereka berdua, Jovi dengan Gavin sedang berada di dapur. Menunggu coklat dingin buatan Bibi Bella. Mereka menunggu dengan sabar sambil berbincang-bincang.
"Silahkan nona, tuan!" Bella menyerahkan dua gelas coklat dingin. "Saya permisi dulu."
Gavin hanya memandang datar sambil meraih gelas coklatnya. Sementara, Jovi masih menyempatkan tersenyum. Hingga bibi Bella hilang darinya.
"Apa kamu selalu begitu?" tanya Jovi. Gadis itu mulai cerewet sejak dirinya bisa berjalan normal dan merasa dekat dengan Gavin. Mungkin memang sebenarnya Jovi itu seperti ini sikapnya.
"Apanya?" tanya Gavin pura-pura tak paham.
"Selalu kaku. Aku nggak pernah lihat kamu senyum." Ketus dengan lirikan tajam pada Gavin.
Gavin seketika menatap ke adiknya itu. Ia ikut melirik tajam, seolah Jovi mengatakan hal yang paling menyebalkan.
"Kamu udah lebih baik kan. Kenapa kamu nggak nyoba minta papa sekolah?" Gavin meneguk coklat dinginnya. Memberi solusi yang mungkin bisa membuat Jovi lebih baik.
"Aku baik, tapi belum siap."
Gavin menghabiskan langsung coklat dinginnya. Ia lalu menatap wajah Jovi. "Harus segera siap. Kamu mau sampai kapan nggak sekolah."
Jovi berpikir sejenak. "Di sekolah 'kan ada banyak laki-laki. Apa kau bisa berteman dengan mereka."
"Aku yakin kamu bisa. Gimana kalau. Sekarang coba sentuh aku dulu!" ucap Gavin yakin.
"Yang bener?"
"Iya!"
Jovi melirik, lalu menghadap tepat padanya. Untuk permulaan Jovi menarik nafas panjang. Bergerak tangannya ke bagian d**a Gavin. Telapak tangannya hampir mendarat di mana detak jantung Gavin terasa berdetak.
Sontak Gavin menggeser tangan Jovi. Dipegang lalu ditempelkan dengan cepat di pipinya. Matanya meredup tak melihat ke Jovi sedikit pun.
"Jangan pegang bagian itu!" pinta Gavin. "Pegang pipi aja!"
"Oh iya!" sambung Jovi yang tiba-tiba sungkan. Ia mendadak keluh seperti baru melakukan salah. Setelahnya Jovi coba tenang dan melakukannya lagi.
"Pegang pipi aja?"
"Iya!" jawab Gavin.
Detik berjalan pelan sekali. Jovi yang tadinya biasa-biasa saja malah cemas saat akan menyentuh pipi Gavin. Kali ini dia yang merasa grogi sekali.
"Coba cubit!" Pinta Gavin lagi, menyuruh mencubit pipinya.
Jovi mengeluh kesal dalam hati. 'Dikira gampang apa. Tadi udah bisa hampir aja pegang dadanya. Eh, malah disuruh pindah. Maunya apa sih dia!' batin Jovi. Ia memusatkan pikiran. Tapi, bersamaan dengan itu, papanya datang dan mengeluarkan suara panggilan.
"Jovi!!!"
"Eh! Papa!" Jovi menarik tangan langsung karena kaget dan duduk seperti semula, seperti tak terjadi apa-apa.
Gavin juga melakukan hal sama. Duduk normal menghadap meja dapur.
"Jovi! Papa kira kamu ada di mana?"
"Aku ada di sini kok Pa!" jawab Jovi.
Pak Kevin lalu melihat ke arah Gavin. "Kalian berduaan sejak tadi?"
"Iya!" jawab Gavin singkat.
Pak Kevin kemudian meninggalkan mereka berdua. Tapi, pandangan matanya kadang masih tertuju pada Gavin.
'Syukurlah kalau hubungan mereka main baik.' batin Pak Kevin.
**
Gavin merasa perlu melakukan sesuatu. Kalau Jovi hanya melatih dirinya untuk bisa berdekatan dengan Gavin. Gavin rasa akan sia-sia. Karena tentu saja terbiasa dengan Kakak sendiri itu hal yang lumrah.
"Hahhhhh …!" Pria yang masih remaja itu bersandar di tempat tidurnya. Mengeluh, menghembuskan nafas panjang lalu memejamkan mata tapi tak mengantuk. Tanpa sadar tangannya menyentuh bagian d**a yang hampir disentuh Jovi.
'Kenapa. Kenapa tadi rasanya deg-degan,' batin Gavin berbicara.
Gavin bangun lalu bergerak keluar kamar.
Saat itu yang diinginkan adalah Jovi bisa jadi gadis pada umumnya. Gavjn akan berusaha menyampaikan hal itu pada papanya sekarang juga.
'Tok tok tok!" Pintu ruang kerja papanya diketuk.
"Masuk!"
Gavin masuk dan langsung duduk di depan papanya. "Aku mau bicara."
"Tumben, ada apa?"
"Aku pengen Jovi sekolah Pa!"
"Sekolah! Mana bisa? Dia kan belum pulih."
"Kalau dia nggak coba buat sekolah. Selamanya juga nggak akan pulih Pa. Kalau cuma ngandalin Gavin. Gavin yakin dia nggak bakal bisa jadi kayak Jovi yang dulu. Cowok di dunia ini nggak cuma Gavin sama papa 'kan!"
Papanya, Kevin, tampak berpikir sejenak. Ia melepas kacamata yang sejak tadi dipakai untuk melihat pekerjaan.
Setelah menunggu, Gavin akhirnya mendengar papanya bicara.
"Baik, Jovi akan sekolah. Sekolah bareng sama kamu."
"Apa! Bareng Gavin?"
"Iya, kamu akan jagain dia!"
**
Sejak ada Jovi, hidup Gavin makin dipenuhi dengan banyak beban. Ketenangan yang dulu ia miliki seperti hilang entah kemana.
Pagi ini, entah di hari ke berapa sejak bulan berganti nama. Sejak Gavin mulai sering membonceng Jovi di motornya.
Seperti pagi ini, berangkat bersama dan berboncengan. Jovi juga berpegangan tangan cukup kuat di pinggang Gavin yang ramping.
Gavin hanya diam mendapat perlakuan itu. Ia berusaha untuk terbiasa meski awalnya sulit menerima.
Kadang berpikir perasaan tentang apa ini. Bisa sedekat ini dengan perempuan, tapi jelas perempuan ini adalah adiknya.
'Ada nggak teori yang bisa jelasin itu semua?" tanya Gavin pada hatinya sendiri.
Sekelebat bayangan dirinya bersama dengan Jovi muncul begitu saja. Mengganggu fokus Gavin melajukan motornya
'Jovi, kebersamaan ini rasanya semakin membuat perasaanku aneh.' batin Gavin.
Sementara itu, Jovi sendiri, sejak pergi dan pulang bersama dari sekolah bersama kakak angkatnya. Rasanya ia juga seperti memiliki hal lain yang mengganggu pikiran.
Tidak bisa dijelaskan perasaannya seperti apa. Yang pasti saat ini, ia merasa tak ingin melepas pegangannya pada pinggang sang kakak. Ia malah ingin memeluk erat dan erat.
Bahkan saat menatap punggung milik pria yang memboncengnya, rasanya ia juga ingin bersandar di sana. Entah bagaimana rasanya, Jovi sendiri belum pernah mencoba.
"Sudah sampai." Gavin memberi tahu
adiknya, kalau motor sudah sampai depan sekolah. Mesin motor pun dimatikan.
Jovi masih diam. Ia masih menatap punggung luas milik Gavin. Ada ilusi yang membuat dirinya bertahan dengan hal itu.
Gavin mulai kehabisan rasa sabar. Memangnya mau sampai kapan mereka berdua berada di atas motor terus.
"Jovita Zabrina. Kamu nggak mau masuk kelas!" kaget Gavin pada Jovi.
"Oh! Kita udah sampai ya." Jovi jadi kaget betulan. Imajinasinya barusan sungguh tidak manusiawi untuk dilakukan.
"Dari tadi." Sahut Gavin. Ia hanya bisa diam lagi menunggu adiknya itu turun dari motornya.