Jovi masuk kelas bersama dengan Gavin. Sebenarnya dirinya masih berusaha beradaptasi. Ia belum bisa dengan mudah bercampur dengan teman pria. Tempat duduk ia memilih ada di kursi yang lebih banyak murid perempuan.
Meletakkan tas dan berusaha bersikap biasa. Menghilangkan perasaan yang tadi mengganggu pikirannya saat boncengan dengan Gavin. Ia menarik nafas dalam.
'Ada apa sama aku. Ini nggak bener! Kenapa Tadi aku bayangin yang aneh-aneh,' batin Jovi. Tak lama setelah itu, seorang guru masuk, dan mulai pelajaran.
'Fokus Jovi, jangan mikir aneh-aneh. Keluarganya Gavin udah bantu kamu bangkit, dan jangan berharap lebih. Aku nggak boleh egois.' Sekali lagi Jovi meyakinkan hatinya. Ia masih tampak kalau di bangku dengan mata datar melihat lurus ke depan.
Guru yang mengajar di depan kelas jadi memperhatikan Jovi. Mendekat ke arah muridnya, dan menatap ke Jovi yang melamun.
"Jovita Zabrina! Kamu siap untuk belajar hari ini 'kan?" tanya Bu Risca yang kebetulan mengisi jam pelajaran pertama hari itu.
Jovi sontak terkejut. Ia melamun sekali lagi dan tidak fokus. "Siap Bu!" jawabnya sambil menatap pada Bu Risca. Pandangan matanya mulai terisi.
"Okey! Fokus ya, jangan melamun!"
"Iya Bu!"
Gavin yang duduk di depan, menatap pada adik tirinya sejenak. Lalu kembali menghadap depan kelas. 'Kenapa sih sama dia?' tanya Gavin sendiri.
**
Di sisi lain belahan dunia. Pembicaraan serius sedang terjadi.
Derry, paman dari Jovi yang baik dan tulus sayang pada keponakannya. Menyerahkan hak asuh Jovi pada Kevin Adista Armano. Siang ini harus merasa terkejut dengan kabar yang dibawa oleh Pak Kevin.
Pertemuan yang mengejutkan, tidak disangka Derry akan dihadapkan kenyataan yang luar bisa memukul hatinya.
Hal buruk jadi makin buruk. Derry kira, mendengar kabar Jovi bisa berjalan dan mulai sekolah lagi adalah sesuatu yang menyenangkan. Sayangnya, kabar itu dibarengi dengan kabar buruk.
Tentang yang menimpa keluarga kakaknya. Ada pelaku yang sengaja dengan motif yang mengiris hati Paman Derry.
"Jadi, meninggalnya Kak Chandra itu adalah pembunuhan berencana?" tanya paman Derry. Ia meneguk air putih dengan buru-buru. Hatinya yang belum bisa menerima, merasa makin hancur. Yang benar saja ada orang yang tega dan sengaja membunuh seluruh keluarga Chandra. Bahkan mereka juga sempat melecehkan Jovi. Tangan memijat kening. Beruntung seorang Derry tidak memiliki penyakit jantung.
Pak Kevin mengangguk. "Seandainya kalau saya melaporkan pada polisi. Apa Pak Derry tidak masalah?"
"Tentu tidak, saya tidak ingin secuilpun harta kak Chandra. Tapi saya nggak terima, kalau ada yang menyalah gunakan. Bagaimana juga, Jovi yang berhak jadi ahli warisnya."
"Tapi, apa Anda nggak malu. Salah satu adik almarhum Chandra akan ditangkap polisi."
Paman Derry diam sejenak, ia berdebat dengan hatinya. Merasa kacau dan makin kacau. Petaka yang menimpa keluarga Chandra masih membekas dan terasa sakit. Lalu setelah ini, akan ada lagi yang mencoreng wajah keluarga besarnya.
"Saya, saya nggak masalah. Saya harap semua harta keluarga Chandra bisa balik ke Jovi lagi saat Jovi sudah siap." Paman Derry akhirnya mengambil keputusan.
"Maaf ya Pak. Ini saya lakukan juga demi Jovi.
"Iya, nggak perlu minta maaf. Saya juga tidak perlu bersaksi apapun'kan."
"Tidak usah Pak."
"Oh iya, apa Jovi sudah tahu tentang hal ini?" tanya Paman Derry.
"Belum. Saya akan bicara sama anak saya dulu. Apa sebaiknya Jovi diberitahu atau tidak. Karena saya takut kondisi Jovi tidak stabil lagi."
"Iya, yang pasti kalau ada apa-apa. Bilang ya Pak!"
**
Makan siang di jam sekolah, Jovi selalu membuntuti kemanapun Gavin pergi. Ia sudah ada beberapa teman perempuan. Tapi, masih merasa tidak nyaman.
"Nggak pengen makan sama yang lain?"
Jovi menggeleng. "Aku mau makan sama kamu!"
"Sampai kapan?"
"Kamu sendiri? Kenapa selalu makan sendiri?"
"Itu urusanku. Cepat kamu makan sama yang lain!" Gavin bangun dan mengambil meja di dekat teman laki-lakinya.
Jovi mendengus kesal. Ia pun melakukan hal yang sama. Mengambil makanannya dan dibawa ke teman perempuan sekelasnya. Kebetulan meja mereka tidak jauh
"Eh, Jovi. Kamu nggak sama Gavin?"
"Gavin nggak mau sama aku."
"Ya udah sama kita aja."
Tidak terlalu jauh sebenarnya jarak meja Gavin dan Jovi. Mereka berdua masih bisa saling memperhatikan. Mengintai seperti pemburu. Ada sepasang mata yang saling melihat satu sama lain.
Bersamaan dengan itu, Dika, murid sekelas Jovi datang ke meja Jovi. Melempar senyum menyapa satu per satu temannya, dan kaget melihat ada Jovi di meja itu.
"Tumben Jov? Nggak sama Gavin?"
Jovi hanya menggeleng. "Nggak! Lagi nggak pengen sama dia." Jovi berusaha tersenyum. Meski sedikit, tapi cukup membuat wajahnya tampak manis.
"Kalau gitu nanti siang pulang sekolah. Pulang sama aku aja. Gimana? Aku anterin sampai rumah dengan selamat."
Gavin mendengar dan ia melihat dari tempat duduknya. Jovi hanya tersenyum. Tanpa sadar tangan Gavin yang memegang sendok jadi kesal hingga menekan dengan kuat sendoknya dan dengan penuh emosi.
**
Bel pulang sekolah berbunyi, menandakan murid akan berhamburan keluar kelas.
Jovi yang sejak tadi jadi target Dika. Masih santai sambil membereskan barang-barangnya. Ia baru memasukkan buku-buku. Lalu Dika mendatangi mejanya.
"Jovi. Yuk pulang bareng! Aku anterin sampai rumah." Dika mengajak Jovi pulang. Ia sangat berharap bisa dekat dengan Jovi. Bagaimana juga Jovi cantik, dan menarik. Ia menyukainya dan ingin dekat, atau kalau bisa pacaran.
"Ehm … aku …!" Belum sampai Jovi menjawab. Gavin mendekat pada meja Jovi dan langsung memasang pagar pembatas antara Jovi dan Dika.
"Kalau pulang, dia tetep sama aku!" Gavin mengatakan dengan tegas. Meski masih terkesan santai tapi ucapan barusan sangat didengar dengan baik oleh Dika.
"Oh, ya udah nggak papa. Tapi, aku punya ini buat Jovi." Meletakkan sebuah coklat yang dibungkus dengan pita merah dan begitu manis. "Terima ya. Ini cuma coklat kok."
"Iya! Makasih!" jawab Jovi singkat dan melihat Dika pergi berlalu.
Gavin masih santai di tempatnya berdiri. Ia senang dalam diam melihat Dika mundur untuk mengajak pulang bersama Jovi.
"Kenapa?" tanya Jovi.
"Kenapa apanya?"
"Kenapa aku nggak boleh pulang bareng Dika?"
Sontak Gavin yang tenang melihat ke arah Jovi. "Kenapa tanya begitu?"
"Soalnya aku mikir, aku bakal pulang bareng sama Dika!"
Mata Gavin langsung tajam. Ia menelan Saliva seperti ada sesuatu yang sulit membuat bicara.
"Apa aku perlu panggil Dika lagi buat nganterin kamu?"
"Nggak perlu, paling kamu bakal bilang kalau aku belum terbiasa ama cowok. Terus tiba-tiba minta dia nganterin aku. Padahal udah diusir. Abis ngeludah kok dijilat lagi."
"Aku nggak ngusir dia. Aku juga nggak ngerasa ngejilat ludah."
"Peribahasanya gitu. Ya udah aku pulang bareng aja sama kamu." Jovi menatap dengan kesal.