Hanya saja, kadang cinta itu datang tanpa disuruh. Ada cemburu yang tak diakui. Mungkin perlu waktu, Dan sampai kapan waktu itu akan dibutuhkan. Hanya berharap semua akan indah.
**
Melangkah bersama menuju halaman parkir sekolah. Tentu saja saat Jovi bersama Gavin, semua orang di sekolah tahu kalau mereka adalah saudara angkat.
Akan tetapi, tak ada yang tahu bagaimana perasaan masing-masing. Yang pasti semua itu belum jelas dan tak bisa dijelaskan. Ini seperti misteri. Bahkan Jovi sekalipun yang sebenarnya juga cukup pintar, tak bisa memahami perasaan gavin. Kakak angkatnya itu super duper tak jelas orangnya.
‘Kenapa sih sama dia. Apa aku hari ini punya salah yang nggak bisa dimaafkan. Itu wajah judes emang dari lahir sih! tTapi nggak harus judes terus dong seharian ini.’ batin Jovi sambil berjalan ke parkiran mengikuti langkah kaki kakak angkatnya.
Saat mereka berdua hanya diam satu sama lain. Berjalan baris seperti anak-anak yang sedang bermain baris sambil bernyanyi naik kereta api. Tiba-tiba saja ada suara yang memanggil.
“Gavin! Tunggu!” panggil Sonya, anak kelas sebelah yang cukup cantik dan memiliki ketertarikan pada Gavin sejak jadi murid baru di sekolah ini.
Gavin berhenti melangkah dan mencari sumber suara. Menoleh dan menatap sumber suara itu tanpa bicara.
“Hay! Ini!” Sonya memberikan sesuatu pada Gavin dengan perasaan yang sedikit sungkan dan kikuk. “Ini buku, pasti kamu suka!”
Gavin menerimanya. “Makasih!”
“Iya, sama-sama,” jawab Sonya sambil lirik-lirik malu pada Gavin. Jovi yang melihat malah justru merasa aneh.
Di parkiran mereka berdua masih saling diam. Jovi yang kesal makin merengut, sejak kemunculan Sonya. Sedangkan Gavin, jangan tanya. Kakaknya itu begitu datar bagai pantai yang tidak ada ombak. Sepertinya memang pria tersebut layak disebut patung. Patung yang dingin, dan sudah dari sononya dan tampaknya tidak bisa berubah.
Sudah naik motor, tapi tak biasanya Jovi tidak berpegangan. Ia hanya menatap punggung Gavin dengan kesal dan terkesan menyebalkan. Kadang dirinya berpikir, mengapa ada momen dirinya harus menganggap kalau punggung itu suatu saat akan jadi tempat bersandarnya.
‘Hah! Yang bener aja, udah gila banget aku kalau mikir begituan lagi.’ Hati Jovi kembali bicara sendiri.
Semenatra itu, Gavin yang malas bertanya mengapa Jovi belum juga pegangan. Langsung menyalakan mesin motor dan melaju dengan sedikit mengejutkan.
“Gavinnnnn! Yang bener aja kalau bawa motor!” Jerit Jovi saat itu juga. Rasanya ingin Jovi mencekik Gavin. Tapi, nanti siapa yang akan mengantar pulang kalau sampai jatuh. Hingga akhirnya Jovi kembali pegangan seperti biasa.
Tanpa ada yang tahu, Gavin tersenyum. Dirinya tidak perlu banyak bicara agar adiknya itu bisa kembali seperti biasa. Hingga motor melaju sampai rumah. Jovi masih diam, dan langsung masuk ke rumah begitu saja.
**
Sepulang sekolah, Gavin dengan penampilan yang cassual. Kemeja hitam dengan kancing yang dibiarkan terbuka. Ada kaos ketat berwarna gelap yang digunakan dan dibiarkan terlihat begitu saja, terlihat sedang keluar kamar.
Berjalan menuruni anak tangga dan berpapasan dengan Jovi. Gadis itu melihatnya dengan penasaran.
“Mau kemana?” tanya Jovi.
“Ke kantornya papa.”
Mendengar itu, Jovi menilai penampilan Gavin dari atas hingga bawah. Menarik dan mengesankan. Untuk ukuran anak SMA, tentu saja terlihat wah. Parasnya sangat didukung dengan cara berpakaiannya yang layak diberi bintang lima.
“Cuma ke kantornya papa?”
“Iya!”
“Nggak mau ngajak siapa gitu buat jalan. Kan tadi ada yang ngasih buku pas di sekolah.”
“Boleh juga. tapi, lihat nanti! Kalau sempet aku mau jalan-jalan dulu.”
Setelah mengatakan itu, Gavin melangkah pergi lebih cepat. Tampak di tangannya membawa sebuah kunci. Tapi, kunci itu tidak seperti biasanya. Jovi memicingkan matanya dan jadi penasaran.
Gadis itu lalu mengikuti Gavin sampai halaman rumah. Sambil tetap bersembunyi agar tidak ketahuan. Ternyata kunci yang dibawa Gavin, bukan kunci motor yang biasa ia gunakan untuk berangkat sekolah.
Melainkan kunci mobil yang jarang sekali dipakai Gavin. Bahkan saat keluar dengan Jovi sekalipun. Gavin sepertinya tidak pernah mengajaknya memakai mobil tersebut.
“Kenapa dia bawa mobil. Nggak biasanya,” gumam Jovi dengan kesal. Ia pun melihat mobil itu sampai keluar dari halaman. Perasaannya mengatakan kalau gavin pasti akan keluar dengan seseorang yang spesial. Lihat saja penampilannya barusan, sangat membuat mata gadis manapun akan sulit berkedip kalau melihat.
‘Peduli amat dia mau jalan sama siapa. Aku nggak ada urusan sama sekali. Dasar sok ganteng,’ batin Jovi tak terima.
**
Senja terlukis di langit. Awan biru berubah jadi jingga yang acak tapi menawan. Semburat yang seperti permen kapas tampak cantik di langit sore yang terlihat di balkon kamar Jovi.
Gadis itu, sebenarnya sudah mengalami banyak perubahan. Sudah ada kemajuan yang pada akhirnya bisa membuat dirinya bisa menatap senja yang cantik itu dengan pikiran yang seharusnya. Bahagia dan memiliki harapan baru untuk hari esok. Meski sampai sekarang raibnya seluruh anggota keluarga Chandra masih menghantui. Datang di saat merasa sendiri.
Hanya saja hal itu sudah jarang terjadi. Keberadaan dirinya di keluarga Armano. Tentu saja sedikit demi sedikit membawa perubahan. Tidak hanya karena kebaikan seorang Kevin Adista Armano sebagai papa angkatnya. Tapi, ada hal yang paling tidak terduga.
Gavin Rahardian Armano, kakak angkatnya itu sungguh diam-diam menghanyutkan. Dia baik, tapi tak bisa tersenyum, atau mungkin memang otot mulutnya sudah aus dan rusak. Dia perhatian tapi tak banyak bicara, pelit sekali kalau merangkai kata-kata untuk diucapkan lewat bibirnya. Padahal akhir-akhir ini, Jovi sudah bisa sedikit dan berani untuk cerewet. Tapi, tetap saja Gavin seperti itu.
Andai semua itu bisa diperbaiki. Jovi pasti mau melakukan apapun, asal Gavin bisa sedikit membuat wajahnya terlihat menyenangkan.
Namun, satu hal yang juga cukup penting untuk diingat. Kalau malam-malam yang sudah dilalui Jovi di rumah kediaman keluarga Armano, sudah tak lagi sekelam saat awal dirinya baru masuk.
Mungkin pertikaian dan salah paham juga sering terjadi. Saat dirinya belajar bangkit dari keterpurukan. Melupakan mimpi karena cacat kakinya yang tak bisa sembuh total. Belum lagi, rasa kehilangan orang yang disayang yang sulit dilupakan. Putus asa, dan hampir menyerah. Tapi semua itu akhirnya bisa dilalui.
Jovita Zabrina Chandra, yang saat ini sudah diakui sebagai anggota keluarga Armano, sudah jarang sekali bermimpi buruk. Waktu yang sudah berlalu dengan begitu lambat dan sulit, penyesuaian diri yang sangat dipaksa untuk hal yang baik. Pada akhirnya membuahkan hasil. Mimpi buruk malam berdarah sudah tak lagi muncul di tidur malam Jovi.
Sebenarnya, hari ini, tepatnya adalah hari pertama di bulan desember, tahun ajaran ketiga di SMA, tempat Gavin dan Jovi bersekolah.
Waktu yang berlalu dengan cara yang tidak bisa diterka. Menyajikan cerita yang tak tahu bagaimana alurnya.
Jovi masih diam di balkon kamar. Membiarkan angin yang tertiup dari halaman depan menyentuh kulitnya dengan lembut dan sejuk.
“Tok tok tok!” suara pintu terketuk oleh bibi Bella. “Nona Jovi! Apa nona Jovi sedang tidur?” tanya Bibi Bella.
Jovi masuk ke dalam kamar. “Enggak Bi!”
Bibi Bella masuk ke dalam kamar. “Di ruang tamu, ada tamu nyari nona Jovi.”
Jovi berjalan mendekat. “Cowok apa cewek?”
“Cowok!”
“Siapa Bi? Namanya?”
“Namanya Dika!”
“Dika! Dia ngapain ke sini?” tanya Jovi yang kemudian hanya dibalas bibi Bella dengan mengangkat kedua bahunya dengan bersamaan tanda tidak tahu.
“Lebih baik nona temui saja. Biar saya temani kalau nona merasa kesulitan.”
“Ah! Nggak perlu Bi, dia temenku sama Gavin. Kayaknya aku bisa sendiri.” Jovi pun menemui teman sekelasnya itu.
“Ya udah kalau gitu.”