Jalan Bertiga

1184 Kata
Ruang kerja seorang Kevin Adista Armano sudah cukup sepi. Tak ada aktifitas sepadat tadi. Waktu yang menunjukkan sudah hampir pukul empat. Pintu ruang kerjanya dibuka oleh seseorang. Perlahan orang itu masuk dan menampakkkan batang hidungnya. Ternyata putra kesayangannya yang datang. Gavin dengan kemeja hitam yang membuat Kevin berpikir. Pasti anaknya itu baru datang dari sebuah tempat. Tempat yang sudah jarang sekali merea datangi berdua. “Dari makam mama ya?” tanya Papanya. “Iya!” jawab Gavin singkat. Kevin kemudian bergerak mendekat pada Gavin. Ia mengajaknya duduk di sofa tamu. “Ada yang perlu Papa tanyakan!” Kevin memulai pembicaan serius. “Kenapa nggak di rumah aja?” “Nggak bisa.” Kevin menatap putranya yang masih saja berdiri. “Kamu nggak mau duduk dulu?” Gavin menatap tempat kosong yang ada di samping papanya. Ia pun dengan sedikit malas akhirnya duduk juga. Tidak tahu apa yang papanya ingin bicarakan di sini. Mengapa rasanya terlalu panjang basa basi yang harus menjadi awalan perjumpaan ini. “Menurut kamu Jovi gimana sekarang? Apa di sekolah dia sudah bisa berinteraksi dengan lawan jenis?” tanya pak Kevin. Gavin mengangguk. “Udah bisa! Tapi, kadang dia masih pilih-pilih!” “Terus! Apa dia masih sering teriak atau mendadak nangis kayak dulu?” Gavin coba mengingat. Tampaknya hal tersebit akhir-kahir ini sudah jarang terjadi. Ia pun sekali lagi, kembali menggelengkan kepala saja. “Kalau kondisi psikisnya?” Pak Kevin melanjutkan pertanyaan. Tentu saja, Gavin merasa heran. Mengapa papanya bertanya seperti itu. “Memangnya aku psikiaternya Jovi. Harusnya kan dokter Ana yang jawab pertanyaan semacam itu.” “Kan kamu sekarang udah dekat banget sama Jovi!” Melirik kesal pada papanya. “Papa maunya apa sih!” Pak Kevin menghela nafas. “Sebenarnya papa mau bilang sesuatu. Tentang Jovi!” Gavin hanya diam kali ini. Akan tetapi, dari sorot matanya terlihat kalau dia akan mendengar dengan serius. “Papa rasa Jovi harus tahu bagaimana keadaan keluarganya.” “Maksudnya? bukannya dia udah nggak punya keluarga!" sahut Gavin. Ia merasa pembicaraan ini belum menemukan sesautu yang penting. "Dia masih punya paman." "Terus?" "Jadi, yang menimpa Jovi waktu itu. Waktu mama dan papanya meninggal. Sebenarnya bukan kasus perampokan biasa. Tapi, bisa dibilang itu pembunuhan berencana.” “Apa! Papa kok bisa mikir kayak gitu. Bisa dendam lho kalau Jovi sampai tau!’ “Itu juga yang papa takutkan! Papa nggak mau mental Jovi terganggu lagi. Tapi, kalau Kenyataannya kayak gitu. Papa bisa apa. Selain menjebloskan pelakunya ke penjara. Tapi, Jovi harus tau kalau pelakunya itu adalah kerabatnya sendiri.” Gavin sejujurnya ikut kaget. Dirinya tak pernah berpikir sampai sana. Kecuali saat pertama kali tahu tentang kasus Jovi. Ada sedikit kecurigaan. Hanya saja itu terlalu mngerikan kalau sampai benar-benar terjadi. Mengapa sampai ada pertumpahan darah. Hingga membuat anak seperti jovi yatim piatu. “Kalau gitu, si- siapa yang tega melakukannya?” tanya Gavin. Mungkin sebaiknya ia tahu dan juga tentang motofnya. “Pamannya sendiri, yang sekarang jadi penguasa tunggal harta milik Chandra, papanya Jovi. Orang itu bahkan memalsukan data keuangan perusahaan, dan menggelapkan sebagian besar uang tabungan untuk Jovi.” “Siapa Pa namanya?” “Dirga. Jovi biasanya panggil dia Paman Dirga.” Gavin tampak diam lagi. Pandangan matanya kosong seperti memikirkan sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. “Papa rasa Jovi harus tahu. Karena dia nanti juga harus ambil semua aset keluarganya. Papa minta bantuan kamu, buat kash tau dia. Papa rasa dokter Ana juga pasti akna melakukan hal yang sama. Kamu kakak yang baik buat dia. Itu yang papa lihat.” Benar-benar permintaan sulit. Ia saja merasa syok. Apalagi Jovi. Bagaimana dirinya memberitahu. ** Gavin tak fokus menyetir mobi, pikirannya hanya tertuju pada Jovi dan Jovi. Ia tak mengira ada saja kejadian seperti ini dalam dunia nyata Sampai di rumah, Gavin memarkirkan mobil dan melihat ada sebuah mobil lain di halaman parkir rumahnya. ‘Mobil siapa?’ batin Gavin bertanya. Baru saat kakinya sudah melangkah masuk di ruang tamu. Gavin melihat ada Dika, teman satu kelasnya yang akhir-akhir ini tampaknya intens sekali mendekati Jovi. “Ngapain kamu di sini?” tanya Gavin. Ia melihat dika sedang duduk di sofa rang tamunya. “Mau ajak Jovi jalan-jalan.” Alis Gavin terangkat. Ada-ada saja hal yang terjadi di sekitar Jovi. Belum sampai dirinya menjawab. Jovi muncul dengan pakaian rapi dan cukup cantik. Dalam hitungan detik, Gavin pun kagum pada hal itu. “Gavin, kamu udah mau pulang. Aku tadi udah mau telpon kamu, buat minta izin keluar sama Dika. Tapi, nggak kamu angkat.” Gavin sontak merogoh sakunya untuk emnagmbil ponsel pipih itu. Benar ada oanggilan tidak terjawab. Akan tetapi, ia punya alasan mengapa sampai panggilan telepon itu tidak terangkat. “Tadi, aku sedang nyetir mobil,” ucap Gavin pada Jovi. “Terus? Gimana? Aku boleh ‘kan ikut Dika jalan. Aku udah ganti baju lho!” celetuk Jovi lagi. Gadis itu berusaha merayu Gavin dengan wajah imut dan polos. Gavin menghela nafas dengan lembut. Ia merasa hampir kecolongan anak kucing. Bukan anak kucing, tapi adiknya yang kadang menggemaskan seperti anak kucing. “Kalau gitu aku ikue kalian” ucap Gavin dengan entengnya dan tiba-tiba. Dika terkejut, ia menatap heran pada Gavin. Setahu dirinya, selama ini Gavin bukan tipe laki-laki yang suka jalan-jalan. Apalagi jalan untuk hal semacam ini. "Kamu nggak salah makan kan! Kok mau aja ikut sama kita," celetuk Dika sambil menatap heran pada temannya. "Justru sejak tadi aku belum makan," sahut Gavin. Ia pun memutar tubuhnya melangkah lebih dulu keluar dari ruang tamu. ** Sebuah pusat perbelanjaan menjadi tujuan mobil yang ditumpangi oleh Gavin. Ternyata ada hujan gerimis yang turun dari langit. Jovi masuk dengan cepat melangkah lebih dahulu. Gavin membiarkan begitu saja. "Ini sih namanya bukan ngedate," guman Dika tepat di sebelah Gavin. Gavin hanya melirik saja. Ia selalu memperhatikan setiap langkah yang diambil oleh Jovi. Kemudian ikut berjalan berada di dekatnya. Setelah berputar-putar selama beberapa menit. Jovi tampaknya hanya menganggap kakak angkatnya saja yang ada di sana. Dika sedikit tersisihkan. Padahal sejak tadi Gavin hanya berjalan tanpa tahu mau kemana. "Vin, kamu mending cabut deh! Aku cuma pengen jalan berdua aja sama Jovi," ucap Dika saat Jovi asyik memilih baju untuk dirinya. "Dia itu adikku. Aku kudu jagain dia." Dika menghela nafas panjang mendengar itu. Ia lalu menggaruk rambutnya hingga berantakan. "Kenapa? Ada yang salah sama omonganku?" Tanya Gavin. Mungkin Gavin tidak merasa kalau dirinya menjadi penghalang kedekatan diantara Dika dan Jovi. Atau memang dia tahu dan sengaja supaya Dika tak bisa mendekati adik angkatnya itu. "Jovi itu kelihatan banget kalau dia lebih care sama kamu. Lihat aja, tadi dia juga ngobrol sama kamu terus. Aku malah dikacangin sama dia." Dengan santai dan tidak merasa bersalah sedikitpun. Gavin malah menjawab. "Aku nggak ngerasa kayak gitu." "Gavin Rahardian. Dengerin aku ngomong. Aku nggak yakin kalau dia cuma anggap kamu sebagai kakak angkat. Pasti dia punya perasaan sama kamu." Gavin hanya melirik pada Dika, lalu kembali menatap kearah adiknya yang berjarak sekitar lima meter dari tempatnya berdiri. Kedua tangannya melipat di depan d**a, menunjukkan dirinya tetap cool dan tenang. "Masak sih!" "Iya Vin. Aku itu udah gonta-ganti pacar berkali-kali dan aku tahu betul gimana cara cewek mandang cowok yang disukai," jelas Dika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN