Akhir Desember, ditandai dengan semakin seringnya hujan yang turun. Seperti hari yang sudah menjelang malam ini. Jalanan tampak basah. Kemacetan terjadi dan membuat Gavin juga Jovi belum bisa pulang ke rumah.
Gavin masih diam. Ia hanya memandang datar ke depan. Melamun memikirkan ucapan Dika. Apa benar adik angkatnya itu punya perasaan lebih pada dirinya.
Jovi ternyata sudah tertidur. Ia menjatuhkan kepalanya ke sisi jendela mobil. Membuat Gavin bisa melihat pipi bersih milik Jovi. Gadis itu sudah berubah banyak.
Cara bicaranya sudah layaknya gadis pada umumnya. Pola pikirnya tak lagi mendramatisir keadaan. Tanpa sadar, tangan Gavin bergerak menyandarkan kepala Jovi di pundak kirinya.
Jovi terbangun, dam merasakan sentuhan barusan. Ia tahu kalau kakak angkatnya itu baik meski kadang menyebalkan.
"Gavin!" Jovi memanggil lirih. Ia menyadarkan Gavin yang sedang melamun.
"Kamu kebangun ya?" Gavin melihat Jovi masih bersandar.
Jovi hanya mengangguk. Anggukan kecil yang membuat gemas. Hujan yang mengguyur makin membuat suasana dingin. Tampak tangan Jovi saling meremas lengannya yang menunjukkan kulit bersih. Tak tertutup dengan pakaian.
"Sebentar!" Gavin menyuruh Jovi mengangkat kepalanya. Ia lalu melepas kemeja hitam yang dipakai. Menyisakan kaos abu gelap menempel di tubuh Gavin. "Pakai ini!"
Gavin memasangkan bajunya pada Jovi. Mungkin kalau mereka pacaran, ini adalah momen yang manis. Membuat Jovi menatap pada Gavin dengan mata tajam dan dingin.
"Makasih!" Ucap Jovi tapi Gavin seperti biasa. Hanya diam.
Kemeja itu pun dipakai Jovi sampai pulang. Bibi Bella yang menunggu di depan rumah merasa cemas. Mobil yang dikendarai Gavin dan Jovi akhirnya tampak masuk ke halaman rumah.
Jovi tersenyum pada Gavin sebelum pria itu turun dari mobil. Bermaksud untuk mengatakan terima kasih. Tapi Gavin sudah terlanjur membuka pintu dan turun lebih dahulu.
"Dia! Bahkan selama ini tidak ada yang berubah dari dia!" gerutu Jovi sendiri saat dirinya tertinggal di dalam mobil.
**
Jovi telah siap untuk tidur. Guyuran hujan belum juga berhenti. Ia merasa dingin di dalam kamar meski tak ada AC yang menyala.
Dalam keadaan seperti itu, ia merasa butuh kehangatan. Tampak kemeja hitam milik Gavin menggantung di gantungan baju. Jovi pun bergerak bangun dan mengambilnya. Mengenakan kemeja tersebut dan bergerak lagi untuk tidur. Rasanya ia malah membayangkan bisa tidur di dekat kakaknya.
'Gavin Rahardian Armano. Pria itu, kalau di dunia ini aku cuma bisa sama dia. Apa aku boleh memilikinya,' batin Jovi sambil membayangkan wajah Gavin akhir-akhir ini.
Gavin sendiri yang belum bisa tidur mencoba untuk meneguk coklat hangat yang baru dibuatkan oleh asisten rumah tangganya di salah satu meja dapur. Ia tiba-tiba terbatuk saat meneguk coklat hangatnya.
"Uhuk!" Suara Gavin yang cukup keras terdengar oleh Kevin. Papanya itu sedang berjalan ke arah, tempat dimana Gavin berada.
"Gavin! Kamu belum tidur?" tanya papanya.
Gavin hanya menggeleng. Melihat itu papanya hanya menghela nafas. Sungguh anaknya itu tipe irit bicara. Bahkan bilang tidak saja, ia hanya menggeleng kanan kiri.
"Ngomong-ngomong, kamu udah kasih tahu Jovi tentang yang kita omongin di kantor tadi?"
Mendengar itu Gavin rasanya terganggu sekali. Baru saja ia bisa menikmati coklat hangat dengan santai. Tanpa beban karena sudah tak kepikiran masalah Jovi dan perkataan Dika tadi sore. Tiba-tiba papanya datang dan mengusik lagi dengan pembicaraan yang membuatnya penat. Ingin di banting saja gelas coklat hangat yang sedang dipegang.
"Belum sempat Pa!"
"Kenapa belum sempat? Bukannya tadi sore kamu keluar terus sama dia sampai kalian pulang habis makan malam."
"Harusnya nggak sampai makan malam pa kita udah balik di rumah. Cuma gara-gara macet. Jadi kita balik larut. Lagian Jovi di dalam mobil juga cuma molor."
"Papa udah nggak bisa nunggu lama lagi Gavin. Papa harus segera menjarain pamannya Jovi. Sebelum semua aset keluarga Chandra hilang entah kemana."
"Kenapa papa maksa banget sih! Kenapa nggak papa aja yang bilang sama dia."
"Jadi kamu nggak mau bantuin papa?"
Lagi-lagi, Gavin merasa terjebak dengan perkataan papanya itu. Bukan dirinya tak mau membantu. Tapi, ini adalah sesuatu yang butuh waktu. Tidak bisa langsung dibicarakan begitu saja pada Jovi. Kalau gadis itu tiba-tiba tidak bisa mengontrol dirinya lagi.
"Kalau misalnya, papa langsung aja penjarakan pamannya Jovi gimana?"
"Papa kan udah kasih tau. Papa khawatir kalau kita nggak ngasih tahu Jovi dulu. Jovi bakalan berpikir buruk tentang papa. Jadi lebih baik dari awal dia tahu kenapa pamannya sampai papa penjarakan." Jelas papanya.
Gavin memejamkan matanya pening. "Ya udah, nanti aku bilangin. Papa mesti aja ngerepotin."
"Minta tolong Gavin."
**
Belum waktu untuk bangun sebenarnya. Tapi, karena kepikiran omongan papanya untuk memberitahu Jovi tentang pamannya yang akan dilaporkan ke polisi. Gavin jadi berulangkali bangun.
Dilihat di dinding masih pukul empat. Mungkin sebaiknya ia menunggu benar-benar pagi saat Jovi usai menyantap sarapan. Baru membicarakan itu.
Kebiasaan kalau tak bisa tidur. Gavin memilih pergi ke perpustakaan rumahnya. Mungkin sejak semalam harusnya dia tidur di sana saja. Daripada kelimpungan di atas tempat tidur.
Sampai di depan pintu perpustakaan pribadi. Gavin lalu membukanya dengan pelan. Tak curiga apapun kalau dirinya akan dibuat terkejut dengan sesuatu. Hingga akhirnya saat sudah berjalan masuk dan melihat ada Jovi tidur di sofa sambil membawa buku. Saat itu juga kedua mata Gavin membulat menatap kaget pemandangan yang ada di depannya.
Gavin menelan Saliva. Gadis itu tidur seenaknya sendiri dengan gaya bebas tanpa batas. Membiarkan dirinya seperti korban kejahatan di atas sofa perpustakaan. Kakak angkatnya itu hanya bisa menghela nafas panjang. Sambil sesekali membuang muka dan menatap lagi. Ia baru sadar kalau kemeja hitam miliknya masih dipakai.
"Dasar m***m!" oceh Gavin merasa sesak tanpa alasan.
Sementara itu, baju tidur Jovi yang hanya sebatas paha. Tersingkap membuat mata kelilipan sesuatu yang tak kasat. Apalagi bagian atas terlihat makin membuat berdebar-debar. Jovi tenyata benar-benar ingin menjebak Gavin.
"Dia ini beneran pengen ganggu pikiranku,' batin Gavin.
Gavin pun bergerak dan mulai mengancingkan satu per satu kancing di kemeja hitam yang dipakai Jovi. Dengan begitu area terlarang bisa tertutup sempurna. Saliva Gavin kembali tertelan dengan perasaan aneh.
kakaknya itu masih coba bertahan. Setelah berhasil memasangkan kancing Kemeja itu dengan benar. Ternyata ia malah terduduk lemas di samping Jovi. Menatap peduli tapi ada kesal juga.
"Hahhhh ... kenapa sih. Jovi tidur seenaknya gini." Gavin merasa stres. Tak pernah kepikiran ada kejadian seperti ini
Nyatanya masih ada bagian tubuh Jovi yang perlu ditutupi.
"Ahhh bocah ini emang kebangetan."