Gavin menatap wajah adik angkatnya dengan melirik. Ia tersenyum kecil. bersamaan dengan itu Jovi malah bangun, dan sadar ada Gavin di situ.
Sontak secara naluri Gavin berhenti tersenyum, bibirnya kembali datar membentuk garis lurus seperti pantai yang tak berombak.
“Gavin kok di sini?” tanya Jovi. Lalu gadis itu sadar kalau kedua pahanya terpampang nyata tanpa ada penghalang, Ia pun sontak duduk dan menutupinya dengan kedua telapak tangan, tapi percuma. Semua itu sudah disimpan dengan baik dan rapi dalam memori Gavin tanpa diperintah.
“Harusnya aku yang tanya gitu?” Gavin menatap kesal.
“Aku nggak bisa tidur.”
“Terus kenapa bajuku masih dipakai?”
Jovi membulatkan mata. ‘Ya ampunnn kok bisa aku masih pakai ini,’ batin Jovi sendiri dengan memasang wajah berpikir.
“Kenapa?” tanya gavin lagi.
“I, itu.” Bingung rasanya Jovi untuk merangkai kata. Tak tahu, sepertinya semua kosa kata hilang begitu saja dari otak. Belum sempat bibirnya mengucapkan kalimat lanjutan. Jovi malah terkejut karena tiba-tiba Gavin mendekatkan tubuh pada dirinya. Tangannya seperti akan menyentuh sesuatu yang seketika kacau sudah perasaan Jovi. Tapi, dirinya malah diam dan mematung.
“Kamu beneran bikin kesel ya, udah tidur seenaknya. Bukuku kamu duduki.” Ternyata alasan tubuh Gavin mendekat pada Jovi karena pria tersebut melihat buku miliknya diduduki di samping tubuh Jovi di sisi satunya.
“Ah!” kaget Jovi makin terkaget-kaget. Ia sudah salah sangka.
“Maaf!” ucap Jovi.
Gavin yang kesal. Ia pun berdiri dan bermaksud meletakkan lagi buku itu di raknya. Namun, saat beberapa langkah, Gavin malah terpeleset dan jatuh ke lantai. hingga menimbulkan suara yang cukup buat Jovi kaget.
“Ya ampun Gavin!” jovi bergegas bangun dan berlari ke arah sumber suara yang ia rasa itu berasal dari Gavin.
“Gavin terlihat ada di atas lantai. Ia seperti baru saja terjatuh, dan saat akan berdiri. Kakinya sedikit tegang juga nyeri dan sulit untuk bergerak.
“Gavin! Kamu nggak papa?” tanya Jovi mendekat dengan buru-buru.
“Kok bisa ada air sih di sini? Bukannya tiap hari bibi selalu bersihin.” Gavin mengeluh tak senang.
“Maaf juga! Aku tadi ngantuk, pas bawa minum. Itu minumnya malah jatuh di sini!’ jawab Jovi sambil melihat posisi Gavin masih sama seperti tadi. “Maaf Gavin! Kamu jadi korban deh!”
“Udah tahuh nggak bisa langsung kering, harusnya kan kamu bawa lap terus taruh situ. Biar kalau ada yang lewat tau, itu lantai basah.” Gavin mengoceh cukup panjang.
Jovi hanya bisa menekuk wajahnya, tanda menyesal. “Ya udah! SIni aku bantuin berdiri. Sakit ya!”
“Hemb!” jawab Gavin ketus.
Gavin yang sudah terlanjur malas. Malah makin malas untuk bangun. Ia seperti ingin tergeletak saja di atas lantai ruang perpustakaannya meski terasa dingin.
“Ayo sini aku bantu!” Jovi berdiri dan memberikan tangannya untuk membantu Gavin.
Gavin melihat itu, rasanya ia jadi ingin tertawa keras. Masalahnya tangan itu terlalu kecil untuk bisa membantunya berdiri. Memangnya ada tenaga untuk tangan seukuran itu.
‘Ada ada saja!’ sok bantuin segala!’ batin Gavin. Ia pun coba meraih tangan tersebut, membiarkan Jovi sendiri yang menarik dirinya agar bisa bangun dan berdiri.
Sayangnya, insting Gavin memang benar. Tangan milik Jovi tak punya tenaga yang cukup untuk membuat dirinya bangun, apalagi bisa berdiri, dan yang terjadi malah sebaliknya.
Jovi malah tertarik ke arah Gavin. Justru dirinyalah yang terjatuh dan menimpa tubuh Gavin yang mau ditolong itu. Ia pun beku sesat diatas tubuh kakak angkatnya.
Dalam hitungan detik, berdua membiarkan saja keadaan seperti itu cukup lama. Hingga ketika kedua mata sayang saling berpandangan menjadi sesuatu yang absurd tanpa tahu mau harus melakukan apa.
Hingga Jovi sadar dirinya harus segera bangun. “Maaf!”
Tapi, tangan kiri Gavin yang bebas malah menahan punggung Jovi. Ia ingin berlama-lama seperti itu. Melihat wajah adik angkatnya dengan dekat dan juga sepasang mata Jovi yang baru kali ini bisa dipandangi sedekat ini.
“Apa kamu nggak histeris lagi kalau dekat sama lawan jenis?” tanya Gavin.
“Aku rasa … enggak. Kalau itu sama kamu.”
“Kalau sama Dika?”
Sesaat Jovi harus berpikir keras lagi. Memangnya dia pernah melakukan sentuhan semacam ini dengan pria itu. Sungguh pertanyaan bodoh. Itu pertanyaan atau jebakan sebenarnya.
“Lepasin dulu!” ucap Jovi ingin bangun.
“Nggak jawab dulu!”
Hati mereka berdua sama-sama berdebar. Tapi, Gavin coba tenang. Ia sendiri ingin memastikan ketenangan hatinya yang ini sampai di level mana. Apa benar dirinya mulai tertarik pada Jovi. Hanya saja karena selama ini dirinya sendiri juga selalu berusaha mengatasnamakan hubungan mereka berdua sebagai kakak dan adik angkat. Rasanya Gavin sendiri tak yakin dengan perasaannya. Tapi, kadang ada sebuah rasa yang tidak tenang kalau Jovi harus mendapat perhatian dari pria lain.
“Aku nggak suka sama Dika. Mana mungkin aku bisa sentuhan sama dia!” jawab Jovi buru-buru. Ia harap segera bisa bangun dan menjauhkan diri dari Gavin.
Melihat Jovi berbicara dengan nada cepat, rasanya malah makin gemas. Sepertinya Jovi berbakat jadi ibu-ibu komplek yang suka menawar harga sayuran. Gavin pun tersenyum kecil dengan itu.
“Kok senyum sih!” Jovi menatap heran. Senyum kecil yang seperti pelangi usai hujan. Senyum yang langka dan perlu diabadikan, sayangnya hanya ingatan yang bisa mengabadikan momen itu. Jovi kesal tapi juga suka.
“Kamu lucu kalau ngomong cepet-cepet.”
“Ya udah aku mau bangun! Tulangku nggak cukup elastis buat ada di posisi seperti ini.”
Gavin lalu membiarkan saja. Jovi pun duduk tepat di samping Gavin. Ia memandangi pria itu cukup dalam. Ada rasa nyaman muncul membuat hati senang.
“Makasih ya!” ucap Jovi. Aku nggak nyangka, aku bisa lupa sama kejadian itu.” Pandangannya kini datar dan lurus ke depan.
“Buat apa bilang makasih?”
“Buat kamu sama Papa Kevin. Kalian berdua sekarang jadi orang paling penting buatku!”
“Tapi, aku sama papa sebenarnya punya kabar. Kabar yang bakal ingetin kamu sma malam itu.”
Jovi terkejut tapi ekspresinya masih datar. Ia merasa sudah tak ada lagi yang perlu dicemaskan. “Kabar apa?”
“Kabar yang mungkin bakal bikin kamu sedih,” sahut Gavin.
“Kabar apa?”
Gavin menunduk sebentar. Ia akan beritahu sekarang. “Ternyata yang terjadi malam itu, malam yang bikin kamu kehilangan papa sama mama kamu. Ternyata itu bukan perampokan. Tapi pembunuhan.”
Deg! Hati Jovi ternyata masih berdenyut sakit. Tapi, ia harus tetap tenang, itu bukti kalau dirinya sudah berubah. Air mata mungkin akan jatuh tapi akan coba ditahan. Bukankah sudah cukup banyak air mata yang mengalir selama dua tahun ini. Selama dirinya berusaha untuk bisa kembali seperti dulu.
“Siapa pelakunya?” tanya Jovi.
Dengan tegas dan jelas. “Paman kamu sendiri. Paman Dirga, dan dalam waktu dekat papa mau menjarain paman kamu itu. Maaf Jovi, tapi itu juga buat kepentingan kamu. Biar semua aset keluarga Chandra balik lagi ke sama ahli warisnya. Yaitu kamu!”
Beberapa detik berlalu, Jovi belum menunjukkan ekspresi apa-apa. Tapi, Gavin yakin kalau gadis itu masih rapuh.
“Kalau mau nangis. Nangis aja!” Gavin memeluk bahu Jovi dari belakang. Berusaha menunjukkan kalau dirinya tak sendiri. Ya, tak sendiri. Bahkan kalau Jovi minta lebih dari itu. Gavin pun akan memberikan apapun.
**
Pagi ini, Gavin menghabiskan waktunya cukup lama di bawah shower kamar mandi. Ia merasa stres.
Yang terjadi tadi, di perpustakaan rumahnya itu benar-benar tak bisa ia lupakan begitu saja. Antara dirinya dengan Jovi sudah terjadi sesuatu. Sesuatu yang berkaitan dengan rasa masing-masing.
“Papa juga yang salah! Kenapa aku disuruh deketin Jovi. Kalau udah kayak gini, aku harus gimana?”