Pertama kali datang ke rumah ini, Jovi ingat betul. Dirinya masih terjebak belenggu ketakutan yang luar biasa. Cemas berlebihan, bahkan meninggalkan jejak trauma mendalam. Tak mampu berinteraksi dengan baik. Apalagi dengan lawan jenis.
Belum lagi, rasa merasa sendiri. Kehilangan sosok yang sangat disayangi, mama papa dalam waktu bersamaan adalah sesuatu yang begitu tragis dan tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Hingga akhirnya muncul Kevin dan putra tunggalnya, Gavin. Entah bagaimana takdir yang dituliskan untuk Jovi. Yang pasti Jovita Zabrina, merasa sudah terlahir kembali. Setelah semua peristiwa mencekam mengurungnya dalam ketakutan dan putus asa.
Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan. Mading sekolah akan memberitahu siapa saja lulusan terbaik tahun ini, dan berhak mendapatkan beasiswa di universitas yang dipilih.
Jovi bersiap untuk berangkat sekolah. Ia sudah memakai seragamnya, dan juga membawa tas. Dilihat dirinya di depan cermin. Hatinya berucap sendiri.
‘Bersyukur, karena udah ngasih aku kesempatan kedua. Aku janji akan jadi adik dan anak yang baik.’ Setelah mengatakan itu, Jovi jadi berpikir keras. Apa ia bisa mewujudkannya, dan hati kecilnya meyakinakan kalau dirinya harus bisa.
Sesaat sudah merasa siap. Jovi membuka pintu kamar, yang bersamaan sekali dengan Gavin juga membuka pintu kamarnya untuk keluar. Mereka berdua keluar dari kamar masing-masing dalam waktu yang sama.
‘Kok bisa pas banget saat aku mikirin dia,’ batin Gavin yang melihat ke arah Jovi. Begitupun Jovi juga melihat ke arah Gavin. Mereka berdua saling berpandangan.
“Udah mau berangkat?” tanya Jovi basa basi. Ya, mau bagaimana lagi. Ia tak mungkin diam membisu pura-pura tidak kenal kalau berpapasan dengan Gavin, meski mereka tinggal satu rumah.
“Iya!” sambil mengangguk, lalu Gavin berjalan lebih dahulu. Ia selalu seperti itu. Jika pertanyaan jawabannya iya atau tidak. Pasti dirinya hanya menjawab dengan satu kata. Singkat, padat, dan jelas.
Jovi menatap kesal. ‘Selalu seperti itu.’
Di meja makan sudah ada papa Kevin. Ia membaca koran sambil menunggu anak-anaknya. Rasanya kehidupan sudah seperti kembali normal. Kecuali kehadiran Jovi yang makin lengkap.
Gavin sampai lebih dahulu di meja makan. Ia langsung duduk dan tak bicara apapun. Sedangkan, Jovi duduk sambil tersenyum menatap papanya.
“Tidur kamu nyenyak Jov?”
“Nyenyak Pa.”
“Oh iya, kalian berdua kan udah mau lulus. Abis itu kuliah kan! Menurut Papa mending kalian berdua kuliah bareng di kampus yang sama.”
Mendengar itu, Gavin jadi sulit menelan makanannya. Ia melirik papanya sekilas. ‘Kenapa papa maunya aneh-aneh sih! Nggak ada inisiatif lainnya kah,’ batin Gavin kesal.
Sementara Jovi sendiri belum mau mengatakan apa-apa. merasa sudah banyak hutang budi dengan keluarga tersebut. “Aku sih terserah. Tapi Pa. Aku pengen tanya. gavin bilang papa mau bawa Paman Dirga ke polisi?”
Papa Kevin yang tadinya sibuk juga membaca berita. Kali ini menatap Jovi.
“Gavin udah kasih tau kamu?”
“Udah pa! Jadi, gini Pa. Apa nggak sebaiknya aku kuliah nanti biar biayanya diambil dari tabungan almarhum papanya Jovi aja. Kayaknya selama ini, Jovi udah ngerepotin banget.”
“Kenapa kamu bilang begitu. Kamu nggak ngerepotin. Lagian nggak perlu nunggu tabungan almarhum papa kamu juga. Papa masih bisa kok biayain. Kamu jangan ngerasa gini Jovi. Kita ini udah satu keluarga!” ucap papa kevin meyakinkan.
Tiba-tiba tenggorokan Gavin agak seret. Ia ingin batuk tapi takut mengganggu suasana. Dirinya pun memutuskan untuk minum air saja, dan langsung bangun untuk menuju halaman parkir. Mungkin lebih baik, dirinya menunggu Jovi di sana saja. Tanpa perlu mendengar apapun yang sedang diobrolkan papanya dan Jovi.
“Aku tunggu di halaman samping. Ada yang perlu aku cek soalnya,” ucap Gavin lalu beranjak pergi.
**
Jovi segera menyusul Gavin setelah menghabiskan sarapan. Ia melihat kakak angkatnya itu sedang membaca buku.
“Jadi, ini yang katanya perlu dicek,” ucap Jovi sambil meraih buku yang dibawa oleh Gavin.
“Eh! Balikin. Bukuku selalu bernasib tragis kalau kamu yang pegang,” celetuk Gavin seenaknya sendiri.
Jovi hanya tersenyum kecil. Lalu menarik buku tersebut hingga ke belakang punggungnya.
Gavin yang masih ngotot untuk mendapatkan buku tersebut. Ia berusaha untuk mengambil. Alhasil, mereka berdua malah saling berdekatan hingga hampir berpelukan.
Seperti biasa, ala-ala membayangkan akan terjadi sesuatu seperti adegan dalam drama. Mereka berdua akan saling berpandangan cukup lama, dan menatap manik mata satu sama lain.
Tapi, Gavin tak mau itu terjadi. Ia segera menarik tubuhnya dan melotot. Mengancam dengan pandangan mata seram. Seperti sedang memaki dalam hati lalu keluar sinar laser dari matanya menyerang Jovi.
Jovi pun seketika hatinya mengkeret dan bibir otomatis jadi manyun. Sadar sudah melakukan kesalahan. Ia pun mengembalikan buku yang diambil paksa tadi.
“Maaf, ini!” ucap Jovi memberikan buku Gavin.
Gavin mengambil buku itu dengan dongkol. Juga masih sama dengan tatapan menakutkan dengan makna mengancam.
‘Aku udah bikin gorila monster bangun,’ batin Jovi. Ia tertunduk lesu, kalau sudah dihadapkan situasi semacam itu.
Mereka berdua akhirnya berangkat dan sudah sampai di sekolah. Seperti biasa, turun dari motor, lalu berjalan masuk ke dalam kelas. Tapi, Gavin tak pernah jalan beriringan dengan Jovi. Ia selalu berjalan di belakangnya.
Sampai di kelas, Kedatangan Gavin disambut antusias oleh Dika. Mereka berdua sebenarnya teman dekat. Tapi, ya namanya juga berteman dengan manusia batu. Lebih banyak Dika yang aktif mengajak bicara. Sedangkan Gavin hanya mengangguk menggeleng dan memasang jawaban dengan bahasa mata. Kalaupun Gavin bicara. Ia sudah pasti akan mengatakan sesuatu yang singkat.
“Eh, Gavin. Adik angkatmu itu jangan dianggurin lah. Kalau nggak, ajak dia bicara kek. Biar kalian berdua kelihatan dekat.”
“Terus kalau udah kelihatan dekat.”
“Ya, kan aku jadi nggak pengen deketin dia.”
Lagi, hal yang berulang terjadi. Gavin melirik sekilas pada Dika, dan Dika seketika mati kutu.
“Eh!!! Peach bro, aku cuma bercanda.” Ekspresi Dika mengajak berdamai.
Dika hanya bisa menggaruk rambutnya yang tidak gatal. “Ya, kita lihat aja sampai kapan seorang Gavin Rahadian Armano bisa bertahan.”
“Maksudnya?” tanya gavin.
“Emangnya yang pengen deketin si Jovi itu cuma aku aja. Ya nggak lah. Meski, semua orang tahu. Kalau dia ada trauma yang mengganggu sistem bawah alam sadarnya. Tapi, aku yakin, masih ada banyak cowok ngantri buat jadi pacarnya dia. Noh lihat!” Dika mengarahkan pandangannya ke meja Jovi. Ternyata ada seorang murid laki-laki dari kelas lain yang berani menyapa Jovi dan juga memberikan sesuatu.
Sesuatu yang tak lain adalah coklat dengan merk cukup terkenal. Dengan sigap dan cepat, Gavin bangun dan mengambil coklat tersebut.
“Dia udah punya calon yang disiapin papa. Jadi, jangan dekati dia,” ucap Gavin sambil menatap murid kelas lain itu.
Murid yang merupakan salah satu siswa cukup pintar dari kelas sebelah. Tapi, tidak playboy seperti Dika. Atau bahkan mungkin ini kali pertama bagi murid kelas sebelah itu ingin pacaran dengan gadis. Saat mendengar dan melihat Gavin yang kata Jovi bagai gorila monster. Seketika nyali murid laki-laki itu menciut seperti kerupuk yang tersiram air satu ember.
“Ah! Iya! Kalau gitu aku minta maaf, udah gangguin Jovi. Kalau gitu coklatnya buat kakaknya Jovi aja. Nggak papa.” Murid sebelah yang bahkan namanya saja Gavin tak tahu, langsung memutar langkah dan keluar kelas dengan terburu-buru. Ia ketakutan setengah tiang bendera.
Dika yang duduk di bangkunya dan melihat semua kejadian itu, hanya tersenyum kocak tanpa ada suara. Hanya ada bentuk bibir yang melebar dan makin lebar, tapi berusaha ditutupi dengan telapak tangannya.
“Gavin, gavin. Aku sumpahin aja kamu makin nggak bisa lepas dari Jovi. Suka sama suka kok ya nggak mau ngaku,” ucap Dika sambil masih berjuang menahan tawa.
**
Jovi kesal dan sangat kesal. Ia menarik tangan Gavin keluar kelas. Dan ingin mengajak bicara empat mata. Ya hanya empat mata.
“Kamu kenapa sih, ngambil gitu aja coklat dari anak kelas sebelah?” tanya Jovi dengan nada kesal. “Kan kasihan!”
Gavin pura-pura malas menjawab. Ia malah menatap ke arah lain. Mungkin saja di salah satu sudut lorong nantinya akan ada guru yang lewat untuk menuju kelas mereka.
“Gavin …!”
“Aku cuma nggak mau kamu diganggu, “ bela Gavin untuk sikapnya tadi.
“Tapi, aku nggak ngerasa diganggu.” Jovi menatap dengan berani, dan merasa yakin dengan apa yang dikatakan.
“Aku yang ngerasain itu,” pungkas Gavin saat itu, sambil membalas tatapan dari Jovi.
“Jovi! Gavin! Ngapain kalian berdua ada di sini. Cepat masuk ke dalam kelas. Saya punya pengumuman untuk kelas kita!” perintah seorang guru yang tiba-tiba muncul.
Benar insting Gavin ternyata, yang mengatakan mungkin akan ada guru. Hal itu membuat perdebatan kecil antara Gavin dan Jovi harus berakhir, lebih tepatnya terpaksa berakhir.
Kelas yang ramai, tiba-tiba sepi hening tak ada suara berisik sama sekali. Ada seorang guru atau lebih tepatnya wali kelas dari kelas Gavin masuk dengan langkah sepatu heelnya yang berdering menggetarkan kelas.
“Siang murid-murid semua. Ada hal yang perlu saya sampaikan untuk kelulusan kalian. Saya senang sekali, ternyata murid saya di kelas ini, lulus semua dengan nilai yang amat sangat memuaskan. Teruntuk lagi buat dua besar di kelas ini. Saya nggak mengira akan melihat dua murid kelas ini yang duduk di peringkat tertinggi angkatan tahun ini, amazing. Tepuk tangan untuk pencapaiannya ini.”
Aplous tepuk tangan meriah terdengar di seluruh sudut kelas.
“Untuk itu, saya sangat mengapresiasi dua murid membanggakan itu. Gavin Rahardian Armano, dan Jovita Zabrina Armano. Kalian berdua saya beri kesempatan untuk menjadi pengisi dalam opera yang akan diadakan di sekolah.”
Tepuk tangan kembali terdengar, keisengan Dika muncul lagi. Ia menyenggol tubuh Gavin dengan sikutnya. “Ciyee, duet mulu.”
Gavin hanya diam. Ia fokus mendengar penjelasan dari guru.
“Jadi, kalian berdua diberi kesempatan untuk jadi peran utama, dalam drama romeo and julia. Kalian tahu tidak itu cerita tentang apa?”
Kelas hening.
“Dasar kalian, sukanya pasti baca novel online. Romie and Julia, itu kisah romansa tragis tahun 90an karya shakespeare. Sisanya kalian bisa cari tau sendiri di internet. Sekarang saya mau tanya saja dulu sama kalian berdua. Gavin Jovi. Kalian mau tidak jadi peran utama drama tersebut.”
“Saya mau Bu!” ucap Jovi.
Sedangkan Gavin masih diam. Ia yang paling suka baca buku sudah tau seluk beluk cerita itu. Mulai dari yang paling awal, sampai cerita itu dikembangkan di tahun 90an. Ada banyak adegan dramatik yang tak sedikit juga dibumbui sentuhan antara dua peran utama.
“Kalau kamu nggak mau, ibu akan suruh peringkat ketiga untuk memiliki peran itu.”
Gavin berusaha biasa-biasa saja. “Saya mau Bu.”