Sambungan telepon dari pihak kepolisian baru saja diterima oleh Kevin Adista Armano siang ini, papa angkat Jovi itu benar-benar akan mendengar kabar penangkapan pamannya Jovi. Dirga.
Tak ada rahasia yang tidak terungkap. Pada akhirnya, segala sesuatu yang sudah diselidiki makin jelas, dan mengarahkan ke Dirga kalau dialah yang merencanakan malam mencekam dua setengah tahun lalu di rumah keluarga Chandra.
Dirga yang sedang menikmati masa kejayaan dengan harta peninggalan Chandra yang harusnya jadi milik Jovi. Sangat bangga dengan apa yang dia miliki saat ini. Tidak tahu saja kalau sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh juga.
Beberapa polisi yang akan melakukan penangkapan mendatangi perusahaan milik almarhum papanya Jovi dengan baju ala preman. Jaket kulit hitam dan yang pasti senjata yang disembunyikan. Salah satunya berkacamata, membuat satpam perusahaan yang sedang berjaga ikut gemetaran.
Dirga yang tak tahu dan curiga sedikitpun, kalau hari ini akan jadi hari terakhir dirinya menghirup udara bebas sedang berjalan di lantai dasar kantor. Ia tak curiga apapun, dan sedikit kaget juga saat ada orang-orang berwajah garang muncul di depan meja resepsionis, dan mereka semua langsung menatap Dirga yang baru muncul. Dirga yang akan perg makan siang, berinisiatif mendekati mereka.
“Ada apa ya Pak? Apa ada yang bisa dibantu?” tanya Dirga tanpa basa basi. Ia tak tahu saja kalau pria yang sedang ada di hadapannya tengah mencari keberadaan dirinya sendiri. Mungkin seorang Dirga tidak pernah menyangka juga kalau dirinya akan tertangkap. Apalagi mengingat sudah dua tahun lebih kasus yang menimpa Jovi juga sudah berlalu. Dirga bahkan mengira kalau kasus yang menimpa keponakan karena ulahnya tersebut sudah ditutup sejak diputuskan kalau apa yang terjadi adalah kasus perampokan, bukan pembunuhan berencana.
“Betul! Anda ini adalah Dirga Wintara?” tanya seorang polisi memastikan.
Dirga mengangguk. “Iya Pak, saya adalah Dirga Wintara.”
Beberapa polisi yang ada di situ pun saling bertatapan dan memberi anggukan.
‘Kalau begitu, Anda ikut kami ke polisi. Ini surat penangkapan atas nama anda.” Seorang polisi lagi, menunjukkan sebuah lembaran sebagai bukti kalau Dirga memang menjadi sasaran mereka untuk penangkapan siang ini.
Yang pasti, Dirga terkejut akan hal tersebut. Dirinya akan ditangkap. Hah! Yang benar saja. Akan tetapi, saat sepasang matanya coba memastikan isi surat penangkapan. Ternyata memang surat itu atas nama dirinya.
“Ini nggak mungkin kan Pak. Memangnya saya salah apa?” tanya Dirga pura-pura tak tahu. Ia kemudian melihat ke sisi lain perusahaan berupaya mungkin saja bisa kabur.
“Woy! Tunggu! Tangkap dia, jangan sampai dia kabur.”
Terjadi pengejaran yang seketika menyita perhatian orang-orang yang berlalu lalang di sekitar resepsionis. Dirga akhirnya berhasil ditangkap, kedua kakinya langsung tertunduk menekuk di atas lantai, dengan tangan yang sudah terkendali oleh seorang polisi yang tubuhnya lebih tinggi dan besar.
‘Lepasin saya Pak! Memangnya saya salah apa?” tanya Dirga dengan berteriak membuat perhatian seluruh isi kantor yang ada disana, tertuju pada Dirga.
“Anda ditangkap atas kasus pembunuhan. Jadi, lebih baik, Anda ikut kami ke kantor polisi. Kami minta kerjasamanya.”
Dirga akhirnya digelendeng. Tak disangka nasibnya akan jadi seperti ini.
**
Jovita Zabrina, sudah bersiap akan pulang. Ia melihat ke arah Gavin yang tampaknya masih sibuk bicara dengan Dika.
“Dia mau pulang jam berapa sih?’ tanya Jovi dalam hati merasa kesal menunggu.
Gavin lalu bangun, mendekat ke arah Jovi sambil membawa tas ranselnya. “Ayo pulang!”
“Bukannya kita harus ke ruang teater dulu?”
“Iya! Kita ke sana dulu.”
Gavin dan Jovi pun mendatangi ruang teater. Mengingat mereka berdua terpilih untuk jadi peran utama dalam drama sekolah.
“Wah udah rame ya!” ucap Jovi melihat ruangan tersebut ada banyak murid dari kelas lain,
“Hemb! Itu dia bu wali kelas.” Gavin mengarahkan pandangan ke guru mereka yang tadi memberi perintah untuk drama tersebut.
Gavin yang memang memiliki kharisma tersembunyi meski hanya mengenakan seragam sekolah saja. Ia berjalan langsung jadi pusat perhatian.
Tidak terkecuali Sonya, murid perempuan yang juga satu angkatan dengan mereka. Terlihat sejak tadi selalu memandang Gavin, sejak pria itu masuk ke dalam ruang teater. Ia pun secara alami terdorong untuk mendekat pada Gavin.
Setelah Gavin menerima naskah untuk dramanya. Ia pun membaca sesaat. Hingga sebuah panggilan untuk dirinya terdengar.
“Gavin! Ya ampun, aku kira, kamu nggak akan terima tawaran untuk drama ini. Aku jadi seneng. Andai aku ya yang jadi julietnya,” ucap Sonya. Gadis itu memasang wajah manis yang membuat Jovi teriris. Apalagi Gavin juga melempar senyum pada sonya.
“Iya, sekali-kali,” jawab Gavin.
‘Ah kamu ih! Menurutku yang paling pantes juga cuma kamu di sekolah ini buat peran itu. Kamu kan perfect,” tambah Sonya.
“Gavin, kita ini mau latihan nggak sih! Atau kalau kamu mau ngobrol sama dia dulu. Mending aku pulang aja. Dika kayaknya mau nganterin aku,” ucap Jovi dengan nada yang ia coba agar bisa terdengar biasa-biasa saja. Padahal hatinya sedang mendidih seperti air dipanaskan dan sudah mencapai suhu maksimal.
“Aku mau baca naskahnya dulu,” jawab Gavin,
“Gavin, ini siapa?”
“Jovi, yang jadi peran Julia. Maksudnya juliet.”
“Kamu si ranking dua itu?” tanya Sonya.
Jovi mengangguk saja.
“Kalau gitu aku mau baca naskah dulu.” ucap Gavin pada Sonya. Gavin lalu memberi kode agar Jovi mengikutinya.
Jovi mengikuti langkah kaki Gavin. Ia berjalan dengan penuh percaya diri, selain sebagai pemilik peran utama dalam pentas drama. Dirinya juga merasa yang paling berkuasa pada Gavin, secara Gavin kan kakak angkatnya.
Mereka berdua, Gavin dan Jovi duduk di salah satu bangku. Gavin tampak biasa-biasa saja. Sementara Jovi masih kesal. Hingga ia hampir lupa untuk membaca naskah.
“Hey! Baca naskahnya, kalau ada dialog yang nggak paham kan, bisa langsung ditanyakan sama guru teater sekarang. Gimana sih?” perintah Gavin.
“Iya!” sahut Jovi dengan nada tinggi.
Baru setelah itu, Jovi coba membaca naskah itu. Sesaat ekspresinya biasa-biasa saja pada alinea pertama. Hingga saat munculnya konflik, naskah itu menyuruh mereka untuk bisa berdansa bersama. Melakukan pandangan saling suka untuk perjumpaan yang pertama kali terjadi.
Jovi menelan saliva, berpikir apa dirinya sanggup.
Hingga saat Jovi merasa harus buru-buru membaca seluruh bagian naskah, membalikkan halaman per halaman untuk membaca sekilas dan cepat. Melihat hal apa saja yang harus dilakukan oleh Romeo dan Julia sampai di akhir drama. Di mana Jovi akan bunuh diri dan meletakkan tubuhnya yang baru saja meminum racun, tepat di atas d**a Gavin yang sudah tiada.
“Hah! Apa, apa nggak salah?” tanya jovi bingung sambil menatap naskah.
Gavin melihat Jovi. Ia heran saat tahu Jovi sudah membaca naskah bahkan sudah sampai halaman terakhir. “Ada apa? Apa ada adegan yang bikin kamu takut?" tanya Gavin