Kesal Pada Gavin

1362 Kata
Ada cinta, yang belum mendapat pengakuan. Mungkinkah pantas cinta itu tumbuh, di antara hubungan yang tercipta. Setelah mereka berdua dekat karena pengakuan hubungan saudara. Pantaskah jika salah satu pihak menginginkan cinta. Padahal hati yang berdebar lebih dari kapasitasnya. Sudah sering terjadi akhir-akhir ini. Lalu apakah itu normal. Bagaimana kalau hal tersebut semakin menjadi. Kalau misal sampai ada yang sadar dan mengakui. Apalagi menyatakan kehadiran cinta di antara mereka berdua. Mungkinkah Jovi akan berani mengatakan lebih dahulu. Atau gadis itu akan memilih diam, tanpa tahu akhir yang seperti apa untuk hubungan tersebut. Karena Gavin sendiri masih belum mengira rasa ingin melindungi itu seiring waktu berubah jadi cemburu. Ia akan sadar atau tidak. Hanya waktu yang tahu. “Ada apa?” tanya Gavin yang masih merasa heran. Ia memandang Jovi yang terlihat bingung. “Coba lihat ini. Kenapa ada adegan kayak gini. Aku mau tanya sama guru teater aja.” Jovi bangun dan langsung diikuti langkah kakinya oleh Gavin. “Bu! Ehm … saya boleh tanya?” “Iya, ada apa Jovi?” “Ini bu! Saya udah baca naskahnya. Emang nggak papa ya Bu. Kalau kita beradegan seperti yang tertulis di sini.” “Iya kan emang harus sesuai naskah. Kenapa? Apa ada masalah sama naskahnya?” Guru teater itu melongo. “Itu saya yang bikin dan saya usahakan sesuai drama Romeo and Juliet.” Mendengar itu, wajah Jovi jadi kecut karena merasa seperti salah bicara.”Nggak Bu, saya cuma mastiin aja.” Gavin menahan senyum, ia tahu Jovi akan bertanya hal itu. Padahal memang begitu alur cerita roman tragedi yang sangat mendunia dan hampir seluruh lapis masyarakat pernah mendengar. ‘Jovi jovi!’ batin Gavin merasa gemas. Tapi, ia masih melihat saja dulu. “Gini Jovi, saya tadinya juga sempat kepikiran. Apa kamu bisa memerankan peran Julie, mengingat kamu pernah menderita trauma psikologis. Tapi, setelah tahu kalau kakak angkat kamu sendiri yang jadi peran Romeo. Kecemasan saya sedikit berkurang. Pastinya tidak akan terjadi apa-apa, kan kalau kamu mainnya sama kakak angkat kamu sendiri. Bukannya kalian berdua sudah terbiasa bersama di rumah?" Jovi menatap Gavin. Ingin tahu pria itu mengatakan sesuatu atau tidak. Tapi, ternyata tak ada satupun kata yang muncul dari Gavin. Pria tersebut hanya menatap datar sedatar papan reklame, menyebalkan. Alih-alih ingin menunggu Gavin bicara sesuatu. Yang ada malah dirinya yang malah terkesan bingung sendiri dengan sedikit salah tingkah. "Iya, kami memang sudah terbiasa bersama." ** Derry Wintara adik dari almarhum papanya Jovi, Chandra Wintara, tengah menjenguk sang kakak yang ada dalam penjara. Dirga dengan baju tahanan, meringkuk di lantai sel yang dingin. Terlihat seperti berpikir, dan frustrasi. Ia menekuk kedua lutut dan memeluk lutut tersebut. Tampak menyedihkan dan rapuh. "Dirga! Cepetan bangun. Ada yang cariin kamu." Petugas bagian penjaga memanggil Dirga, dan menyuruhnya untuk keluar. Dirga mengangkat wajahnya. Ia melirik tajam membuat merinding. "Ayo Dirga! Cepet ikut saya!" Tanpa bicara Dirga pun bangun berjalan ke arah pintu tahanan. Lalu dengan pengawalan ketat, paman dari Jovi itu sampai di meja tempat Derry menunggu. "Hai kak!" Sapa Derry. Wajahnya datar tak ada gurat. "Pasti kamu yang laporin aku. Kamu iri kan! Aku bisa dapatkan hartanya Chandra." "Aku ke sini untuk melihat kondisimu. Bukan untuk berdebat." "Nggak tahu diri kamu. Seneng lihat kakak menderita." Suasana justru semakin tidak terkendali. Dirga menarik kerah baju Derry dan terpaksa beberapa orang yang mendengar keributan segera melerai. "Aku nggak nyangka kamu melakukan ini kak. Kenapa harus sampai membunuh. Kasian Jovi. Dia yatim piatu sekarang." "Jangan banyak bicara. Emangnya siapa kakak tertua kalian. Harusnya aku yang paling kaya dari keluarga Wintara!" Kevin Adista yang kebetulan juga mendatangi kantor polisi untuk penambahan saksi. Ternyata kunjungan itu mengharuskan juga Jovi untuk hadir. "Pak Derry apa yang terjadi?" Tanya Kevin saat melihat paman Derry telah kembali. "Kak Dirga, kayaknya vdiannggaknterima banget masuk tahanan. Padahal aku pikir dia akan minta maaf. Mungkin aku bisa menyiapkan pengacara Agra dia tidak terlalu berat hukumannya. Tapi, ternyata aku salah." "Saya cuma ingin yang terbaik untuk Jovi.' "Saya tau!" Ucap Paman Derry. Ia paham betul maksud perkataan dari Papa angkat Jovi itu. ** "Aku mencintaimu. Aku tak bisa hidup tanpamu." Kalimat itu rasanya terngiang-ngiang di kepala Jovi. Hanya membaca saja, dirinya sudah merinding level seratus. Bagaimana kalau sampai mempraktekkan dan melakukan adegannya. Menjamah d**a Gavin lalu tidur di atasnya dengan pasrah. "Ah …! Pikiranku ya ampun." Jovi mengatakannya dengan nada yang cukup tinggi. Setinggi tiang listrik mungkin. Sampai-sampai Gavin yang baru keluar perpustakaannya dan tengah berjalan santai menuju kamar sontak kaget dan bergerak cepat membuka pintu kamar Jovi tanpa permisi. Tampak gadis itu sedang tidur, dengan menggantungkan sepasang kakinya. Sedangkan satu tangan memegang lembaran naskah. Jovi terkejut dan langsung bangun. Ia hanya mengenakan handuk kimono karena baru selesai mandi. Tentu saja sepasang matanya melotot melihat ada Gavin tiba-tiba membuka pintu. Saat itu juga Gavin menelan Saliva. Tapi, akalnya berusaha untuk terbiasa. "Kenapa teriak?" Jovi merasa handuk kimononya terlalu pendek. Ia pun mengambil bantal untuk menutupi. "Nggak! Nggak kenapa-kenapa." Gavin meneliti. "Kamu nggak kepikiran masalah naskah itu kan. Semua adegan itu cuma adegan biasa. Kalau kamu nggak mau. Ya udah, lebih baik mundur dari drama.' "Aku mau kok. Mending kamu keluar, aku mau ganti baju." "Aku keluar. Tapi jangan teriak lagi." Jovi berusaha datar. "Iya!" Gavin pun keluar. Rasanya hatinya kacau balau seperti terkena serangan angin beliung. "Gimana bisa Gavin bilang itu cuma adegan biasa. Hahhh! Kakak yang jahat, kakak yang nggak pengertian." ** Gavin melangkah cepat menuruni tangga dan langsung menuju dapur. Ia segera membuka pintu kulkas dan mengambil botol yang berisi air dingin. Diminum air tersebut dengan buru-buru. "Bego banget aku. Kenapa aku buka pintu kamar Jovi sembarangan …! Diteguk lagi minumannya. Ah! Rasanya tak bisa dilupakan begitu saja. *** "Aku yakin kalau Gavin pun nggak mungkin nganggap semua itu biasa-biasa aja. Nggak mungkin. Emang dia nggak punya hormon laki-laki. Masak iya, dia nggak grogi sama sekali kalau sampai harus adegan kayak gitu. Ih! Aku yakin dia nggak pernah kayak gitu sebelumnya. Yakin." Jovi mengoceh sendiri. Ia merasa kesal berlapis pada Gavin. "Gimana kalau aku ajak dia latihan. Aku mau cari tahu dia masih bisa bilang biasa-biasa aja. Apa enggak. Hah! Emangnya aku percaya gitu aja. Dia kan juga nggak pernah punya pacar." Jovi yang sudah berganti baju. Mengikat rambutnya yang telah kering dengan pita berwarna ungu. Dibiarkan poninya sedikit terurai. Ia yakin kala seperti ini, dirinya pasti lebih cantik dan terlihat tegas daripada Sonya. Ah, gadis itu juga menyebalkan setiap bisa berduaan dengan Gavin. Saat akan membuka pintu untuk keluar. Jovi merasa seperti ada yang kurang. Ia tidak jadi membuka pintu, kakinya malah melangkah ke depan cermin setinggi orang dewasa yang ada di lemari kamarnya. Jovi menyentuh bibirnya. Terasa kering. Mungkin menambah sedikit lip tint tak masalah. Tidak terlalu merah yang kelihatan mencolok, untuk ukuran gadis seumurannya. "Sedikit aroma wangi." Jovi menyemprotkan parfum miliknya sedikit. "Hanya untuk uji coba kalau dia mau dan setuju untuk latihan. Apa benar dia menganggap ini semua biasa-biasa aja. Rasanya aku nggak yakin." Jovi melangkah lagi keluar kamar. Ia akan melakukan uji coba pada kakaknya. Apa benar pria itu akan merasa biasa-biasa saja. "Tok tok tok!" Jovi mulai mengetuk pintu dengan hati yang berdebar-debar dan tidak karuan. Tapi, ia harus berusaha tetap tenang. "Tok tok tok ...!" Pintu diketuk lagi dengan lebih keras. Hening, tidak ada jawaban atau sahutan. Jovi jadi berpikir kalau mungkin Gavin tidak ada di dalam kamar. "Hahh ...! Masak iya sih. Gavin lagi keluar," oceh Jovi sambil berpikir untuk mengetuk pintu lagi. Jovi menghela nafas kesal. padahal sudah dipersiapkan dengan niat dan tekad bulat. Tapi mungkin memang tidak boleh melakukan hal ini. Jelas ini sama saja mengecoh Gavin. Sayangnya, hati kecil Jovi masih menyuruh untuk mengetuk lagi. "Coba sekali lagi deh!" Jovi yang sudah terlanjur malas, mengetuk dengan menyandarkan tubuhnya di depan pintu. "Tok tok tok." Jovi masih bersandar dan mulai yakin kalau di dalam memang tak ada orang. Sementara itu, ternyata Gavin sedang membaca buku dan tak mau diganggu. Ia sendiri masih terganggu sekali dengan apa yang terjadi di kamar Jovi tadi. "Siapa sih." Gavin bangun mulai kesal. mulutnya apalagi makin malas untuk bicara, sekedar untuk memberitahu kalau dirinya ada di dalam kamar. Pintu dibuka dengan kasar oleh Gavin. Pastinya itu membuat Jovi yang sedang bersandar di pintu jadi jatuh tanpa persiapan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN