Gavin hanya bisa menunggu di depan pintu. Selama beberapa saat ia mencoba ingin mengetuk. Tapi, tak jadi. Gerakan tangannya seketika membeku jika ingat Jovi yang baru selesai mandi. “Aku bukan pria m***m yang maksa masuk ke kamar pacar. Meski dia ada di rumahku sendiri,’ batin Gavin. Ia pun memutuskan untuk pergi saja dulu. Gavin akhirnya masuk kamar, dan duduk di meja belajarnya. Di atas meja itu, terdapat brosur kampus luar negeri yang ia keluarkan dari tas saat baru pulang sekolah. “Kalau aku kuliah di sini. Apa Jovi akan ikut ya. Bukannya aku harus satu kampus juga sama dia,’ pikir Gavin sambil melihat brosur kampus yang berasal dari universitas terkemuka di negeri Paman Sam. Ia kira pasti akan seperti itu. Tinggal Jovi saja bersedia ikut atau tidak untuk kuliah ke sana. ** Mentar

