bc

Dalam Pelukan Dendam

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
revenge
contract marriage
family
HE
friends to lovers
arrogant
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
city
office/work place
lies
substitute
like
intro-logo
Uraian

Sesilia. "Hatiku yang sudah hancur bagai cermin yang jatuh ke lantai, takkan bisa kau rekatkan lagi, bahkan jika kamu bersujud di kakiku pun sudah percuma."

Azka. "Jika bersujud di kaki istriku untuk mendapat pengampunan sudah percuma, izinkanlah aku bersujud di kaki-Mu wahai Tuhan, aku tahu Engkau takkan meninggalkan aku. Meskipun ini adalah pertama kalinya aku bersujud padamu, tapi berikanlah aku kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku, Ya Tuhan, aku berjanji takkan mengulang lagi. Bukakanlah hati istriku, lunakkanlah untukku. Engkaulah yang maha membolak-balikkan hati seseorang."

Sesilia yang kecewa dengan Azka karena dijadikan pelampiasan dendam, membuatnya jadi datar dan kehilangan gairah hidup. Azka yang menyesal, tak mampu lagi mengembalikan senyum istrinya.

Akankan Sesilia memaafkan Azka?

Ataukah pernikahan mereka akan berakhir?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Digerebek
"Apa yang kalian lakukan di sini?" "Bukankah Sesilia sudah bertunangan dengan David? Bagaimana bisa sekamar dengan Anda?" "Apakah Anda selingkuhannya?" Terdengar rentetan pertanyaan yang sangat berisik dan ribut. Sesilia yang sedang lelap di pembaringan, mengerutkan kening mendengar hiruk-pikuk suara tersebut, perlahan membuka mata. Seketika matanya membulat, mulutnya menganga lebar saat menyadari banyak wartawan yang tengah berdiri mengarahkan kamera di depannya. "Apa yang kalian lakukan? Keluar! Aku gak pakai hijab!!" Sesilia berseru sedikit histeris, seraya meraih selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Seorang pria berbadan tegap yang berdiri di samping ranjang, hanya memakai jubah mandi segera menghalau wartawan begitu mendengar seruan Sesilia. "Maaf, Sesilia sedang gak berhijab, dia gak suka auratnya diumbar. Tolong keluar dulu, tunggu di depan kamar aja. Nanti habis berganti, kami keluar, oke?" ucap pria tersebut pada wartawan. Dengan patuhnya, para wartawan segera mundur dan berbalik keluar dari kamar. Pria itu pun beralih menatap Sesilia yang tengah cemas di balik selimut. "Mereka sudah keluar, tenanglah." Pria itu bermaksud menenangkannya. "Kamu siapa? Bagaimana bisa ada di kamarku, keluar!!" Sesilia kembali berteriak keras padanya. Pria itu terlihat kesal karena dibentak. Ia mengeratkan gigi menahan marah dan menarik napas untuk menetralkan emosi. "Maaf, tapi aku juga gak tahu kenapa kamu bisa ada di kamarku?" ucapnya berusaha lembut. Sesilia terdiam, dia jadi bingung dengan ucapan pria itu. Setelah berpikir beberapa saat, Sesilia mengintip sedikit di balik selimut, menatap nakas, dan segera mengambil tas, mengeluarkan ponsel lalu kembali menutup tubuhnya dengan selimut. Di dalam selimut, ia menelpon managernya. "Halo, Kak. Apa tadi aku salah masuk kamar?" " Gak tuh, memangnya kenapa?" "Terus kenapa ada cowok di kamarku? dia bilang aku salah masuk kamar. Cepetan ke sini, Kak! Aku takut." Seusai berkata demikian, Sesilia segera mematikan panggilan. Ia kembali berseru. "Kamu yang salah masuk kamar orang, keluar!!" Pria itu mengeratkan gigi dan mengepalkan tangan, lalu berjalan ke sofa. Ia mengenakan pakaiannya yang tergeletak di sana. Begitu selesai, ia segera keluar dari kamar. Sesilia kembali mengintip di balik selimut untuk memastikan pria tadi benar-benar sudah pergi. Begitu yakin, ia menyibak selimut, beranjak dari pembaringan, memakai jilbab dan menunggu manajernya dengan perasaan cemas juga takut, terlihat dari deru napasnya yang berat. Suara ribut-ribut kembali terdengar dari luar kamar. Sesilia semakin tegang. "Ya Allah, ada apa ini? Kenapa aku bisa ke-gep sama pria asing? Apa yang terjadi sih?" gumam Sesilia dengan gelisah. Pintu kamar di ketuk, Sesilia semakin panik. Ia tak berani membuka pintu karena suara ribut wartawan sangat jelas terdengar. Ponselnya pun seketika berdering. Sesilia refleks menjawabnya. "Ya, halo." "Sesilia, buka pintu, aku di depan sekarang!" pinta managernya dari seberang telepon. "T-tapi aku takut, Kak." Sesilia tergagap. Deru napasnya semakin berat, matanya mulai berkaca-kaca. "Wartawannya sudah pergi, kamu boleh buka pintu." "Oh, ba-baik, Kak. Tunggu sebentar." Sesilia pun meletakkan ponsel, beranjak dari sofa dan segera membuka pintu. Sesilia, artis cantik naik daun yang baru sekitar enam bulan lalu terkenal sebab sebuah video unggahan dirinya sedang bernyanyi viral, akhirnya diajak bergabung oleh sebuah agency musik. Manager masuk dengan terburu-buru, wajahnya terlihat sangat cemas. "Sesilia, apa yang terjadi sebenarnya?" tanyanya dengan tidak sabar. Sesilia menggeleng sedih, air matanya jatuh berderai. "Gak tahu juga, Kak. Pas aku bangun, kamarku udah penuh dengan wartawan." Sesilia terus menangis terisak-isak. Managernya melirik arloji, mendesah sebentar lalu menatap Sesilia. "Kamu kenal pria itu?" Sesilia lagi-lagi menggeleng. "Jangankan tahu, lihat orangnya aja, nggak." Sesilia menundukkan kepala, meremas tangannya dengan kuat sehingga tampak kemerahan. "Ya udah, kamu istirahat aja lagi. Nanti kita lihat besok bagaimana," lanjut manager Sesilia seraya bangkit dari sofa dan berjalan ke pintu. Saat pintu dibuka, beberapa wartawan kembali berkerumun dan menyerbu masuk kamar. Mereka melontarkan banyak pertanyaan. Manager Sesilia berusaha menghalau mereka. "Tolong pergi dari sini, gak ada yang bisa kami jelaskan, pergi!" Namun, para wartawan seolah tidak memedulikan seruannya. Mereka terus bergerak masuk ke dalam. Sesilia yang ketakutan segera menyambar tas dan ponselnya kemudian berusaha menyelinap keluar dengan bantuan sang manager. Sayangnya, para wartawan seolah tak menyerah. Mereka mengikuti Sesilia keluar dari kamar. Beruntung Managernya mampu menghalau mereka, sehingga Sesilia akhirnya lolos dari kejaran wartawan dan sekarang sudah berada di tempat parkir, segera menghubungi manajernya lagi. "Halo, Kak. Aku di parkiran sekarang, kita pulang aja yuk!" "Ya udah, tunggu di sana, ya!" Setelah menunggu sekitar setengah jam, managernya pun datang membawa barang-barangnya. "Lain kali, mending kamu ambil asisten deh, repotin banget." Sesilia hanya diam, perasaannya yang galau tidak mampu merespon keluhan lagi, segera naik ke mobil. "Kok bisa-bisanya sih, ada orang nyasar ke kamar kamu?" Sesilia menangis terisak."Aku kan udah bilang, Kak. Aku gak tahu." Managernya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena merasa pusing. "Hahh, ini bakal jadi besar ni urusannya, untung konsernya udah kelar, coba kalau belum, perusahaan bisa dituntut, kita pasti ganti rugi." Tangis Sesilia semakin keras alih-alih mau membantah ucapan managernya. "Bisa berenti nangis, gak? Aku pusing!" Sesilia semakin terisak. Managernya semakin kesal, mengacak-acak rambut. "Kak, aku harus gimana dong? Aku takut, nanti Kak David sampai tahu, terus marah." "Ya mana aku tahu, siapa yang bisa mengunci mulut wartawan sebanyak itu, pokoknya terima nasib ajalah." "Andai Kak David bisa ikut, pasti gak begini jadinya." Segurat rasa pilu menyabet luka menyimpan perih mengenang sang kekasih yang dahulu selalu mengikuti dan menemani dirinya ke setiap konser dan acara life maupun offline, selalu menguatkan dirinya yang begitu rapuh dan penakut. Namun, entah mengapa saat ini kekasih hatinya, menolak menemaninya dengan berbagai alasan. Sesilia yang gadis introvert, selalu tak berani tampil sendirian di depan umum, seluruh tubuhnya langsung gemetar dan panas dingin, jika bertemu dengan orang-orang baru. Hanya jika bersama David, dia bisa lebih rileks dan sedikit nyaman saat berada di tempat umum. "Udah deh, nasi udah jadi bubur, mending kamu istirahat, perjalanan kita masih jauh," timpal Managernya agar gadis itu tidak terlalu sedih. Sesilia terdiam, dia yang memang tak tahu dan tak bisa berdebat, selalu mengalah dan memendam semua perasaannya. Akhirnya gadis itu benar-benar tertidur, meski sesekali terdengar sisa isak tangisnya. Cahaya mentari sudah menampakkan wujud indahnya di ufuk timur saat mobil Sesilia hampir tiba di rumahnya. Namun, beberapa wartawan terlihat sudah menunggu di depan rumah, sehingga dengan cepat sang manager segera memutar haluan. "Aakh, sialan!" Manager itu memukul setir mobil dengan keras, membangunkan Sesilia yang masih terlelap. "Kenapa, Kak?" "Banyak banget wartawan di depan rumah kamu, tuh." "Terus, gimana dong, Kak?" "Kita cari tempat lain, deh. Pokoknya kamu jangan muncul dulu, aku coba hubungi temanku, siapa tahu ada yang mau menyewakan apartemen." "Ooh, makasih ya, Kak. Maaf aku ngerepotin." Ponsel Sesilia berdering, ia melirik dan segera menjawab saat melihat yang menelepon adalah ibunya. "Halo, Bu. Assalamualaikum." "Kamu di mana sekarang? Itu di sosmed bener? Kamu sekamar sama cowok lain?" Mata Sesilia langsung menyala. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Dia tak menyangka berita secepat itu menyebar. "I-ibu sudah tahu?"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook