Kantong Semar & Gadis Misterius

992 Kata
     Kubis rebusan yang kami masak di dalam basi sudah mengepulkan asap. Terlihat lembut, tapi masih memiliki tekstur yang kuat. Aroma segar yang terhirup, memaksa cacing di perutku bergaduhan. Udara perlahan menanggalkan rasa dingin dan rebusan kubis hangat itu terlihat amat menggugah selera.      Marni mengangkat basi berisi rebusan kubis panas itu. Dari pinggir tenda, dia kemudian mengambil sebakul nasi yang juga masih agak beruap. Dari cerita mereka, seluruh kayu bakar sudah mereka gunakan untuk menanak nasi. Karena itulah mereka turun sebentar mencari kayu.      Jumi masih sibuk dengan sendok kecilnya. Matanya tampak memerah dan meneteskan air mata. Dia tampak menekan-nekan wadah plastik kecil berwarna biru itu dengan sendoknya. Mulai tercium bau menyengat yang melelehkan air liur, dari wadah yang dia hadap. “Apa itu sambal?” tanyaku antusias. “Iya, ini lagi kuulek!” Jumi menjawabnya ketus. “Apa enak kalau cabai doang? Baunya aja sengak begini?” sahut Eko. “Ini udah kukasih garam, dan mecin dikit,” sahut Jumi. “Memangnya kowe bawa?” tanyaku. “Kalau enggak, ya mana aku omongin?” Semakin ketus lagi dia menjawab. Aku tak tahu, apa yang membuatnya begitu sentimen. Jadi, aku bertanya lagi kepadanya agar obrolan tak terputus. “Gula?” “Gula?!” Jumi balik bertanya. “Kowe bawa ndak?” tegasku. “Enggak!” jawabnya. “Teh?” “Apalagi itu!” Semakin galak lagi dia menjawab. “Kopi juga enggak ada!” bentaknya, saat aku baru mangap. “Belum juga ngomong,” protesku.      Kalau mau, ngangkring saja sono!” omelnya, sementara mereka menertawakanku. ***      Rasa gurih dan pedas ekstra sambal itu masih kuingat dengan jelas. Telingaku serasa terbakar, air liur tak hentinya mengalir dari dalam mulut. Mata memerah, begitu panas, tapi amat cocok dengan nasi hangat. Hanya dengan kubis hijau sebagai lauk sudah membuat kami berebutan menyantapnya. Meskipun sesudahnya perut kami serasa dijejali bara api, makanan itu masih saja nagih.      Meskipun kadang-kadang angin kencang masih membuatku merasa ingin membungkus diri dengan sarung, cahaya mentari sudah semakin terang benderang. Di hadapanku, Eko memimpin rapat pengambilan rute menuju Gunung Kembang. Dia berencana mengambil beberapa kantong semar13 yang dia janjikan.      Pantas saja mereka mau naik gunung, pikirku.      Semua terlihat antusias kecuali aku. Kepalaku terlalu penuh dengan rasa khawatir, dan takut.      Meskipun demikian, pada akhirnya tekad mereka terlalu kuat untuk kulawan sendirian.      Perjalanan ke sana tidaklah mudah, bahkan bagi anak lereng sepertiku. Jalan setapak yang licin, jurang di sekeliling, jalanan yang jauh dari kata mulus. Nyaris tak ada nilai plus yang bisa kujabarkan kecuali pemandangannya yang spektakuler. Lokasinya yang lumayan menguras tenaga sebenarnya bukanlah kendala berarti. Rasa panas di perutlah yang membuatku sibuk mengelus-elusnya. Bagian belakangku juga terasa seperti terbakar.      Tidak seharusnya aku makan sebanyak itu, sesalku dalam hati.      Keringat mengalir deras, perut terasa mules. Dengan melewati ujian tersebut, kami akhirnya sampai di spot yang dinanti-nanti. Entah mengapa aku merasakan suatu perbedaan. Bukan banyaknya pohon bambu di sekeliling, atau ekstrimnya lokasi. Namun, tempat yang tampak begitu terawat, serta wangi familiar yang tercium hidung itulah penyebab pastinya. Apalagi, suasana tak nyaman yang kurasakan mempertajam perasaan tak enak ini. “Benar di sini, Ko?” tanyaku, sambil celingukan. Rasa dingin tiba-tiba menyeruak hingga membuatku menggosok-gosok bahu. "Ya, iya ini tempatnya.” Eko ikut celingukan. “Tuh, kembangnya, tuh!” Dia menunjuk sekumpulan tanaman berkantung yang tertata rapi, padahal di alam liar.      Jelas terdapat dua varian. Satu memiliki kantong berwarna hijau, dan satu lagi berwarna merah. Tanaman berdaun sejajar ini hanya terlihat seperti rumput mengganggu, tanpa adanya kantong menggantung padanya. Bulubulu halus pada katup kantong setengah terbuka itu, begitu menarik bagiku. Yang kudengar, kantong semar memikat serangga menggunakan cairan dalam kantongnya yang berbau seperti nektar. Begitu ada serangga yang masuk, katup akan tertutup dan serangga akan terperangkap di dalamnya. Terdengar kejam memang, tapi begitulah cara mereka mendapatkan cadangan makanan.      Namun, bau yang kucium itu tidaklah wangi. Memang ada bau wangi yang asalnya tidak jelas. Satu hal yang pasti, itu bukanlah berasal dari tanaman karnivora tersebut. Sebaliknya, kantong bunga tersebut justru menimbulkan bau tak sedap. Serangga aneh di dalam kantong besar berwarna merah itu juga kelihatan janggal.      Kudekati bunga tersebut. Kutatap isi kantong cermat-cermat, dan kudapati firasatku tak meleset. Bukannya serangga, hal tak lazim justru terdapat di dalam sana.      Aku terkoneksi, dan berteriak amat kaget. Mereka yang masih dalam euphoria gembira ikut terkejut, dan menatapku. “Kenapa kamu, Mat?” Eko yang keheranan melempar tanya. “Lihat saja sendiri, lihat!” Aku memasang punggung, sembari menunjuk sesuatu dalam kantong bunga tadi.      Aku masih ingat bahwa benda itu menunjuk ke arah atas dengan sangat jelas. Mataku tak salah mengenalinya. Masih terdapatnya kuku yang memiliki kotoran hitam, dan bercak merah di dalamnya. Memang, hampir sebagian besar bagian kulitnya telah terkelupas. Warnanya pun merah gelap, senada dengan cairan pekat di dalamnya, tetapi busuk yang tercium kian menyengat saat dalamnya kulongok lebih dekat adalah bukti paling nyata atas apa yang kulihat. Namun, ketika Eko yang mendekat. Seekor lalat malah masuk ke dalamnya kantong, lalu katup kantong otomatis tertutup. “Tidak ada apa-apa, kok!” kata Eko. "Buka kalau enggak percaya!” suruhku. Eko menggelengkan kepalanya, saat mendekati kantong itu. Aku jadi semakin galak karena dia memasang tampang datar. “Buka!” perintahku. “Aaa!” Tiba-tiba Marni berteriak, saat Eko sudah begitu dekat.       Segenggam bunga berkantong yang baru saja dia cabut bergoyang hebat. Bunga itu memiliki beberapa kantong. Ada yang masih berwarna hijau, tetapi kebanyakan sudah berwarna merah. Terdapat sebuah kantong yang lebih menonjol karena ukurannya yang melebihi batas wajar. Masih jelas kuingat kala kantong besar itu terayun-ayun, sebelum akhirnya terjatuh, meninggalkan suara entakkan yang terdengar begitu jelas.      Mulai mengalir keluar sebuah cairan merah pekat, serupa yang kulihat sebelumnya. Benda aneh berwarna merah kecokelatan yang agak bulat, tersembul dari dalam kantong. Marni hanya berjongkok, menyembunyikan wajahnya seraya melompat-lompat kecil. Jari telunjuknya terus menunjuk ke arah bunga tersebut.      Saat kami mendekat, kami pun sadar jika benda menjijikkan itu adalah sebuah potongan telinga. Beberapa belatung bahkan menari-nari salsa mengelilinya. Jumi dan aku sontak memuntahkan sambal tadi pagi seketika. Rasa panas dan perih di tenggorokanku hari itu, bahkan masih menyisakan trauma.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN