Kaum Misterius di Puncak Gunung

1158 Kata
Gadis itu membawa kami jauh menaiki bukit. Beberapa shelter yang terbuat dari ranting, dan bahan seadanya terbangun di atas sana. “Lihat mereka!” Dia menunjuk ke bawah dan memasang tampang jijik. Aku sontak mengikuti telunjuknya dan mendapati sekelompok petani tengah menyebar menuju ladang yang berbeda-beda. Hampir layaknya petani pada umumnya. Kecuali satu. Petani macam apa yang sengaja berladang di malam hari? “Yang di sini tuh, punya mereka,” teringat kembali kata-kata yang dia gunakan untuk menghalangi kami mencabut kantong semar siang tadi. Jika mereka yang dia maksud itu petani tersebut. Sudah pasti kami semua dalam masalah. Tanpa berpikir matang, aku pun bergegas kembali turun. “Mau ke mana kamu, Mat?!” cegat Jumi. “Turun, lah! Mereka bertiga pasti sedang dalam bahaya,” ujarku. “Emangnya, lo tau di mana mereka?” sahut gadis tadi. “Soal itu ....” Tiba-tiba, aku melihat beberapa batang jagung yang bergoyang-goyang dari atas bukit. Arahnya sebenarnya agak jauh dari gubuk yang kami gunakan untuk beristirahat, tetapi aku tetap berharap itu dari mereka. Aku memantapkan diri untuk segera turun. Jumi dan gadis tadi pun mengikutiku menuruni jalan terjal berbatu. Mungkin karena mataku mulai terbiasa dengan gelap, sehingga aku tak mengalami masalah berarti. Kami berbelok beberapa meter ke arah gubuk tadi. Kepalaku segera celingukan ke dalam memastikan. Seperti dugaanku, tempat itu kosong melompong. Petani aneh yang kulihat tadi juga tak lagi di sana. Bermaksud memanfaatkan situasi, aku bergegas menuruni ladang lebih jauh. “Jangan lewat situ!” cegah gadis berkacamata tadi. “Memangnya kenapa?” tanyaku. “Mendingan lo lewat pinggiran batu kalau enggak mau celaka!” peringatnya. Sekarang aku berjalan melewati pinggiran. Sayangnya, sulitnya medan membuat kami hanya berputar-putar. Aku bahkan tak tahu lagi harus ke mana. Ladang gelap sepanjang mata menjangkau membuatku kian muak. Lama berputar-putar, lolong jeritan minta tolong seorang gadis menggema dari selatan. Kelelawar-kelelawar misterius beterbangan seiring panjangnya jerit tersebut. Tanpa berpikir dua kali, aku segera mengejar suara tersebut, masih sambil melewati pinggiran. Kulihat beberapa tanaman jagung yang sudah roboh, serta beberapa batang jagung yang bergoyanggoyang di ujung ladang. “Aaa!!!” Suara jeritan itu terdengar lagi. Beberapa ekor celeng berlarian meninggalkan ladang. Binatang yang acap kali menyerang ladang itu memang berhabitat di gunung seperti julukannya; “babi hutan”, dan gunung merupakan tempat alami terbentuknya bioma , satwa yang satu ini. “Amat?!” Tiba-tiba, sosok pria kurus mengagetkanku. “Eko?! Kamu ndak kelihatan makanya aku kaget!” selorohku. “Sudahlah! Sekarang kowe cek dulu keadaan Ilham, moga-moga saja saya salah!” serunya. “Ilham? Kenapa dia?” tanyaku. “Jelaskannya nanti saja!” Matanya menoleh pada sosok gadis yang tengah tersimpuh lemas, menghadap sebujur tubuh gempal yang tergeletak tak berdaya. “Mas! Mas!” Marni sembari menggoyanggoyangkan tubuh Ilham yang tergeletak. “Ma … Marni? Ka … kamu ndak apa-apa, kan?” Lirih suara Ilham membuatku buru-buru mendekatinya. Namun belum juga sampai, tangan terlentangnya yang jatuh, dan terkulai lemas mengagetkanku. Aku tercengang dan hanya bisa tertegun. Tentu saja aku tak bisa mengecek keadaan Ilham lebih jauh, karena kondisi alam yang belum beranjak dari gelap. Apalagi dia tak kunjung sadar. Terpaksa kami membawa Ilham naik bukit. Membiarkannya berada di sini pun, tak akan membuat hal baik datang. Sadar akan hal itu, membuat kami tak membuang-buang waktu. Aku mengangkat kedua kaki berlemak Ilham, sementara Eko dengan cekatan memegangi kedua bahunya. Bobot tubuhnya yang berat kami bagi, secara bergantian. Yang sedikit membuatku penasaran, benda apa yang sedari tadi menggantung di pinggangnya? Aku bahkan beberapa kali dengan sengaja memegangi benda tersebut, hanya untuk memastikan. Benda itu terasa hangat meskipun agak basah. Teksturnya begitu kenyal, dan amat lembut. Tapi aroma yang timbul benar-benar kecut. Anehnya lagi. Desut suara-suara dari arah perutnya terus bergemuruh. Aku berusaha tetap fokus menggotongnya ke atas bukit. Namun, sekeras apapun kucoba menjauhkan pemikiran minusku, tetap saja benda itu memanaskan dahaga penasaranku lebih dalam. Aku bahkan beberapa kali mengulangi perbuatan tadi hanya untuk kembali terheran. Maksudku, tidak ada sabuk yang bentuknya lembek seperti ini. Aku juga tak mampu mendeskripsikan benda lain yang mungkin saja cocok. Sebenarnya, benda apa ini? Pikirku, kala benda basah nan hangat itu kuraba lagi. Dalam bingung berkepanjangan, tak terasa kami tinggal menaiki tangga batu. Inilah ujian sesungguhnya berlangsung. Entah sejak kapan kata gantian menjadi kebiasaan baru yang mulai kedengaran menjengkelkan. *** Sesampainya di atas bukit, kami segera menurunkan tubuh Ilham dengan hati-hati. Semua merasa kelelahan kecuali gadis berkacamata itu, yang memang tidak membantu menggotong Ilham sama sekali. Saking lelahnya, mataku sampai terasa berat. Kami segera merebahkan diri di atas rumput. Tanpa selimut, tanpa alas, tanpa bantal. Obat penenang mujarab bernama lelah, dan kantuk segera membuatku terlelap begitu saja. Begitu sadar, mega mulai membiru meski masih malu-malu menampakkan diri. Perasaan dingin yang menerobos telapak kaki membuat tubuhku gemetaran. Ketika berusaha bangun, dadaku tiba-tiba terasa sesak, tubuhku pun terasa berat. Aku bahkan tak mampu menggerakkan anggota badanku. Kepalaku terasa kosong, seperti tengah me-loading data dari otakku. Mungkinkah ini yang namanya ‘ketindihan’? Pikirku. Begitu terbangun, aku mendapati telapak kananku yang terasa aneh. Terlihat lebih gelap dari biasanya. Ada pula noda kering yang mulai rontok di sebagian sisinya. Sisi seberangnya bahkan memiliki semacam benang atau serat aneh. Dua bagian tersebut terpisahkan oleh garis tengah telapak tangan. Kudekatkan tangan tersebut ke wajahku. Aku merasakan perpaduan antara amis dan aroma besi yang tercium dari sumber yang sama. Kupandang dengan cermat dan mendapati warna kemerahan. Sebuah benda sontak terbesit di benakku. Berharap hal itu salah, aku segera berlari menuju tempat yang terkena sinar matahari. Kubentangkan telapak tanganku lebarlebar. Sialnya, warna merah itu justru semakin jelas diterangi mentari pagi. “Da … darah?!” teriakku. Gadis berkacamata itu sontak terbangun. Aku berjalan gontai mendekati tubuh Ilham. Gagakgagak beterbangan membawa benda-benda berwarna merah dari dalam tubuhnya. Bau amis itu semakin kuat tercium, seiring dengan semakin dekatnya kakiku melangkah. Wajahnya pucat pasi dengan bibir agak berkerut. Aku mendapati baju birunya yang sudah berubah merah, terutama di bagian perut. Benda merah pekat itu masih mengalir pagi itu. Kutatap warna merah, dan segumpal benda putih di perutnya. Benda menggumpal itu ternyata usus. Mataku semakin terbelalak melihat usus di perutnya sudah terburai keluar, bahkan dengan kondisi yang tak utuh lagi. Jadi suara semalam itu .... Benda yang ku pegang itu .... “Ueek!!” Isi perutku yang tak seberapa berebutan keluar. Tubuhku menggigil hebat. Air mata kepedihan tak berhenti mengalir melewati pipi dinginku. Pedih. Mataku terasa begitu perih, meski tak ada benda asing menyusupinya. Perut bawahku juga merasakan terganjal sesuatu yang berat. Tak berlebihan rasanya jika aku berpikir, sebongkah batu bata berada di sana. Pantas saja aku rep-repan . Sesal semakin membuatku merasakan pedih. “Sori, Ham, sori!” ucapku dengan suara gemetar menahan tangis. Perut bawahku semakin, dan semakin terasa nyeri. Perpaduan rasa asin, dan asam kembali memenuhi mulutku, kala kutatap kedua tanganku. Aku menutup mulutku rapat-rapat dan segera membalik badan. Meskipun satu per satu dari mereka mulai terbangun dan mendekatiku, hal itu tak menghentikanku memuntahkan isi perutku lagi. Wajah kebingungan mereka membuatku tertunduk lesu. Aku segera menunjuk ke arah Ilham dengan telapak tanganku yang penuh darah. Gemetar, berkeringat, tetapi kupertahankan telunjuk lemasku tetap berdiri tegak. Keringat di tanganku perlahan membuat darah itu luntur. Meski terkejut melihat tanganku, mereka tetap saja menoleh ke arah Ilham.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN