Suasana Berkabung di Puncak Gunung

1319 Kata
“Apa yang kowe lakukan?!” Marni berteriak, sambil berlari ke arahku. Kepalaku segera berpaling, membuang pandangan. “Jawab!” Semakin kasar lagi, dia membentak. Tubuhku terasa seperti mengambang. Lemas, tak bertenaga, layaknya kain jemuran. Marni menarik kaosku. Terasa sedikit sesak ketika leherku tertekan kerah kaosku sendiri. Eko perlahan mendekat. Jumi mengikuti, dan gadis berkacamata itu hanya terdiam, sambil menyilangkan tangan. Cengkeraman tangan Marni terasa kian kuat. Semakin jengkel, kutarik tanganku kuat-kuat. “Aku tidak melakukan apa pun!” Keras suaraku membuat Jumi membatu. “Lalu, bagaimana kowe akan menjelaskan itu?” Marni melirik ke arah tangan kananku penuh benci. “Soal itu ....” Tiba-tiba Eko mencengkeram tangan Marni. Dia memaksa Marni melepas genggamannya. Wajah Eko tampak heran melihat bekas cengkeraman tadi. “Apa itu?” Eko menunjuk kerahku yang berantakan. Kutatap kerah baju lecekku yang tiba-tiba memiliki noda. Baunya yang amis menyengat hidung mengingatkanku pada noda serupa di tanganku. “Lihat?! Apa masih mau berkelit?” Marni menimpali dengan suara serak. “Itu bukan dari Amat. Lihat tanganmu sendiri!” seru Eko. Marni menurutinya. Dia rentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Kepalanya sontak tertunduk mendapati noda merah di tangannya. Kedua telapak tangannya, bahkan menimbulkan aroma yang lebih amis dariku. Dia segera menjerit sejadi-jadinya. Jumi, dan Eko yang panik sontak meneliti tubuh mereka masing-masing. Sama saja, mereka juga memiliki noda serupa. Hanya gadis berkacamata itu yang tak memiliki noda sejenis. Alasannya mudah, dia tidak ikut menggotong tubuh Ilham yang penuh darah, semalam. “Pantas saja semalam dia tidak bisa berjalan.” Lutut Eko tertekuk. Tubuhnya gemetaran, mengungkap rasa sesal. Marni hanya bisa menangis sambil memeluk tubuh kaku Ilham yang dikerubungi lalat. Tangannya yang amis bergerak-gerak berusaha mengusir lalat-lalat itu. Alih-alih pergi, lalat-lalat kurang ajar itu justru menargetkan tangan kami untuk hinggap. Dalam posisi bersimpuh, Marni sampai terlompat-lompat kecil, memukul-mukul tubuh Ilham. Semakin sesak suara raungannya, semakin pilu saja nada suaranya. Eko melirik ke arahku lalu menggeleng, sebelum mendekati Marni. Dia kemudian meminta Marni bergeser. Sejenak dia membuang muka dan menutup mulut, ketika mendekati tubuh Ilham. Dia pegang d**a Ilham. Disentuhnya lengan kakunya. Didekatkan tangan kanannya ke hidungnya. Penuh sesal, dia menggeleng sambil berjalan mundur dengan lunglai. Lagi, semakin keras lagi Marni menjerit. Kukerahkan tenagaku yang tersisa untuk mendekati Eko. “Kenapa bisa begini?” tanyaku gemetaran. Dengan gontai, dia berjalan mendekatiku. Dia terdiam agak lama, sebelum mulai bercerita. Cerita yang dia dengungkan benar-benar melenceng dari logika alam. Aku terperanjat, tak mampu berkata-kata. Tubuhku terdiam usai mendengarnya. Di pojok bukit, aku terduduk meratapi kepergiannya. Mataku semakin mengembun sampai kantung mataku tak mampu lagi menahannya. Bersamaan dengan jatuhnya tetesan air mataku, kujeritkan isi kepalaku yang rasanya ingin meledak. Pedih semakin terasa menyayat, tatkala mereka menatapku iba. Gadis berkacamata itu bahkan tak kuasa, pergi. Mungkin dia merasa canggung? Atau mungkin, adegan tersebut membuatnya muak dan tak ingin berlama-lama berada di sana? Apa pun alasannya, keputusannya untuk pergi mungkin pilihan terbaik. Kami semua tentunya dalam kondisi yang tak rasional untuk meladeni mulutnya yang pedas. Jangkrik berderik lantang, lengking teriakan serangga mengiringi. Matahari yang merangkak naik pagi itu tak bisa terlihat indah di mataku. Gagak-gagak kelaparan di atas ranting pohon masih saja penasaran dengan bangkai Ilham. Kepala mereka bergerak-gerak tak melepas pandangannya. Dengan mata mereka yang merah menyala, mulut mereka kadang menjulur- julurkan lidahnya, terlihat betul kalau tidak puas hanya dengan mencicipi daging mentah Ilham. Eko berjalan pergi dengan tampang sedih. Beberapa lama kemudian, seonggok daun pisang dia genggam. Dia kembali mendekati jenazah Ilham. Dibentangkannya daun tersebut menutupi perut menganga Ilham. Tangannya berusaha menjangkau wajah pucat Ilham, sebelum ditepis Marni dengan kasar. Dia sontak mendorong Eko yang tengah berusaha menutup mata Ilham yang terbelalak. Marni menatapnya bak induk ayam yang tengah melindungi anak-anaknya. Dengan lesu, Eko hanya bisa melangkah pergi membiarkannya. Dia berbisik pelan saat meninggalkan Marni, “Dia sudah pergi!” Semakin lantang saja raungan pilu Marni. Dia bahkan lebih sering melompat-lompat kecil, sembari memberontakkan kedua kakinya yang bersimpuh. Roknya yang panjang tak dia hiraukan meski sudah pasti berakhir kotor. Merasa tak tega, kupalingkan kepalaku. Meski tetap terdengar, paling tidak aku tak harus melihatnya berguling-guling. Kenyataan yang ada saja sudah terlalu menyakitkan, apalagi pemandangan ini. Karena kematian itu sebuah fenomena ilmiah, apalah dayaku yang hanya seorang manusia biasa. Bahkan, kematian tak pernah memberi tekanan seberat ini sebelumnya. Hari itu, aku mulai jadi tahu, kenapa manusia takut sekali pada kematian. *** Flashback. Entah sudah berapa lama mataku terbelalak. Nasehat mereka untuk tidur sudah berulang kali menyusupi telingaku. Tetap saja, bayangan kemarahan Ilham akan tersembul, kala mataku terpejam. Memperbaiki shelter kulakukan, hanya demi membunuh waktu. Hingga akhirnya, mataku perlahan terasa berat. “Ngapain kowe lihat-lihat?!” Seorang anak kecil berteriak dari halaman rumahnya yang luas. Wajahnya bundar dan berpipi tembem. Tubuhnya terlihat gempal dengan baju yang tampak kekecilan. Masih membawa bubur plastikan di tangan kanannya. Dia mulai mendekat dan memelototi anak kecil lain di depannya. “Terserah aku, lah!” Anak yang dipelototinya menimpali. “Kenapa, Mas?” seorang bocah lainnya, keluar dari dalam rumah besar itu. Kaki-kaki busikan gadis kecil itu sedikit menarik perhatianku. “Itu si Amat, tetangga kita! Pake liat-liat segala,” keluhnya. Aku?! Apa ini berasal dari ingatanku? Pikirku. Kutatap bocah itu dan kucermati wajahnya. Aku sedikit tersenyum melihat wajahku dulu ternyata setengil ini. Lalu, aku beralih pada Si Bocah Gempal. Aku melihat rumahnya yang besar, lalu kutatap lagi wajahnya. “Ilham?! Kamu masih hidup?” tanyaku, sementara bocah gempal itu mengabaikanku. Mungkinkah aku kembali ke masa lalu? Meskipun hal itu sudah pasti mustahil, pemikiran bodoh itu tetap saja tak bisa lepas dari benakku. “Emangnya kenapa? Apa kowe bakalan mati kalau aku lihatin?” Aku kecil menjawabnya, sengak. Ya, tidak salah lagi. Bocah dengan tampang jutek yang terlihat menantang-nantang itu sudah pasti aku. Atau, lebih tepatnya versi kecil. Rambut ikalnya, tubuhnya yang kurus, mata bengis berwarna coklat, dengan bentuk wajah persegi yang terlihat songong. Aku kecil masih berdiam diri, kala Ilham kecil mendekat. Namun, gadis kecil tadi segera menarik kakaknya kembali ke dalam. Dia Marni, ya? Pikirku, menyelami ingatanku kian dalam. “Awas kamu, ya!” Ilham kecil mengancamku, sambil masuk ke dalam rumah. Aku kecil meludah remeh, ikut masuk ke rumah. Aku merasa sedikit malu melihatnya. Kaki-kaki kotor versi kecilku, mulai menapaki lantai rumah yang kala itu, baru saja selesai diplester beberapa bulan lalu. Rumahku terlihat sepi karena ibuku masih bekerja di Malaysia sebagai TKW. Kursi-kursi kayu di ruang tamu terlihat berantakan. Sampah-sampah kecil juga menumpuk di sudut ruangan. Maklum, ayahku yang doyan judi dan mabuk-mabukan tak pernah sudi bersih-bersih. Hal itu pula yang membuat tamu enggan datang. Buntutnya, aku dan semua masalahku membuat anak lain menjauhiku. Sebelum saling maki dengan Ilham, aku baru saja main di luar seperti biasanya. Berkelahi, menjahili tetangga, keseharian nakalku terus kuulangi demi secuil perhatian. Sampai di rumah, aku begitu lega karena ayahku tak ada di sana. Aku segera berlari menuju kamar mandi. Mencopoti baju-baju kotorku, lalu melemparnya ke dalam ember. Aku kemudian mengambil sabun colek dan mulai mencucinya satu per satu. Rasa dingin semakin kurasakan usai mencuci pakaian kotorku. Setelah selesai, aku kemudian menciduk segayung air dari dalam bak, bersiap mandi. Aku kecil menatap air itu sedikit ragu, sebelum menyiramkannya ke badan. Sembari meyakinkan diri, versi kecilku mengguyurkan air tersebut ke kepala. “Sudah kuduga tidak enak.” Entah bagaimana, pikiran kami terhubung. Rasa dingin yang janggal, bahkan berefek langsung padaku. Dengan cepat, versi kecilku menggosok-gosok badannya yang penuh keringat dengan sabun. Sampo sasetan yang biasanya tergantung sudah habis. Diambilnya beberapa plastik sampo yang sudah kosong. Aku kemudian mencelupkannya ke dalam bak mandi dan mengocok-ngocoknya hingga berbusa. Air busa itu kugunakan untuk membersihkan rambut, tak banyak berharap tentunya. Punggung versi kecilku penuh bekas luka. Gambaran punggung kecil itu membuatku tergelitik untuk memeriksanya. Rasa perih juga kurasakan, kala air dingin itu mengalirinya. Yang semakin membuatku geram, para tetangga. Mereka sebenarnya tahu jika ayahku sangat hobi menyiksaku. Mereka hanya takut, sehingga tak bisa berbuat apa-apa. Menjadi nakal untuk mencari perhatian adalah caraku melarikan diri dari kenyataan. Pelampiasan, mungkin kata itu lebih tepat untuk menggambarkannya. Namun, tingkahku yang berbeda justru ditanggapi frontal oleh sekeliling.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN