Ingatan

2193 Kata
Selesai mandi, aku segera membentangkan pakaian yang baru saja kucuci. Aku kemudian kembali ke dalam, hanya untuk menyadari jika hari itu tak ada lauk. Mirisnya, dengan sejempol garam aku memaksakan diri untuk sekadarnya menghilangkan rasa lapar. Mataku mulai mengembun mengingat hal serupa yang pernah kulalui. Kenapa aku bisa melupakannya? Pikirku. Aku juga mulai ketakutan, teringat adegan selanjutnya. “Jangan pergi!” Aku coba memperingatkannya. Namun ia tetap saja melangkah. Suaraku seakan tertahan di udara, sekeras apapun aku berteriak. Tanganku juga tak bisa menggapai apa pun yang ada di sekelilingku. Benar saja, ayahku datang. Tubuhnya sempoyongan, dan bau tak sedap di mulutnya menyeruak. Selinting tembakau lokal terapit jari tangannya. Langkahnya yang terdengar lebih menakutkan dari jeritan kuntilanak, menggema di halaman. Tangannya yang kurus mendorong pintu b****k itu dengan kasar. Sembari mengembuskan asap rokok, pria dengan kumis dan janggut tak terurus itu memanggilku. “Mat! Amat! b***k apa tuli sih, kowe?!” Dengan lantang dia berteriak. Kekesalannya kalah judi dia lampiaskan kepada anaknya. Menarik, menjambak, bahkan tak segan memukul, hingga menendang. Beberapa tetangga yang melihat hanya bisa membuang muka. Beberapa malahan semakin kencang berjalan. Mereka takut, pria menakutkan itu beralih membentak mereka. “Ampun, Pak! Ampun!” Aku kecil merengek, dengan gumpalan nasi yang belum lumat sempurna di mulutnya. Beberapa nasi bahkan yang jatuh berceceran tak membuat Si Bapak iba. “Biadab kowe!” Caci makianku hanya sia-sia. Berulang kali berusaha menghajarnya juga nihil. “Makan apa kamu?!” bentak Bapak. Bocah itu semakin keras menggemakan tangis. Dia berusaha menelan nasinya yang asin, walau nafsu makannya sudah lenyap. Rasa nasi dingin yang tentunya jauh dari kata layak itu benar-benar seburuk garam dapur itu. Garam yang sudah berminggu-minggu menganggur, dan kini bercampur. Melihatnya saja, aku langsung tahu seberapa buruk makanan itu. Mungkin sang ayah sedikit merasa tak tega melihat anaknya memakan makanan tak bernutrisi itu. Dia hanya berlalu, dan segera pergi hari itu. Nenek dan kakek dari Bapak, keduanya telah meninggal. Sebenarnya, bisa saja aku memilih pergi bersama nenek dari Ibu. Namun, jarak menjadi tembok penghalang usaha itu. Pernah beberapa kali mereka membawaku untuk waktu yang lama. Sekolah, mengaji, pokoknya semua kegiatan di rumah tertanggalkan, beserta pelampiasan Bapak. Semua terasa menyenangkan kecuali perasaan sungkan saat berada di lingkungan yang tak kukenal. Berada di rumah puluhan kali lebih baik, jika saja tak ada Bapak. Toh, dia juga pasti akan merengek-rengek supaya aku bisa pulang dengannya. Meski akhirnya, perlakuan tak pantas itu kembali dia lakukan. Hari itu, seperti biasa aku akan berdiam di kamarnya sembari mengutuk Bapak supaya cepat mati. Hingga, aku melihat bocah gempal kemarin tengah bermain mobil-mobilan dari bambu. Montoran angkrek, begitulah kami biasa menamainya. Degan tongkat bambu, bocah gempal itu mendorong mobil-mobilan norak itu ke sana kemari. Begitu gembiranya dia tirukan suara mobil, ke sana kemari. Bannya terbuat dari potongan sendal jepit yang berbeda warna. Satu merah, satu kuning, dan satunya lagi hijau. Mungkin dia terinspirasi dari Bob Marley. Hanya saja, terlihat brocal-bracel dan jauh dari kata bundar. “Hahaha … itu ban apa? Kotakan nasi pengajian?” ledek versi kecilku. “Daripada kamu, ndak punya!” balas Ilham, “wee!” Dia kemudian menjulurkan lidah dan berlari kian kencang. Aku kecil hanya mampu terdiam dengan jengkel. Sorenya, versi kecilku bergegas mencari bambu dengan pikiran balas dendam yang memenuhi kepalanya. Sepulang mencari bambu, ayahnya ternyata sudah di rumah. Namun, wajahnya terlihat cerah. Dia menghadap sebuah benda yang masih dibungkus plastik. Beberapa tusuk bambu yang tersembul dari plastik tersebut membuatku antusias. “Sate, ya, Pak?” Aku dengan semringah bertanya, sembari mendekat. “Tau saja kamu, Dol!” jawab Bapak. Sembari tersenyum. Bocah itu hanya menatapnya dengan air liur yang berkumpul di mulutnya, sampai Bapak menawari, “Ayo dimakan! Ndak mau?” Apa ini? Apa benar dia Bapak? Pikirku, seakan adegan ini tak pernah terjadi. Lambat laun, aku pun mulai ingat. Pada waktu tertentu ayahku memang bisa berubah drastis, tergantung suasana hatinya. Membelikan robotrobotan usai menang judi, misalnya. Hari itu juga sepertinya kiriman ibuku datang. Bahkan, jika bukan karena judi dan alkohol, ayahku mungkin bukanlah sosok ayah yang buruk. *** Cahaya senja perlahan memudar di balik lancipnya atap rumah Pak Kadus. Tangan-tangan kurusku baru selesai mencacah bambu yang kubongkok kemarin sore. Aku dengan cekatan membelah dan merapikan potongan-potongan bambu tersebut. Sembari membayangkan mobil bak Pak Kades yang suaranya terbatuk-batuk, aku kecil mulai merangkai bambu-bambu itu satu demi satu dengan bayangan indah di kepala. Tak terasa, peluh mulai mengering begitu aku mentas dari pekerjaanku. Aku memulai tahap selanjutnya, usai segelas air putih kutenggak langsung dari teko. Ketimbang mencuci gelas hanya karena minum air putih, rasanya sayang. Aku jadi terbiasa melakukan hal tak sopan tersebut sampai beranjak dewasa kini. Aku mengangkut bambu-bambu itu ke dalam rumah. Tanganku tengah penuh dengan bambu cacahan dan karet gelang, saat kedatangan Bapak. Aroma menyengat yang sangat kubenci tercium kuat dari mulutnya. Benar saja, Bapak yang baik dan perhatian sudah lenyap. Kini, dia sudah kembali lagi ke cangkang lamanya. Bambu-bambu bawaanku jatuh berserakan karena tanganku yang gemetaran. Suaranya yang berisik membuat Bapak menjadi murka. “Ngapain kowe?! Dasar t***l!” tanpa salah, dan dosa nyata Bapak memakiku. “Maaf, Pak!” ucapku penuh takut. Meskipun terlihat klise, adegan ayah antagonis tersebut nyatanya masih saja berlaku di dunia nyata. “Minggir kowe! Ganggu kesenanganku saja!” bentaknya. Kapan senangnya kalau masih mabokmabokan? Pikirku. Sembari memunguti bambubambu yang kujatuhkan. Kepalaku terus menunduk sementara Bapak tak henti memaki. Setelah merasa lelah, Bapak baru membanting pintu, dan bergegas keluar rumah. Itu pun, masih sambil memaki-makiku dari luar. Masih untung aku bisa selamat tanpa gamparan. Sadar akan hal itu, aku kecil segera membawa bambu-bambu tadi ke kamar. Dua buah sendal jepit bekas sudah kusiapkan di dalam sana. Menggunakan gelas plastik kecil, aku mulai menggambar sebuah lingkaran di atas sendal tersebut. Setelah itu, dengan hati-hati kupotong sendal itu menggunakan pisau, mengikuti pola lingkaran tersebut. Aku tak tahu mana yang lebih memalukan, tidak bisa mengikuti bentuk gelas, atau tidak bisa mengikuti pola? Aku kecil menciptakan sebuah roda aneh dari sendal jepit, yang bentuknya begitu ambigu antara hexagon, atau setengah lingkaran. Namun, wajahnya begitu puas hingga membuatku geleng-geleng kepala. Tiga roda berikutnya malahan lebih parah. Alhasil, terciptalah sebuah miniatur mobil bak terbuka dari bambu, dengan bak yang terlihat miring. Namun, lagi-lagi tatapan puas menyedihkan itu dia perlihatkan. Apa aku dulunya se-pede itu, ya? Pikirku. Kebetulan, Ilham kembali bermain dengan montor angkrek-nya, yang seakan menjerit-jerit. Roda-rodanya yang nyaris kotak dia paksakan menggelinding, di atas jalanan cor yang memisahkan rumah kami. Versi kecilku segera mengejarnya. Dia mendorong mobil-mobilan desain gagalnya sok gagah, tak menyadari mainannya yang juga seolah menjerit-jerit. Entah apa yang kupikirkan saat itu, dengan sembrono kuterjang mobilmobilan Ilham hingga kedua ban belakangnya copot. “Sompret kamu!” maki Ilham. “Weee!” Versi kecilku tak peduli. Ia dengan kurang ajarnya menjulurkan lidah, tanpa menunjukkan penyesalan sedikit pun. Ilham yang emosinya memuncak sontak mengangkat mobil-mobilannya. Dia kemudian melemparkannya ke arah versi kecilku. Aku yang tak menyangka hanya bisa pasrah menjadi landasan mainan reyot yang melayang itu. “Asem, kamu!” Aku ikut mengangkat mainanku, dan balas melemparkannya kepada Ilham. Sesaat, kelihatan begitu konyol saat mainan itu terpental dari perut besar Ilham. Dia yang sebenarnya menahan amarah sedari tadi tak lagi dapat menjaganya. Dia langsung mengejar versi kecilku. Tangan gemuknya berusaha menjangkau pipi kananku. Benar-benar gaya berkelahi yang masih sangat norak. Aku kecil yang menang posisi tanjakan, berhasil mengimbangi tenaga badak Ilham. Sampai tiba-tiba, “Apa-apaan kalian?!” Sosok gadis cilik dekil memperingatkan keduanya. “Enggak usah ikut-ikutan, Ndung!” usirku dengan tampang emosi. “Oh, mau sok jago, kowe?!” Gadis kemel itu justru berjalan mendekat dengan kedua tangannya yang terkepal. Dua kali straight, dua kali jab , dan sekali upper cut menumbangkan versi kecilku yang congkak. Ilham juga tak luput dari sasarannya. Tendang, tonjok, bahkan jambakan dia lakukan hingga bocah gempal itu menangis keras. Aku kecil hanya terdiam. Kombinasi antara bingung, dan terkejut, lebih mendominasi. Ketimbang rasa sakit yang didera. Aku jadi ingat kalau Marni itu sangat menyeramkan, pikirku agak ngilu mengingatnya kembali. *** “Amat!” Aku terperanjat, bangun dari dahan rindangnya pohon nangka. “Mar … Marni. Kok, udah gede?” tanyaku, setengah ngelindur. “Ngomong apa kamu?” tanyanya. Perlahan, wajah cantik Marni kian mendekat. Aku hampir saja melupakan potret lamanya yang mirip preman pasar. Perlahan, tubuhku yang pegal-pegal kurasakan. Tenggorokanku juga terasa masam karena tidurku yang tak nyenyak. Ludah pekat yang lengket di mulut terasa begitu tak nyaman hingga mulutku tak bisa diam. “Ada apa?” tanyaku dengan suara yang kurang jelas akibat menguap. “Kami sudah berdiskusi,” jawabnya, pasrah. “Diskusi apa?!” tanyaku, lagi. “Hari ini, kami akan menguburkan mayat Mas Ilham,” sahutnya. “Serius kamu, Mar?!” yakinku. “Aku juga sebenarnya enggak mau. Tapi, daripada tubuhnya dimakani gagak? Lebih baik kita kubur saja sementara. Kalau kita udah turun, kita bisa minta tolong warga ke sini,” terangnya. Aku coba mendebatnya, sebelum melihat matanya yang berembun. Dia pastinya telah mempertimbangkan ini jauh lebih berat daripada aku yang cuma tidur. Aku hanya bisa menepuk pundaknya. “Kalau itu sudah jadi keputusanmu, ya sudah. Aku enggak bakal komentar lagi!” ucapku. “Terus, sekarang kenapa kowe bangunkan aku?” lanjutku. “Gimana sih, kamu, Mat!? Apa kamu ndak mau ikut? Kamu tega memangnya?” omelnya. “Bukan gitu, Mar, aku tadi dapat mimpi. Mungkin malah wangsit dari Mas-mu,” ujarku. “Wangsit? Wangsit apa?! Aku yang adiknya sendiri saja enggak dapet yang seperti itu!” bandingnya. “Aku sudah melakukan hal buruk padanya.” “Buruk seperti apa?” desak Marni. Aku terdiam. Tidak mungkin kukatakan kalau aku pernah menarik-narik usus Ilham yang terburai. Seketika, ingatanku pada kondisi mayat Ilham terpanggil. Rasa asin segera memenuhi mulutku, hingga aku berlari ke pojokan untuk sejenak muntah. Sakit, begitu sakit. Pedih, terlalu perih. Tenggorokanku, perutku, organ pencernaanku, semuanya serasa dijajah habis. Tak ada lagi isi perut yang yang bisa kukeluarkan. Usus di dalam perutku bahkan serasa tertarik keluar hingga perutku begitu ngilu. “Kenapa, Mat?” Marni menepuk-nepuk punggungku dari belakang. “Enggak apa-apa, Mar!” tenangku. Kutepis tangan lembut yang bersandar di punggungku itu dan bertanya, “Kamu ingat, kan, kalau aku itu dulu musuhan sama Ilham?” “Memangnya, sekarang enggak?” sahutnya. “Sekarang memang kelihatan ndak akur. Tapi, aku tau kalau dalam hati masing-masing itu tidak punya dendam pribadi. Cuman masalah komunikasi,” jawabku. “Lah, itu tau!” Aku menggeleng. Kuceritakan kepadanya tentang mimpi-mimpiku. Tentang perkelahian kami di masa lalu. Tentang bagaimana buruknya hubungan kami, juga tentang masa lalunya yang mungkin tak ingin lagi dia bicarakan. “Mungkin, dia ingin berpesan agar aku tak ikut dalam penguburannya,” ujarku. Marni justru tersenyum. Dia kemudian berputar hingga wajahnya terlihat jelas. “Sebaliknya, Mat!” ucapnya. “Mas Ilham pasti bakalan sedih kalau kamu ndak ikut,” lanjutnya. “Kamu dengerin ndak, sih?” raguku. “Hm? Coba sini aku dengerin.” Marni terduduk sembari menatapku. Kali ini, kuceritakan tentang kondisi keluargaku saat itu. Kuceritakan pula, kelakuanku kepada Ilham. Semuanya kuceritakan ulang, berharap ada yang bisa dia tangkap kali ini. “Kan? Itu pasti wangsit, Mar. Ndak salah lagi,” eyelku. “Wangsit?!” Marni mendelik begitu murka. Seketika itu, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku. “Mas Ilham enggak mungkin ngasih wangsit seburuk itu ke kamu, Mat!” lanjutnya. “Tapi itu yang sesungguhnya Mar, kakakmu mungkin membenciku!” sanggahku. Tak cukup dengan menampar, dia menarik kerah kaosku. Wajahnya terlihat amat marah. Aku bahkan sekilas melihat siluet masa kecilnya. “Mas Ilham enggak pernah membencimu, bahkan untuk secuil pun!” “Kenapa kamu bisa bilang begitu?!” Jengkel, kutepis kedua tangannya. “Kenapa?!” tegasku. “Karena dia selalu bercerita tentangmu!” jawabnya. “Bercerita, katamu? Maksudmu, dia tidak membenciku, padahal aku menjauhi kalian sejak pindah ke SD desa sebelah?” raguku. Marni hanya menggeleng. Itu membuatku kembali bertanya, “Walaupun aku ikut ngamuk kelas kalian di pertandingan bola saat SD?” Lagi-lagi Marni menggeleng. “Walaupun aku melemparnya dengan montoran angkrek?” tanyaku lagi. “Mungkin sedikit.” Sejenak Marni tampak berpikir. “Apa-apan, tuh?” gumamku. Marni tampak tertawa kecil sementara mereka sudah mengerubungi kami. “Lalu, apa dia juga tidak membenciku, walau aku memencet-mencet ususnya hanya karena penasaran?” Fatal. Aku kelepasan, dan mengatakan hal yang paling patut disembunyikan. Marni terperanjat. Aku pun, melanjutkan pengakuanku yang terlanjur keluar. “Waktu kita bawa mayatnya dari bawah, aku melihat usus Ilham yang tergantung. Aku malah memeganginya dengan kesadaranku sendiri. Mungkin karena itulah dia memberiku wangsit,” sesalku. Marni begitu terkejut. Dia bahkan sampai menutupi mulutnya dan berjalan mundur. “Itulah kenapa tanganmu berdarah tadi pagi!” lanjutku. “Kenapa kamu lakukan itu?!” tanya Marni. “Aku melakukannya hanya karena penasaran, Mar. Penasaran!” beberku. “Malam itu, aku beberapa kali memegangnya hanya untuk memastikannya. Bodohnya, aku tak sadar kalau itu adalah usus. Lagi pula, siapa yang pernah memegang usus sebesar itu?” lanjutku, terisak. Air mataku meluap-luap saat pengakuan itu terlontar dari mulutku. Aku mulai terduduk, menangis, sembari memegangi kepalaku. Entah mana yang lebih menyesakkan. Pengakuan tersebut, atau kenyataan bahwa aku memegang usus Ilham. “Kowe menariknya dari dalam perutnya?” tanya Marni. “Kamu gila?! Demi Tuhan, aku bersumpah! Aku tak akan pernah melakukan itu!” jawabku, tersinggung. “Maka, Mas Ilham tidak punya hak untuk membencimu, hanya karena itu,” ujarnya. “Bagaimana kamu tau? Bertanya saja tidak,” selorohku. Giliran pipi kiriku yang kena gampar. Marni begitu murka. Dia bertanya kepadaku begitu lantang, “Apa kamu akan terus menghina Mas Ilham dengan berkata dia seorang pendendam?!” bentaknya. “Aku tidak ....” “Kamu terus saja mengatakannya!” potong Marni. Seakan tahu yang akan kukatakan, dia mendahuluiku. Sejenak aku berpikir ulang, Marni benar, apa yang kukatakan itu menyudutkan Ilham. Dan itu bukanlah sikap yang pantas diperlihatkan oleh seorang teman. “Tapi, dia seperti ingin aku melihat mimpi itu,” gumamku. “Tentu saja, Mat! Tentu,” sahut Marni. “Apa kowe ingat seluruh kelanjutannya?” lanjutnya. Saat itu juga, kuselami lagi ingatanku. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN