Aku kembali pada ingatan masa laluku di mana Marni habis menghajarku. Marni menjewer telinga Ilham, tak memedulikan tangisannya. Aku masih menatapnya dengan perasaan waswas. Pasalnya, mata menyeramkan itu sesekali melirikku. Berlebihankah aku jika dibuatnya ketakutan karena dia wanita? Walaupun, bela dirinya luar biasa? Entah itu memalukan atau tidak, yang jelas Marni memang sempat mempelajari tinju, saat masih tinggal di Banjarnegara.
Dia hidup bersama neneknya hingga setengah tahun lamanya. Ibunya yang berangkat ke Malaysia berbarengan dengan ibuku kebetulan memisahkan mereka. Ilham dengan ayahnya, sementara Marni ikut neneknya yang merengekrengek memintanya tinggal. Namun, kehidupan di Negeri Jiran tak bisa dia ikuti hingga terpaksa pulang kandang tak sampai setahun. Di sanalah dia banyak belajar dari pamannya yang seorang pelatih tinju.
“Setelah itu, apa lagi, ya?” Pikiranku menemui kebuntuan.
“Apa? Masa ndak ingat?” desak Marni.
“Kalau enggak salah, aku dan Ilham mengerjaimu,” gumamku.
“Terus, terus?” Marni menyemangatiku. Aku hanya mendehem, berusaha mengingat-ingat.
Yang kuingat, aku kembali bertemu dengan Ilham keesokannya. Matanya masih bendul akibat menangis semalaman. Tampaknya, dia masih dimarahi sampai di rumah. Kebetulannya lagi, ayahku juga masih belum pulang.
Ini kesempatan yang bagus buat balas dendam, pikirku.
“Woy, gendut!” panggilku dari depan rumah.
“Namaku Ilham, bukan gendut!” protesnya.
“Terserah kamu, lah,” acuhku. “Oh iya, kamu mau balas dendam enggak?” lanjutku.
“Balas dendam? Emangnya kowe ikhlas aku pukuli?” tanya Ilham.
“Bukan ke aku! Ke adikmu yang jarah itu, tuh!” jawabku.
“Marni maksudmu?” tanyanya. Aku segera mengangguk walau tak benar-benar mengenalnya. “Enggak mau, ah. Takut aku!” Tak kusangka dia akan menggeleng.
“Masa sama adik sendiri takut?” ledekku, tapi dia tak bergeming. “Perempuan lagi,” imbuhku.
Wajahnya terlihat dongkol, tak terima. Pancingan gender tampaknya berhasil menjeratnya.
“Aku bukannya takut,” sangkalnya.
“Terus, apa?” tanyaku.
“Aku cuman kasihan,” jawabnya.
“Kasihan?! Yang kasihan itu kowe, Ndut!
Digebukin sampai nangis gitu,” hasutku.
“Sudah kubilang namaku Ilham!” protesnya.
Iya, iya!” anggukku. “Jadi bagaimana, Ilham? Mau, ndak?” tawarku.
Dia memegang dagunya yang besar. Bola matanya bergerak-gerak, senada dengan kedua kakinya yang usil menimbang-nimbang kemungkinan. Tampaknya, dia menaruh minat.
“Oke, deh! Idemu apa?” ucapnya, usai berpikir, lama.
“Nah, gitu dong!” girangku.
Kami berdua kemudian saling tos. Aku menatap sekeliling dan membawanya ke belakang rumah, jaga-jaga kalau ayahku datang. Kumulai dengan menanyakan ketakutan adiknya yang mungkin bisa jadi senjata
“Maksudmu?” Dia menggeleng.
“Pasti ada, kan? Tikus, kek. Ular, kek. Suntikan, kek. Tempe kemul dingin, kek. Sendal jepit Pak Kadus, kek … terserah, lah pokoknya,” desakku, “tidak mungkin tidak ada yang dia benci!” lanjutku.
“Dua yang terakhir kayaknya ndak penting, deh,” gumamnya, kemudian sejenak berpikir, “Aha!” Tiba-tiba, dia berteriak sembari menunduk.
“Ada?” tanyaku.
“Iya!” jawabnya.
“Apaan, tuh?” tanyaku.
Duit lima ratus perak,” jawabnya.
“Duit lima ratus perak? Masa, sih, dia takut sama koin?” tanyaku, heran.
Dia tampak masih menunduk, seperti tak mendengarkanku.
“Bukan yang koin!”
“Hahaha, duit gambar monyet itu, ya? Ini mengejutkan.”
“Iya! Sedang kamu injak, minggir dulu sana!” usirnya. Aku sontak bergeser, sambil menggeleng. “Mayan, nih,” gumamnya, sambil mengipas-ngipaskan uang kertas hijau itu di depanku.
“Sompret kowe!” bentakku. Hampir saja aku berpikir ada orang phobia duit kertas. “Kukira adikmu takut beneran sama uang kertas!” imbuhku.
“Takut sih, enggak. Cuman suka gatal-gatal kalau habis pegang uang lima ribuan ke bawah,” kelakarnya.
“Sombong kowe! Lagian, tuh lagi megang limaratusan!” tudingku.
“Ini cuman contoh!” kelitnya.
Tak ada gunanya juga berkoalisi dengan pria ini, pikirku.
Mau ke mana kamu?!” cegatnya.
“Percuma saja, kamu ndak bisa diandalkan,” jawabku semakin mantap melangkah.
“Oh, iya!”
“Nemu apa lagi? Belakrakan amat sih, kowe!”
“Bukan itu, ulat!”
“Mau kowe apain ulatnya? Kowe makan?” “Aku tendang selangkanganmu!” bentaknya.
"Hehehe, aku cuman sedikit membalasmu,” godaku.
Marni ternyata phobia ulat bulu. Bermodalkan informasi tersebut, kami berdua segera mencaricari ulat bulu sampai ke ladang desa. Usai menemukannya, kami kemudian kembali dengan sebuah rencana busuk.
“Sekarang, kowe panggil adikmu itu!” suruhku.
“Oke, oke!” Sambil cekikikan, dia mulai melangkah. “Tapi, alasannya apa?” Tiba-tiba, dia berbalik.
“Bilang saja kalau ada yang mau ketemu,” jawabku.
“Oke, oke!” Dia kembali cekikikan dan melangkah maju. “Tapi, siapa yang mau ketemu?” tanyanya.
“Ribet amat sih, kowe! Bilang saja aku yang mau ketemu!” bentakku.
Oke, oke!” Dia cekikikan lagi, sebelum kembali berbalik.
“Apa lagi?!” dahuluku.
“Alasan mau ketemunya apa?”
“Bilang saja, mau nagih utang, kek. Beli obat impotensi, kek! Terserahlah!"
“Impotensi itu apa?" tanyanya.
“Enggak tau, aku cuman pernah lihat di bungkus rokok bapakku. Mungkin itu semacam kanker jenis baru,” jawabku asal.
“Oke, oke!” sudah lelah aku mendengar ulangan kata itu. Parahnya lagi, dia kembali berbalik.
“Tanya lagi kugampar mukamu pake antena Pak RW!” makiku, dongkol. Dia kemudian masuk ke dalam rumahnya sambil tertawa terbahakbahak.
Beberapa lama kemudian, Marni benar-benar keluar. Wajahnya tampak belepotan warna putih, dengan bibir mirip badut. Langkahnya juga mirip kucing keseleo. Dia mulai semakin mendekat hingga membuatku agak risi. Pasalnya, wajahnya tampak memerah dan malu-malu, sementara Ilham mengikutinya sambil cengengesan.
Aku menyembunyikan ulat bulu di belakang punggungku. Sesekali, kulirik ulat itu memastikannya masih di tempat. Gadis itu
tampak ikut penasaran. Takut dia akan curiga, aku segera berbalik menghadapnya. Namun, dia malah memalingkan wajah saat aku menatapnya.
“Ma … Marni, ya?” tanyaku, sedikit takut.
“I … Iya, Mat. Kenapa?” Dia balik bertanya.
“Kok, kamu tau namaku?”
“Eh, itu ee.... Lho, kita kan tetangga! Wajar, dong, kalau aku tau?” Wajahnya tampak tak meyakinkan, sementara Ilham semakin keras mengumbar tawa.
Marni tampak menyikut Ilham hingga bocah gempal itu nyaris tersungkur.
“Boleh aku tanya sesuatu?” tanyaku.
“Boleh, kok. Banyak juga boleh,” jawabnya, sok centil. Kaki-kakinya yang busikan bergesekan hingga membuatku bergidik-gidik.
Apa-apan, nih, pikirku.
“Kamu takut sama apa?” tanyaku.
Wedus! Pertanyaan macam apa itu? Pikirku.
“Kenapa memangnya?” Dia tampak bingung.
“Eng … enggak. Aku cuman pengin tau.
Katanya boleh nanya,” alibiku.
“Kamu takut ulat kan, Mar?” timbrung Ilham. “Apaan sih, Mas? Buka kartu segala!” protesnya ke Ilham. “Enggak kok, enggak! Mana mungkin aku takut sama ulat,” sanggahnya.
“Wah, ada ulat!” Aku menunjuk ke arah belakangnya.
“Mana? Mana?!” Marni celingak-celinguk ketakutan.
Sementara dia sibuk meneliti sekeliling, dari belakang kuselipkan ulat bulu tadi ke punggungnya. Ulat itu merayap masuk ke dalam punggungnya. Namun, dia masih belum sadar juga.
“Wah, itu di dalam bajumu!” teriakku, sambil melangkah mundur, dengan wajah tak berdosa.
Seketika, Marni menjerit dan berlarian ketakutan. Aku dan Ilham tertawa girang sambil saling tos, sementara Marni semakin histeris. Namun dia tiba-tiba berbalik kembali.
“Ambilkan! Ambilkan! Ambilkan!” teriaknya. Kami masih tertawa terbahak-bahak, sebelum tangannya mulai mengarah ke segala penjuru. Mengenai wajah, perut, bahu, semua tubuh kami dia hajar. Seperti biasa, kami berdua berakhir babak belur.
***
Pada akhirnya, kowe tetep ngamuk, kan?” tanyaku usai bercerita.
“Itu, kan, salah kalian sendiri,” jawabnya, “kowe ndak tau kan, kalau punggungku bentol semua?” imbuhnya.
Kami tertawa-tawa bernostalgia.
“Terus, apa yang sebenarnya Ilham katakan?” tanyaku.
Wajahnya tampak memerah dan berkeringat dingin.
“Apa?” desakku.
“Itu ndak penting! Yang lebih penting sekarang, kelanjutan sesudah itu!” kelitnya.
“Kelanjutannya?” tanyaku.
“Tahun-tahun setelah itu! Kamu harus inget!” desaknya.
“Tahun-tahun setelah itu?” Aku berusaha mengingat kejadian itu.
Namun, tetap saja nihil. Hal ini amat menggangguku karena ingatanku benar-benar terkunci.
“Maklum, sih, kalau kowe ndak mau ingat. Soalnya itu ndak menyenangkan,” gumamnya.
“Tidak menyenangkan.” Kata kunci yang dia berikan membukakan mataku. Bagaimana aku bisa lupa? Pikirku.
***
Sehabis itu aku pulang. Ayahku baru selesai judi dengan tampang babak belur. Dari saku celana jin-nya, tersembul kartu tiga hati dan delapan keriting. Kemungkinan, ayahku habis dipukuli karena ketahuan curang. Dia kemudian melampiaskan kekesalannya kepadaku.
Entah mengapa, sore itu aku berani memberontak. Aku segera berlari keluar rumah saat ayah menghardikku. Meski ayah mengejarku, aku berhasil melewati jalanan menanjak, hingga sampai di sebuah ladang. Di sana, terdapat sebuah tower milik teklom yang bertegangan tinggi.
Saat itu, pikiranku buntu. Aku berharap untuk mati saja, dan mulai memanjat. Satu tiang, dua tiang, tiga tiang, aku terus menghitung sambil memanjat, hingga bosan sendiri. Tiba-tiba, ayahku yang masih sempoyongan menyusulku. Wajahnya memerah dan terus memakiku dari bawah.
“Kalau Bapak masih terus menghajarku, aku akan lompat!” ancamku. Orang-orang mulai berdatangan hingga keadaan semakin rumit.
“Loncat?” Mata ayahku terbelalak, seolah efek alkohol yang dia minum lenyap.
Iya, Pak! Amat bakalan loncat!” tegasku.
“Jangan, Dol! Nanti kalau kowe enggak mati, gimana?” bujuknya.
“Jadi, Bapak pengin aku mati?”
“Bukan begitu, Nak. Nanti hidupmu pasti bakalan kesulitan!”
“Sudah kuduga, Bapak itu enggak sayang sama aku!” Aku semakin yakin mendekati tepian.
“Jangaaan!” Bapak dan seisi warga berteriak dari bawah. “Apa kowe tega, ninggalin bapakmu?” rengeknya.
Nyaliku sontak hilang begitu menatap ke bawah. Keberanian dan tekadku seakan luntur begitu saja. Aku terjebak antara takut mati dan tak ingin disiksa. Di lain pihak, Bapak mulai menaiki tiang. Tak lama, dia bahkan sudah berada sejajar, di seberangku.
“Jangan mendekat!” seruku. Sembari mendekatkan diri ke tepian. Orang-orang di bawah semakin histeris. Namun aku tak peduli.
“Jangan bodoh, Dol! Bunuh diri akan membuatmu masuk neraka!” peringat Bapak.
“Apa mabuk-mabukan membuatmu masuk surga?” tampikku.
“Mungkin tidak, tapi kalau kamu mati, simbok-mu pasti sedih,” bujuknya.
Aku ndak peduli! Pokoknya aku mau mati saja!” Bisikan setan seperti membujukku menjauhinya.
Aku segera memunggunginya dan merentangkan tangan. Udara sore yang begitu berat menerpa tubuhku. Saat itulah kaki kananku tiba-tiba tergelincir, tetapi saat kupikir aku akan jatuh. Bapak dengan spontan melompat dan menarik kaos belakangku yang membuatku urung terjungkal.
Ada rasa lega saat mengetahui bapakku tak gentar bertindak sejauh itu. Aku segera berbalik mencarinya. Tak tahu kenapa, magnet alam seperti menarik air mataku kian deras.
“Bapak? Bapak? Kamu di mana, Pak?” panggilku dengan luberan air mata.
Nahas, beliau sudah terjatuh dengan posisi kepala di bawah. Nyawanya tak terselamatkan lagi. Dari kisah yang bibir tetangga ocehkan, Bapak membentur beberapa tiang sebelum jatuh. Ajaibnya, aku yang pingsan dan ikut terjatuh berhasil selamat setelah orang-orang di bawah membentangkan terpal untuk menahan tubuhku. Kini, tower itu dipagari agar tak ada lagi orang tak waras yang mau naik ke sana.
“Ya, Tuhan! Aku ini anak durhaka!” Air mataku seakan tergaruk keluar.
Setelah itu, kowe tinggal sementara di rumah kami sampai ibumu pulang dari Malaysia. Bermain, kejar-kejaran, kami berdua selalu menahan punggung kurusmu agar tidak jatuh. Kalau kowe enggak ingat sekarang. Itu karena Mbah Sapon kasih gendam ke kamu, supaya kamu itu lupa,” kenang Marni. “Lihat sekarang punggungmu itu! Ndak sekurus dulu, kan? Mas Ilham ingin kamu ingat itu. Dia ingin kamu ingat kalau dia ndak pernah membencimu. Terlebih, kamu malah negatif thinking sama dia,” imbuhnya.
Aku menjerit seperti hari di mana aku kehilangan ayahku. Yang paling menyedihkan, sepanjang hidupku sejak hari itu. Aku selalu menganggap ayahku itu bunuh diri seperti kata keluargaku. Aku juga menganggapnya berengsek. Padahal, beliau hanya terjebak dalam pengaruh alkohol dan judi. Beliau hanya butuh seseorang untuk menyadarkannya, tetapi aku semakin mengurungnya dengan pikiran negatifku.