Marni membawaku menuju sebuah lubang berukuran 1x2 meter. Jenazah Ilham terbaring di sebelahnya dengan daun pisang yang menutupi wajahnya. Tak kuasa air mataku luber di hadapannya. Semua sesal dan praduga luntur seketika, melihat wajahnya yang begitu tenang.
Eko memimpin upacara pemakaman. Bau menyengat yang mulai keluar dari mayatnya tak lagi kami pikirkan. Dengan doa-doa seadanya, kami berusaha mengirimnya menuju liang lahat secepat mungkin, karena hari mulai sore.
Marni khususnya, tak herhenti menangisi upacara pemakaman yang jauh dari kata layak itu. Usai menutup lubang tersebut, kami mengambil sebongkah batu besar dan meletakkannya di ujung kuburan Ilham sebagai patok. Gundukan tanah gembur berwarna cpokelat-kemerahan itu menjadi saksi bisu tangisanku, dan Marni hingga matahari tenggelam.
“Mat! Mat! Mat!!” Eko membangunku di dalam shelter.
“Ada apa?” sembari mengucek-ngucek, mata aku berusaha membangunkan diri.
Kugaruk lagi kulit tangan kiriku yang bentolbentol akibat gigitan nyamuk. Eko tampak celingukan dan wajahnya begitu khawatir. Gadis berkacamata itu mengikutinya. Matanya menatap tanganku dengan saksama. Tanganku yang ledes mungkin terlihat lucu baginya, hingga dia menyeringai kecil.
“Para gadis belum balik!” terangnya. Seketika, perih dan gatal di tangan yang kurasakan kutinggalkan.
“Kamu sudah cek di kuburannya Ilham?” tanyaku.
“Belum.” Masih sambil celingukan, dia menjawabnya.
Aku mulai risi melihat tingkah aneh gadis itu. Aku juga teringat ekspresinya kala melihat tubuh kami yang berdarah. Lalu, dia juga tampak tak terkejut dengan kematian Ilham. Sadar kupelototi, gadis itu sontak membuang muka sambil bersiul, membelakangi kami.
Kami berjalan menuju peristirahatan terakhir Ilham. Sayup-sayup mulai terdengar suara rintihan menyedihkan dari arah kuburan. Kami mulai takut hingga perlahan berjalan mundur.
“Tuh, Marni, bukan?” tanyaku. Mereka ikut meneliti rok putih yang berkelebat dari arah kuburan, tanpa berkata sepatah kata pun.
Eko mengedikkan bahu, tak berani berjalan lebih jauh. Aku menggeleng, dan kudekati sosok itu lebih jauh. Wajahnya masih menunduk, dan suara rintihan yang kudengar, semakin jelas. Hari sudah malam, dan mereka masih belum kelihatan batang hidungnya. Itu hanya membuatku kian khawatir.
“Marni?” Meski ragu, kutegur sosok itu.
Gadis itu menghentikan rintihannya, masih sambil menunduk. Kami mulai saling dorong begitu sosoknya semakin dekat.
“Ma … Marni?” Sekali lagi kusapa dia.
“Apa?!” Serak suaranya menggelegar.
Kami berteriak kaget. Muka gadis itu benarbenar berantakan dengan mata yang bengkak, tetapi gadis itu ikut berteriak. Itu membuktikan kalau dia manusia. Kucermati dia hingga akhirnya, wajah putih itu mulai kukenali.
“Lah …. Nih, Marni?” terkaku, sambil membuang napas.
“Ngagetin saja kowe, Mat!” protes Marni.
“Jumi mana?” sahut Eko.
“Lho, apa ndak sama kalian? Mana mungkin, kan, kuajak dia ke sini?” Marni malah balik bertanya.
“Apa jangan-jangan ….”
“Apa kamu tidak memperingatkannya?” Aku menoleh kepada gadis berkacamata itu. Dia menunjuk wajahnya, lalu mengedikkan bahu.
“Astaga!” sebutku, khawatir.
“Lho, kamu udah kenal sama Rea?” tanya Eko.
“Rea?” tegasku. Eko menganggukkan kepala yang membuatku ikut mengangguk. Jadi, namanya Rea? Pikirku.
“Memperingatkan apa?” Rea balik bertanya.
“Ya, semuanya,” jawabku. “Aku yakin dia turun, Ko!” sangkaku.
“Bagaimana kowe yakin?” tanyanya.
“Dia itu ndak mungkin enggak ngomong apaapa ke kita, kalau bukan hal berbahaya,” ujarku.
Aku tak memedulikan tarikan Eko dan mulai berjalan turun.
“Amat! Amat!” Kudengar namaku dipanggilpanggil, yang membuatku semakin bernafsu turun.
Aku mempercepat langkah mulai tak sabar, meski mereka mengikuti di belakangku. Aku mulai melompat dari satu batu ke batu lainnya, tak peduli bisa atau tidaknya mereka mengikutiku.
Aku begitu khawatir. Pasalnya, selama tiga hari ini, aku tak hanya menyendiri dan meratapi nasib. Meskipun, berawal dari ketidaksengajaan, aku berhasil mengamati tingkah dan kebiasaan mereka.
Mereka? Ya, sosok-sosok petani mencurigakan yang baru berangkat kala hari mulai petang. Biasanya, mereka akan berdatangan satu per satu menuju ladang mereka masing-masing. Cara berjalan mereka yang terpincang-pincang, cara melubangi tanah mereka. Bahkan, pakaian mereka yang tak pernah ganti tak luput dari pengamatanku. Satu hal lagi, mereka juga jarang berkomunikasi satu sama lain. Sebenarnya, siapa mereka itu? Aku berjalan semakin laju.
“Mat, tunggu!” Eko mencengkeram bahuku. “Marni kesandung, kamu harus perhatikan juga orang di belakangmu!” lanjutnya sembari memapah Marni, berdiri.
Aku tengah berbalik kala suara jeritan itu terdengar. Suara melengking itu terdengar tak asing. Begitu lembut hingga kami segera sadar jika suara itu berasal dari seorang gadis.
“Jumi!” Satu nama langsung terbesit di benakku, dan membuatku segera berlari.
“Tolong! Tolong!” Teriakan itu memaksaku menggelontorkan semakin banyak tenaga. Batang-batang jagung mulai bergerak-gerak bersamaan dengan suara langkah kaki. Dari sana, kulihat sesuatu yang terlalu mengerikan.
“Pipiku, pipiku!” Jumi mengerang kesakitan.
Dua dari makhluk aneh yang mereka sebut Wong Gadung, Sikil Panja, atau apa pun namanya itu, tengah berdiri di depan Jumi membawa arit. Gadis kurus itu tersungkur menghadap mereka. Kedua tangannya menutupi pipi kirinya. Rambutnya sudah berantakan dengan posisi bersimpuh. Suasana petang membuat semuanya terlihat samar. Namun aku yakin sekali melihatnya. Benar-benar mengerikan. Salah satu di antara mereka menyambar Jumi dengan arit.
“Tunggu di sana!” perintahku.
Mereka menurutiku, tetapi makhluk itu juga menoleh ke arahku. Rasa dingin menyeruak, seluruh tubuhku gemetaran, dan keringat dingin mulai mengucur.
“Jumi! Jumi!” panggilku. Dia pun menoleh. Aku melambaikan tangan kepadanya dan berteriak, “Ke sini!” Tapi dia tak bergeming.
“Aku takut,” rintihnya.
“Kamu enggak akan selamat kalau enggak memberanikan diri!” desakku.
Dia mulai bangkit dengan kaki-kaki gemetaran. Langkahnya terlihat lunglai dan terhuyung-huyung.
“Lari! Lari, cepat!” suruhku. Makhluk itu terus mengejarnya dengan kecepatan di luar nalar.
Jumi sudah di depanku, dia merentangkan tangan berusaha meraihku. Kutarik tangan kanan itu dan segera berlari dengan kecepatan penuh. Namun, kecepatan mereka melampaui kami. Kutarik tangan Jumi hingga punggungnya tersembul, lalu kudorong punggung kurus itu. Sekarang, aku ada di belakang. Aku berusaha menahan makhluk-makhluk itu dengan menggerak-gerakkan batang jagung ke arah mereka.
Di luar dugaan, itu berhasil. Mereka tampak tak senang dan mengeluarkan suara-suara mengerikan. Jumi yang semakin jauh, membuatku mulai lega, tetapi juga putus asa, di saat bersamaan.
“Lari! Lari!” Aku menyuruh mereka semua semakin kencang berlari.
Kami semua berlari sekuat tenaga sementara makhluk itu mengejar kami dengan ritme mereka yang aneh. Mungkin ini akhirnya, lamban gerakan kami menaiki tangga berbatu, membuatku putus asa. Makhluk itu sudah di depanku sementara jalur naik sudah sesak. Nyawaku pun, hampir saja melayang, kala salah satu di antara mereka mengayunkan aritnya ke arahku. Untung saja meleset. Namun kakiku sudah gemetaran. Saat kurasa ini akan berakhir, tanpa pernah kusadari tiba-tiba gadis berkacamata itu menarik kerah bajuku.
“Lari … dasar b**o!” bentaknya.
Dua, tiga tangga batu segera menghentikan langkah mereka. Kaki mereka tampak kesakitan saat menaiki tangga batu lebih jauh. Terdengar suara mengerikan tiap kali mereka menaiki anak tangga. Kurasa, tulang mereka beradu dengan batu yang membuat mereka terhenti di anak tangga. Aku tak bisa membayangkan, makhluk tanpa tungkai itu terus saja memaksa menaiki tangga batu, dengan tulang yang mencuat keluar.
***
“Siapa mereka?!” Dengan napas terengahengah, Eko bertanya kepadaku.
“Mungkin, Si Sikil Panja,” jawabku.
“Sikil Panja?! Mereka itu hanya mitos!” sangkal Eko.
“Lihat mereka!” Dari atas bukit, aku menunjuk makhluk-makhluk aneh yang tengah berladang itu. “Lalu, mahluk apa mereka itu?” tanyaku.
Ada yang mencabuti rumput, memberi pupuk, ada pula yang tengah menginjak-injak tanah. Persis seperti petani pada umumnya. Hanya saja jam berangkat mereka berlawanan dengan manusia normal.
“Sedang apa dia?” Eko menunjuk petani yang tengah menginjak-injak tanah.
“Mungkin manja. ” Aku tak begitu yakin.
“Manja?! Dengan kaki?” tanyanya.
“Kau dengar juga, kan, suara ‘kletuk-kletuk’ tadi?” Aku balik bertanya. “Itu mungkin suara tulang mereka yang patah! Mereka itu tidak memiliki telapak kaki. Sebagai gantinya, tungkai mereka runcing seperti panja,” lanjutku.
“Ru … runcing?!” timbrung Marni. Sementara itu, Jumi masih tertunduk sembari memegangi pipi kirinya.
“Kau juga jelaskan, Rea!” seruku.
Gadis berkacamata itu masih menyedekapkan tangan, sambil bersandar pada pohon nangka di pojokan.
“Apa yang harus gue jelasin? Kebodohan lo gerakin batang jagung? Atau gadis bodoh ini yang mencuri makanan dari ladang?” tanyanya. “Kalau gue jadi kalian, gue enggak akan pernah ngelakuin itu!” imbuhnya seraya berjalan menuju selter.
“Tunggu!” cegatku, “Apa maksudmu?”
“Apa kau tak lihat yang dikantongi gadis itu?” Dia menunjuk Jumi, lalu berkata, “Itu tomat! Dan mereka enggak akan ngebiarin dia kabur gitu aja!”
“Tomat?” heranku, “Apa benar, Jum?” Kudekati gadis yang masih menunduk itu, tapi belum juga sampai. Terdengar suara tangisan kecil darinya. Meskipun gelap, aku yakin sekali melihat tetesan benda pekat dari tangan kanannya yang tengah menutupi wajah.
“Siapa yang bawa senter?” lanjutku bertanya.
“Semuanya ketinggalan di tenda, Mat. Kau ingat?” sahut Eko.
“Kau?” Aku kembali mengejar Rea.
“Ambil aja di pojokan, tuh!” Dengan kaki putihnya gadis berkacamata itu menunjuk pojokan shelter-nya yang berantakan. “Jangan ngambil yang lain!” lanjutnya sembari membalik badan, bersiap tidur.
Emangnya mau ngambil apa? Pikirku sembari mengambil senter hijau berwadah plastik itu.
Cahaya senter tersebut sedikit mulai buram, bahkan mati di beberapa kesempatan. Aku bahkan harus memukul-mukul gagang senter, agar cahayanya kembali muncul. Sedikit khawatir, kuarahkan senter tersebut kepada
Jumi.
“Hadap sini, Jum!” suruhku mendapati wajahnya yang tertunduk. Begitu menoleh, aku berteriak terkaget-kaget.
Wajahnya dipenuhi darah yang mulai menetas dari kedua tangannya yang berusaha menutupi pipinya.
“Enhapha? (maksudnya: kenapa)” Suaranya yang tak jelas meyakinkanku.
“Kau berdarah!” jelasku. Eko dan Marni sontak menatapnya. Rea bahkan tergerak, keluar dari sarangnya.
“Benar, Mbak?” Suaranya masih terdengar kurang jelas hingga membuat Marni mendekat.
“Ya, ampun!” Marni terkaget-kaget. “Arahkan senternya yang benar, Mat!” suruhnya.
Kuarahkan senter redup itu mengikuti wajah Jumi. Semakin jelas saja cairan merah pekat di kedua tangan Jumi. Marni kemudian menyobek sebagian roknya untuk mengelap tangan Jumi yang penuh darah. Aku menatap Marni hingga tak menyadari, bahwa senter yang kugenggam tak mengarah dengan benar. Marni mendelik ke arahku yang membuatku buru-buru membetulkan cahaya senter.
“Coba kau buka tanganmu!” suruh Marni. “Ya, Tuhan!” sebutnya.
Marni sampai terdorong mundur. Kedua tangannya bahkan sontak menutup mulutnya seakan tak percaya. Aku yang penasaran ikut berjalan mendekat. Hanya sekilas menatap bekas luka itu, senter yang kubawa sampai terjatuh.
Rea berlari mendekat. Diambilnya senter yang beberapa kali padam itu dan memukulnya keras, hingga bersinar kembali. Dia kemudian menyenterkannya pada wajah Jumi. Samar-samar, kulihat Rea menyeringai.