Segitiga Kolang-kaling

1191 Kata
Kututup cahaya senter itu rapat-rapat, lalu menggeleng padanya. Tanganku menengadah memintanya menyerahkan senter itu. Agak kesal, dia kemudian meletakkan senter itu di tanganku, lalu kembali ke shelter-nya. Lebih panjang lagi rok Marni yang tersobek. Aku bahkan bisa melihat lutut kanannya. Dia memintaku menyenteri wajah Jumi yang penuh darah. Eko yang tak sanggup melihatnya hanya membuang muka di belakang kami. Sungguh mengerikan. Pipi kirinya mengalami luka sobek yang panjangnya lebih dari sepuluh senti. Aku bahkan bisa melihat gusi dan gigi gerahamnya yang masih menempel di rahang, dari sobekan tersebut. Yang semakin menakutkan, darah tak berhenti mendecur dari sobekan luka yang hampir memisahkan bibir atasnya itu. Dengan tangan gemetaran, Marni mulai mengelap darah itu. Dia bahkan sesekali bergidik ngeri, sama sepertiku. Merinding dan rasa nyeri kian menyeruak, hanya karena melihatnya. Kupalingkan wajahku tak lagi tahan melihatnya. Apa jangan-jangan, Ilham diserang mereka? Pikirku. Yang kudengar, sekelompok celeng memisahkan mereka saat mereka lari turun ladang. Ilham yang larinya lamban tampak terpental saat seekor celeng menyeruduknya dari depan. Mereka hanya bisa melindungi diri karena di belakang mereka, makhluk itu mengejar mereka. Mereka pun, terpaksa meninggalkan Ilham yang terseok-seok mengikuti. Begitu sampai di ladang, celeng-celeng itu tak lagi mengejar mereka. Sebagai gantinya, petanipetani aneh itu tampak mengerubungi Ilham sebelum pergi begitu saja. Apa mereka juga melakukannya ke Ilham? Pasalnya, aku sempat melihat mereka menyerang Jumi menggunakan arit. Jika benar, akan sangat berbahaya berada terus di tempat ini. Cahaya senter yang mengarah ke tanah membuat Marni mendelik lagi. Menyadari hal tersebut, aku segera membenarkan posisi senter. Eko tiba-tiba beranjak. “Aku sudah ndak tahan lagi!” teriaknya, “Kemarin Ilham, sekarang Jumi, berikutnya siapa? Tunggu giliran?!” Dia bahkan mulai meracau. “Sabar, Ko! Sabar!” tenangku. “Sabar bagaimana?!” bentaknya, “Secepatnya kita harus pergi dari tempat ini!” “Itu tidak mungkin!” sahut Rea. Gadis berkacamata itu merangkak keluar dari dalam shelter, sambil tertawa-tawa. “Apa maksudmu?” Eko mendatanginya, menatapnya begitu tajam, lalu mengulang pertanyaan. “Apa maksudmu?!” “Kalian enggak akan pernah menemukan jalan keluar,” tukasnya, “se-la-ma-nya!” Eko semakin geram. Dia terus mendesak Rea menjelaskan. Namun, gadis itu hanya tertawa, dan menghindar. Sementara itu, Marni masih berusaha menjadi dokter dadakan. “Besok juga kalian tau!” ucap gadis berkacamata itu, sambil berjalan kembali ke dalam selternya. Marni kembali menegurku karena lampu senter yang sering melorot. Dari cahaya yang luput tersebut, kulihat kantong celana Jumi yang tampak sesak. Noda kemerahan yang tampak belum kering tersembul jelas darinya. Apa lagi itu? Pikirku. Begitu sadar, Marni sudah memelototiku dengan tampang menakutkan. Seperti biasa, kuberikan cahaya senter. Masih mengerikan. Tetesan darah itu, lubang menganga itu, benda putih yang sesekali tersembul itu, semuanya tak berhenti membuatku bergidik. Sekali pun kucoba bertahan, tetap saja kenyataan yang begitu dekat ini membuatku takut. “Apa yang ada di kantongmu?” Akhirnya, keceplosan juga aku. Jumi tampak terkejut. Entah karena tak menyangka aku akan bertanya, atau tak menyangka aku tahu. Yang jelas, garis kesedihan sudah terlukis di kening terlipatnya. Wajahnya juga tiba-tiba tertunduk. “Kenapa kamu tanyain itu, sih?” Marni memarahiku. “Dasar ndak peka!” omelnya. Dia membela Jumi mati-matian. Dia bahkan segera menenangkan Jumi yang masih tertunduk. Tak lama berselang, Jumi kembali mengangkat wajahnya. Pendarahan di pipinya belum sepenuhnya terhenti. Marni juga belum selesai merawat lukanya. Aku bahkan tak yakin jika luka sebesar itu akan berhenti mengeluarkan darah tanpa dijahit. Yang pasti, wajah Jumi yang mendongak terlihat manakutkan bagiku. Matanya agak terpejam. Senyum getir dia perlihatkan kepadaku. Dia kemudian menunjukkan benda bulat sekepalan tangan dari dalam sakunya. Benda merah kekuningan itu terlihat penyok, tetapi masih memiliki tangkai meskipun sudah layu. Tidak salah lagi, dia habis mencuri tomat dari bawah, pikirku. “Kamu, beneran mencuri?” Marni tampak terkejut. Jumi kembali menundukkan wajahnya sebelum Marni mengentakkan tubuhnya. “Hau himana hagi? Ahu hudah hidak hakan hehari-hari! (Maksudnya: mau gimana lagi? Aku sudah tidak makan berhari-hari!)” Luka yang dia alami membuatnya kesulitan berbicara. Perkataannya benar. Sejak datang ke sini, kami memang tak pernah makan sekali pun. Lagi pula, kami juga tak pernah merasakan lapar dan haus. Apa jangan-jangan .... Segera kuhentikan pemikiran bodohku. Marni sepertinya memikirkan hal yang sama, tetapi dia tak memikirkannya sedalam aku. Lalu esoknya, kami dihadapkan pada kenyataan yang menghancurkan tekad kami. Suara kokok ayam alas yang suaranya cemprang dan tak enak didengar membangunkan kami. Eko sudah menungguku di luar shelter. Dia bahkan segera mengajakku membangunkan para gadis. Marni dan Jumi yang terlelap dalam satu atap, masih begitu kompak berhadap-hadapan saat itu. “Bangun!” Aku menepuk-depuk kaki mungil Marni yang tak lagi dekil. “Bangun, Mar!” ulangku. Jumi yang terbangun duluan tampak memelototi dengan wajah kesal. “Kenapa?” tanyaku. Dia hanya mendengus, sebal. Tanpa mengangguk, tanpa menggeleng, dia memunggungiku, dan kembali bersiap tidur. Tak lama kemudian, bau mulut Marni menyambutku. Aku bahkan terlempar dari shelter mereka, dan menyerah. Kututup hidungku rapat-rapat dan berjalan menjauh. Marni yang tersinggung kemudian segera bangun dan menjambakku. Beberapa saat berselang, dia kembali ke shelter untuk bersiap-siap. Jumi akhirnya terbangun. Wajahnya masih tertekuk. Dia sesekali memelototiku dengan tampang menakutkan. Apalagi, luka yang masih menganga itu. Wajahnya semakin terasa horor kala gigi gerahamnya tersembul dari pipi sobeknya. Gusi membengkak yang tersembul di antara daging kemerahan itu juga bukan pemandangan yang bagus. Tubuhku semakin sering bergidik dibuatnya. Kami mulai berjalan turun. Udara pagi yang dingin tak lagi kurisaukan. Hanya saja, wajah Jumi yang acap kali meringis hanya karena terpaan angin membuatku ngilu. Aku akhirnya berpindah posisi ke belakang, karena semakin tak tega. Kulihat Rea mengikuti kami walau ogahogahan. Wajah putihnya terlihat bosan. Dia bahkan sesekali bermain-main dengan frame kacamata bulatnya yang terlihat norak. Namun, tetap saja wajah cantiknya menjadi pembeda. Bukannya terlihat culun seperti di sinetron, dia justru terlihat cantik. Pandangan tentang gadis berkacamata dengan mudah dia balikkan hanya dengan satu lirikan. Namun, tetap saja gadis adalah makhluk yang menyeramkan. Tatapan Jumi dan Marni kepadaku membuktikannya. “Pantas saja pindah ke belakang!” gerutu Marni. Jumi sontak mengangguk mengulurkan dukungan. “Lebih baik jangan, Mat! Kamu bakalan habis sama duo buaya ini!” sahut Eko. Marni dan Jumi langsung menghadiahinya pelototan dongkol. Dia bergegas menghampiri dan berbisik, “Lihat?!” Marni yang tersinggung mengejar, dan tanpa ampun menggamparnya. Rea langsung tertawa. Wajah bosannya terlihat luntur. Gamparan itu agaknya menghiburnya. Dia bahkan sengaja memperkeruh keadaan dengan menggoda kami. Alhasil, wajah kami penuh dengan gambar tangan merah. Puas tertawa, dia kembali memisahkan diri dengan tampang bosan yang kembali merekat. Ada apa dengannya? Pikirku. Berjam-jam berjalan, kami tetap saja tak menemukan jalan keluar. Masih hanya ada ladang sepanjang mata memandang. Kutatap jalanan tanah yang berlubang-lubang itu. Pohon kolangkaling besar di ujung jalan, semilir angin dan udara sejuk yang terasa janggal. Hingga akhirnya kami kembali terhenti di titik yang sama. “Tunggu!” Telunjukku menunjuk ke arah pohon kolang-kaling besar tadi. “Kita tadi lewat sini!” ujarku. “Kamu benar, Dol!” Aku segera menoleh karena Eko menggunakan nama panggilan, yang diberikan ayahku. Pedih tiba-tiba muncul, teringat kedurhakaanku kepada beliau. “Hus! Jangan ditunjuk!” Marni mendesut, memperingatkan. “Kenapa?” protesku. “Pamali!” ucapnya. Dia kemudian menyuruhku meludahi telunjukku tiga kali, dan menyentuh tanah dengan telunjuk tersebut. Sebenarnya, aku tak mempercayainya. Namun, banyaknya hal aneh yang terjadi belakangan membuatku menurutinya. Berapa kali pun mengubah arah, tetap saja kami hanya berputar-putar di tempat yang sama. Terik panas mentari bahkan mulai membuat kami gerah, tapi anehnya, kami tetap saja tak merasakan haus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN