Kain Putih

1631 Kata
Batang singkong melambai-lambai diterpa angin. Beberapa pohon jagung berbuah lebat. Ladang kubis luas, hingga pohon cabai, dan beberapa jenis ketela. Meskipun kami berujar telah berjalan amat jauh, tetap saja ranumnya pohon kolang-kaling berbuah tunggal itu kembali muncul. Bahkan, tak terhitung lagi rute baru yang coba kami ambil. “Coba kita kasih tanda!” usul Eko. Aku segera mengangguk, di tengah sibuknya tanganku menggaruk kepala yang kian pening. “Tanda, ya?” timpal Marni. Mataku tak berhenti menatap tangan kanannya yang sedari tadi menggaruk-garuk dengkulnya. Sobekan roknya yang tak rata membuat sehelai kain bergoyang-goyang liar tanpa hubungan. Sadar kupelototi, tiba-tiba kain yang sedari menggantung di bawah lututnya itu dia sobek. Derita suara sekejap itu memecah fokusku. Sejenak, dia menoleh kepadaku sebelum mengalihkan pandangan. Mata Eko hanya berputar-putar tak mampu memberi solusi. Begitu pandangannya kembali padaku, aku segera mengangkat bahu. Hingga tiba-tiba Jumi menyikutku. Dia menunjuk rumput begitu antusias. “Rumput, maksudnya?” telaah Marni. Jumi spontan mengangguk. “Ah, iya! Kita tali saja rumput itu biar jadi tanda!” ujarnya. “Tali?” tegasku. “Seperti saat kita bikin jebakan biasanya?” timpal Eko. “Oh, diikat maksudnya?” anggukku. Kuangkat beberapa helai rumput, yang biasanya tumbuh di lapangan itu dengan kedua tangan. Ujung-ujungnya kuikat hingga membentuk setengah lingkaran. Kami biasanya melakukan hal ini saat bermain bola di lapangan, terutama saat berhadapan dengan Jumi. Daripada tantang lari yang perbandingan menangnya terlalu kecil, lebih baik memenuhi lapangan dengan jebakan konyol tersebut dan berharap kaki lincahnya akan tercagol . Sembari mengingat momen konyol tersebut, tangantangan kami sibuk mengikati rumput-rumput di pinggiran itu, secara bergantian tiap berjalan beberapa meter. “Mana jalan keluarnya?” Marni tampak semakin lelah. “Mana kutau!” kuangkat bahuku santai. Di tengah perbincangan kami, tiba-tiba saja gadis berkacamata itu terjatuh. “Sialan!” umpatnya. Kami tertawa terbahakbahak, khususnya Jumi. Pasalnya, kaki Rea tersandung rumput, seperti kebiasaannya di lapangan. Terjebak jebakan rumput, tetapi aku segera menghentikan tawaku. Aku bergegas mengulurkan tangan kananku untuk dia raih. “Rumput ini ....” Aku terdiam mencermati untaian rumput itu jeli-jeli. “Lihat!” seruku. “Kenapa?” tanya Marni. “Apa ndak ada yang aneh?” Kutunjuk rumput tadi lebih jelas. Marni mendekat, tetapi dia segera menggeleng. Merasa tak yakin, kutatap lagi rumput-rumput itu hanya untuk kembali menyadari keanehan lain yang lebih mencengangkan. Sisi kiri jalan sudah penuh dengan rumput-rumput yang memiliki bekas ikatan. Di situ aku tersadar, kami masih saja memutari tempat ini. Bagaimana aku tak menyadarinya? Pikirku. “Kurang ajar! Keluar kalian!” teriakku, putus asa. “Ada apa, Mat? Edan ndak ketauan?” goda Eko. “Sudah pasti ada yang main-main sama kita, Ko!” tukasku. Gadis berkacamata itu tersenyum kecil. Eko sepertinya tak paham. Terbukti dari dahinya yang mengerut. “Lihat!” Sekali lagi kutegaskan telunjukku yang sudah pegal mengacung. Mereka masih saja tak paham. “Rumput!” teriakku. Mereka terdiam. Wajah mereka seketika berubah. Antara takut, terkejut, dan tak menyangka. Merasa jengah, segera kuturunkan telunjuk kiriku yang lelah mengacung. Aneh. Tak masuk akal, bahkan kucubuti pipi-pipiku memastikan ini bukan mimpi. Sayangnya, bukan. Pipi lelahku justru bertambah sakit akibat ulah bodohku. Terlalu syok dan tak percaya membuatku terduduk. Kumaki kebodohan diri hingga kepalaku tertunduk. Ya ampun, bodoh sekali aku, pikirku. “Apa itu rumput yang tadi kuikat?” Eko baru saja ngeh. Dia berjalan menyusuri tepian. “Bagaimana mungkin? Cara mengikat ini ….” “Itu ikatanmu! Amburadul dan gampang lepas. Makanya Jumi aja bisa lewat tanpa kesandung!” selorohku. “Tapi, aku kaya jalan di tempat yang rumputnya belum diikat. Kenapa bisa sebanyak ini yang sudah diikat? Apa kalian juga ikut mengikatnya di belakangku?” tukasnya. Tentu saja kami semua menggeleng. Toh, kalau tugas mengikat dikerjakan lima orang sekaligus, entah seberapa lambat kami berjalan. “Lihat!” Mata Marni tampak berbinar. Telunjuknya mengarah ke arah barat. Mataku segera menatap teliti. Sekali dua kali tak menemukan apa pun, aku segera menoleh kepadanya. Marni malah tersenyum puas, seakan sesuatu yang dia lihat itu benar-benar mengagumkan. Merasa dia tak sedang bergurau, kuputar lagi leher dan kepalaku ke arah yang dia tunjuk. Kali ini lebih cermat. “Itu ….” “Kamu juga lihat, kan?” sahut Marni. “Ya!” jawabku. “Pohon pisang, (kain putih!)” Teriakan kami yang berseberangan jawaban terdengar bertubrukan. “Kok, pohon pisang?” tanyanya, kecewa. “Bukan, toh? Tak kira, kowe kebelet pipis terus nyari pohon pisang buat buang hajat,” kelakarku. Matanya mendelik, lebih mengerikan dari macan kumbang. “Be … bercanda, bercanda!” ralatku. Kain putih? Pikirku. Bola mataku bergerak konstan, mengejar benda tak tentu itu. Benar saja, kain itu tampak tersangkut di sebuah kayu jenitri di pojokan ladang. Mungkin tertiup angin, pikirku lagi. Beberapa tanaman talas liar yang tadinya tak pernah kami lihat juga berada di sana. Kami berdua saling tatap. Marni segera menyeringai. Alis matanya bergerak naik-turun, seolah tahu bahwa aku juga sadar. Tingkahnya segera mengundang kedua ujung bibirku ikut melancip. Kami berdua segera berlari ke arah benda keputihan kecil yang berkelebat itu. “Kamu bawa korek, ndak, Ko?!” teriakku, sejenak berhenti. “Ya, bawa lah. Aku kan, ndak pernah ninggal selepi!” jawabnya tak kalah kencang. Kami mencabuti talas itu dengan semangat. Marni tidak terlihat se-antusias kami. Dia hanya menatap sekeliling, dan mengangguk. Rea terus memperingatkan kami, tetapi tangan kami tak berhenti bekerja dengan semangat membara. Toh, ini cuman tanaman liar, pikirku sembari mengambil talas-talas penuh tanah itu. Kami kemudian membawanya kembali ke selter, meninggalkan kain putih tersebut berkelebat, sebagai penanda. “Kapan terakhir kowe makan?” tanyaku dengan mulut penuh makanan. “Entahlah!” jawab Eko. Dia dengan rakus mengunyah-ngunyah talas hangat itu. “Kamu ndak ikut makan?” tawarku kepada Rea, tetapi gadis berkacamata itu hanya memunggungi api unggun dengan tampang dongkol. “Ya, sudah!” abaiku. Aneh, meskipun perut kami tak merasa lapar, talas-talas itu terasa begitu enak. Bahkan, perut kami serasa tak akan penuh, meski karungan talas kami bawa sekaligus. Hal ini merupakan hiburan gratis yang sudah lama tak kami rasakan. Kami bahkan sampai tertidur di depan api unggun, hingga matahari kembali naik. “Ayo kita pergi lagi!” Aku mengajak Rea yang masih tertidur di dalam selter, tetapi gadis itu tak bergeming. Tampaknya, dia masih marah soal kemarin. Terpaksa, aku meninggalkannya begitu saja. Kami berempat kambali menjelajahi lajur kemarin. Wajah-wajah semringah kami terpampang berjejer, tak peduli tubuh dekil kami sudah berhari-hari tidak mandi. Bau badan yang semula tak kami hiraukan tiba-tiba mengusik pikiran. Pokoknya, aku harus mandi setelah ini, pikirku usai menciumi bau badanku, yang amisnya minta gebuk. “Ada yang bongkar makam temen kalian, woy!” Tiba-tiba, Rea berlari kencang ke arah kami. “Bongkar makam?” Seketika, wajah cerah kami berubah mendung. Aku berlari mendekatinya. Kutatap wajah penuh peluhnya, dan bisa kudengar suara napasnya yang tersengal-sengal. “Yang bener, kamu!” raguku. “Ma … masa aku bohong?!” Suaranya terbatanya karena menahan sengal, terdengar amat meyakinkan. Marni yang panik sudah berada beberapa langkah di depanku. *** “Tunggu, Mar!” panggilku, tetapi suaraku hanya membuat langkahnya kian laju. Tanpa menunggu aba-aba, kami segera mengikutinya meninggalkan Rea dengan napas ngos-ngosannya sendirian. “Ya, Tuhan!” Marni bersimpuh di depan gundukan tanah yang berantakan, seperti baru saja dijarah. “Siapa yang tega melakukannya?” tanyaku. Aku bergidik ngeri melihat patok kuburan Ilham yang sudah melenceng jauh dari asalnya. Tapi, kaya ada yang aneh, pikirku. Kutatap sekeliling tempat Ilham bersemayam. Beberapa bekas tancapan terdapat di sana-sini. Gundukan yang tadinya cembung itu bahkan hampir rata dengan tanah sekeliling, tetapi tetap saja ini aneh. “Coba kita lihat apa jenazah Mas Ilham masih ada!” ajak Marni. “Rasanya ndak perlu deh, Mar!” tukasku. Marni sontak menatapku. Membelalakkan mata begitu bengis, seperti kebiasaannya saat jengkel. “Aku yakin jenazah kakakmu masih ada di sana. Butuh waktu seharian untuk menggali tempat ini!” ujarku. “Itu karena kita ndak pake pacul, Mat,” sangkal Eko, “kowe juga lihat sendiri kalau mereka itu selalu bawa pacul,” lanjutnya. “Tapi, bekas cangkulan ndak seperti ini, Ko! Lagian kita perginya juga ndak sampai sejam. Kita juga udah lihat kalau mereka enggak bisa sampai ke sini. Aku yakin, kita cuman bakalan buangbuang waktu!” tukasku. “Kalau pun, bukan mereka, kan bisa saja galinya semalam?” sahut Marni. “Semalam? Semalam apa? Bukannya kita di depan api unggun semalaman?” sanggahku. “Terus?!” “Ya aneh lah, kalau ndak satu pun dari kita ada yang sadar!” protesku. “Kowe ini gimana, toh? Bisa aja kan kalau pelakunya lewat belakang?” sahut Eko. “Lewat belakang mana? Mabur? Jalan satusatunya ke sini, ya, cuman lewat tangga batu itu,” sanggahku. “Itu kalau manusia. Lha, apa mereka itu manusia?” kelit Eko. Aku terdiam, sadar jika perdebatan ini tak mungkin kumenangkan. Toh, tak ada salahnya memeriksa ulang. “Semoga saja begitu,” gumamku. Mereka semua menatapku. Aku pun, berkata, “Aku ndak mau kita saling tuduh,” pungkasku sembari berbalik. Eko segera mengikutiku seperti tahu, bahwa aku akan mengambil beberapa kayu. Seharian kami menggali tanah yang masih terlihat berbeda warna itu dengan kayu. Setelah seharian menggali, kaos lecek Ilham segera tersembul dengan bau menyengat yang begitu menyeruak. “Bagaimana? Apa masih ada?” tanya Marni dari atas. “Masih!” Dengan suara bindeng karena menutup hidung, aku menjawabnya. “Syukurlah!” Wajah gusarnya mereda. Kami kemudian segera menutup lubang menganga itu secepat mungkin. “Kita harus segera pulang, dan memindahkan jenazahnya sebelum benar-benar hilang,” ajakku, sambil membenarkan posisi patok. “Ya, kowe bener, Mat!” sahut Marni. Namun, kami harus diketawain karena tanda yang kami andalkan telah lenyap. Sejak awal, sejumput lain putih itu memang terlalu riskan dijadikan patokan. Benda itu sudah pasti gampang hilang. Namun, apalah daya. Nasi sudah menjadi bubur. “Bagaimana?” Rea tiba-tiba membuntuti di belakang kami. “Bagaimana apanya?!” Aku yang terlanjur kesal tak sengaja melampiaskannya padanya. “Kok, lo malah marah?” keluhnya. Kepalaku sontak menggeleng, dan perlahan berjalan mundur. Kulihat tangan kanannya tengah mengenakan kaos tangan hitam yang tak pernah kulihat sebelumnya. Selain itu, tangan kiri gadis berkacamata itu juga terlihat basah. Padahal, semalam dan hari sebelumnya tak pernah hujan. Area sekeliling juga tak ada sungai atau endapan air. Hal ini semakin membuatku curiga. Secercah harapan kami lenyap bersama sobekan kain yang menghilang entah ke mana. Kebun di mana talas liar yang kami lihat kemarin sudah raib. Kembali hanya ada ladang sejauh mata memandang. Kakiku selonjor, menciptakan dua buah garis lurus di atas tanah. Kami serasa diberi sebuah amplop yang ternyata kosong. Derikan jangkrik sore itu terdengar seakan tengah menertawakan kami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN