“Cuk!” makiku. Kepalaku tak berhenti menggeleng. “Sudahlah, lebih baik kita kembali!” ajakku.
“Kembali ke mana? Jalan kembali kita sudah tertutup!” protes Eko. Mereka semua enggan bergeming.
“Kowe mau terus-terusan di sini?” selorohku.
Eko yang kesal, memberi lirikan tajam kepadaku. Marni coba membujuknya tetapi dia mendegil.
“Palingan juga kita akhirnya membusuk di sini!” Dia terlihat frustrasi.
“Jangan kaya anak kecil kowe!” bentakku.
“Apa?! Hadapi saja, Dol ini kenyataan,” degilnya.
“Kalaupun harus mati, aku ingin mati di tempat yang lebih baik ketimbang ladang busuk ini!” ujarku, “Dan satu lagi. Cuman bapakku yang boleh panggil aku ‘Si Dol’!” imbuhku.
Eko berdiri menantang-nantang. Jika saja Marni tak menahanku, kepalan tangan kananku mungkin sudah mendarat di wajahnya. Lelah, dan frustrasi yang terlalu menguras tenaga sukses membuat kami terpecah belah.
Bangunan darurat yang terbuat dari tanaman seadanya itu terasa lebih dingin dibanding sebelumnya. Daun pisang yang kugunakan sebagai alas, bahkan terlihat menjengkelkan hanya karena bergoyang kecil. Aku bahkan beberapa kali menendangi pagar b****k itu hingga nyaris roboh. Gerakan menyeramkan atap selter segera menghentikan tingkah kekanakkanakanku.
“Kamu dipanggil temanmu yang item itu!” Gadis itu tiba-tiba memanggilku.
Aku segera bangkit, dan menghampirinya.
“Eko, maksudmu?” tanyaku.
“Oh, nama dia, Eko?” angguk Rea.
“Terus, di mana dia sekarang?” tanyaku.
“Dia di bawah, tuh! Barusan turun kaya keselkesel gimana, gitu,” jelasnya.
Enggak seharusnya dia turun di hari selarut ini. Kekanakan juga ada batasnya, pikirku. Aku berjalan melewati beberapa ladang hingga perasaan kesal yang sudah menumpuk, menyentuh ambang batas. Kupaksakan tubuhku berhenti di depan ladang jagung, yang tampak bergoyang-goyang.
“Cukup! Ini sudah keterlaluan!” gumamku, tetapi suara geraman mengerikan menghentikanku. Perasaanku benar-benar tak enak. Bulu kudukku berdiri tegak, dan tubuhku gemetaran, sampai-sampai membuatku terjungkal, tersandung kakiku sendiri. Makhluk jangkung bercaping bambu itu ada di depanku. Ia tiba-tiba mengayunkan cangkul berukuran sedang itu kepadaku, sekuat tenaga. Selangkanganku, bahkan sampai terbuka demi menghindarinya. Aku lekas-lekas bangkit, dan segera berlari menjauh.
Angin yang terasa janggal menyerempet bahuku. Suara sebuah benda yang jatuh ke semak-semak membuatku melirik sekejap.
Gagang kayu, itulah yang kulihat. Aku berlari kian kencang. Pasalnya, makhluk itu baru saja melemparkan aritnya kepadaku. Aku bisa merasakan sensasi kulit bahuku yang terkoyak. Sekelumit benda asing yang menempel bersamaan dengannya menyisakan perih yang menusuk-nusuk.
Namun, ketakutan yang amat besar justru mendorong tenaga lebih. Aku berhasil menjauh, tetapi makhluk itu tak melepasku begitu saja.
Suara langkah menyeramkan di belakangku membuat otot paha dan betisku kian menegang.
Ini buruk, pikirku. “Pergi kau, b******k!” teriakku ketakutan.
Makhluk itu tak menghiraukan caci makiku, dan justru kian bernafsu mengejarku. Ritmenya berlari yang di luar nalar memaksaku mengambil jalan pintas. Suntikan rasa takut membuatku dengan mudah menaiki tebing berbatu setinggi setengah meter lebih, hanya sekali lompat. Makhluk mengerikan yang tak ingin kehilangan buruannya itu buru-buru mengayunkan cangkulnya, hingga membentur batu.
Suara mendengung terdengar keras.
Sekelumit bara terpercik, kala kepala cangkul yang notabenenya besi, beradu dengan batu keras. Mirisnya, cukup beberapa senti lagi, kaki kiriku bisa jadi sudah putus.
“A*u!” caciku.
Makhluk itu semakin geram. Ia mendedau, amat mengerikan. Aku segera berlari meniti bebatuan yang tertata rapi di tepi tebing, sebelum cangkul mengerikan itu melayang. Kulirik sekejap, dan mendapati makhluk tanpa telapak kaki itu kesulitan naik tebing.
Sepertinya, dia benar-benar tidak bisa berjalan di tempat bertekstur keras, pikirku sembari sesekali menoleh. Malangnya, sebuah rumput menyandung kaki kiriku hingga aku terjatuh membentur bebatuan, dan tak sadarkan diri.
“Aw!” Kupegangi kepala benjolku, sambil berusaha berdiri.
Posisiku yang tengkurap membuat bahu kiriku terasa ngilu. Pasalnya, bagian tersebut merupakan tepian tebing yang tersusun dari batu. Parahnya, itu adalah bagian tubuhku yang terluka. Sensasi sesuatu yang kasar dan keras pada kaos yang menutupi bahuku membuatku yakin. Darah telah menyatukan kaos dan kulit bahuku. Kutarik tangan tersebut sesegera mungkin. Bau besi yang tercium dari tangan kiriku meyakinkanku. Kutarik kaosku yang telah menempel dengan bekas luka itu kuat-kuat, hingga darah mendecur lagi. Aku menjerit, merasakan pedih yang teramat sangat. Panas, ngilu, pegal. Benda asing yang berada di dalam dagingku membuatku meringis kesakitan. Itu adalah sensasi perih paling menyakitkan yang pernah kualami. Aku merasa kulit bahuku mungkin saja ikut tersangkut pada kaosku.
“Mana si Eko?” lamunku.
Kepala yang pening, punggung yang perih, serta kaki yang lelah membuat langkahku terpincang. Dipompa rasa kesal, aku terus berjalan menyusuri, tebing berbatu terjal. Derap suara langkah kaki terdengar dari depan.
Apa itu? tanyaku dalam hati.
Pemandangan mengerikan pun, terjadi. Kulihat sosok manusia menyeret tubuhnya susah payah. Ia melambai-lambai, di bawah cahaya rembulan.
“Eko?! Eko!” panggilku. Tanpa pikir panjang, aku segera melompati tebing. “Kau kenapa?” tanyaku.
Kutarik tubuh lemasnya begitu saja, tanpa memedulikan lutut nyeriku sehabis melompat.
“Pe-rik-sa, kan-tong-mu!” Suaranya yang terputus terdengar begitu mengkhawatirkan.
“Kenapa memangnya?” tanyaku.
“Ini jebakan!” pungkasnya.
“Apa maksudmu?!” Kutarik tubuh kurusnya kuat-kuat. Punggung kurusnya yang tersandar di kakiku perlahan memberi sensasi basah yang hangat. Dia tak lagi menjawab pertanyaanku. Tubuh kurusnya ambruk, tanpa daya. Perutnya terasa basah, tetapi terasa hangat. Aku tercengang, teringat akan hal serupa yang terjadi pada Ilham. Aku pun, segera duduk, memeriksa perutnya, harap-harap cemas.
Seketika, aku terperanjat, hingga tak sengaja melempar tubuhnya. Isi perutnya sudah berhamburan, jauh lebih parah dibanding Ilham. Dalam kondisi seperti itu pun, dia memaksakan diri berlari menuju kemari. Tak butuh waktu lama bagiku untuk sadar, dia tak akan selamat.
Aku mendekapnya, sambil sesekali menghentak tubuh kurusnya. Kupanggil-panggil namanya, tetapi matanya enggan terbuka. Guncangan lebih keras kuberikan, tetapi yang terjadi tetap saja nihil.
Sial bagiku, derap suara langkah, perlahan semakin jelas. Di saat yang sama, mata Eko terbuka. Dia menggenggam tanganku dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Dia yang kemarin berotot telah tiada. Dia benar-benar lemah dan tak bertenaga. Menyuarakan isi hati saja, dia sudah tak mampu.
“La … ri?” Aku meneruskan gerak bibirnya mendembik. Dia pun, mengangguk, dan kugenggam tangannya kuat-kuat. “Ayo, samasama kita lari!” ajakku, sambil memapahnya. Eko mendorongku, sampai-sampai tubuhku terjungkal. Mulutku terbuka lebar, siap menyuarakan protes. Namun, ayunan kencang benda tajam menancap di kepala Eko, tepat di depan mataku.
“Ya, Tuhan!!!” aku terhenyak mundur kala cipratan berbau amis itu mengenai wajahku.
Lagi-lagi, petani mengerikan itu menjadi dalangnya, “Apa yang ....” Aku tak memiliki waktu menyelesaikan kata-kata. Makhluk itu terlanjur berjalan mendekat, dengan kaki-kaki runcingnya yang kotor dan bergumpalan tanah.
Kaki menyedihkan itu bahkan menginjak tubuh lemas Eko. Reaksi kecil darinya hanya membuat makhluk mengerikan itu kembali menghujamkan kakinya yang sebelah.
“b*****h!” teriakku penuh dendam. “Kau juga melakukan hal yang sama pada Ilham?!” tanyaku. Namun, pertanyaan itu sama sekali tak berarti baginya.
Dari ladang sampingku, kupatahkan sebuah batang singkong. Sekuat tenaga kuayunkan kayu yang terasa mengganjal itu ke arah wajah makhluk itu. Batang singkong itu berderak, karena patah. Nyaring suaranya yang menggema membuatku sedikit puas.
Makhluk itu mengerang. Dengan kedua kaki runcingnya yang telah berdiri sempurna di atas tubuh lemas Eko, ia menyeringai. Kupatahkan, dan kulayangkan lagi satu sambaran batang singkong ke wajahnya.
“Dasar mahluk jalang!” caciku.
Kulemparkan sisa kayu yang ujungnya telah patah menjadi dua bagian itu kepadanya. Bau menyengat bahkan menempel kuat di tanganku karena kulit batang singkong yang terkelupas. Usai melayang-layang, patahan kayu yang memutar mendarat telak di wajahnya. Kulihat darah menggelenyar dari wajahnya. Cairan pekat itu terus mendecur sampai-sampai seluruh bulu kudukku menegang, tetapi ia tak bergeming.
“Rasakan itu, mahluk jalang!” makiku.
Tiba-tiba, makhluk itu meraung-raung. Ia mengejarku dengan tungkai lancipnya yang menyeramkan. Rumput di sekitar bergemerisik, terseret kakinya yang bergerak abnormal. Kedua kakiku gemetaran. Namun, kupacu keduanya berusaha pergi sejauh mungkin.
Ya Tuhan, sampai kapan neraka ini terus belanjut? Aku mengeluh, mengeluh begitu khusyuk kepada Sang Ilahi.
***
Aku terpelanting, termakan jurus seribu langkah tak sempurna yang kuambil. Sendalku terlempar jauh, akibat tersandung rumput. Ini adalah kecerobohan kedua yang kulakukan. Akibatnya, tubuhku yang lelah menggelinding pelan. Alam bawah sadarku seperti berusaha mengibarkan bendera putih saat itu. Namun aku memaksakan batas diri.
Dengan sisa tenaga yang ada, kucengkeram rerumputan, sebagai pijakanku berdiri. Sesak suaraku yang mendecit tak kuhiraukan. Aku merangkak mencoba meloloskan diri dengan sengal napas yang memburu. Jantungku berdegup begitu cepat, dan mengucurkan gelontoran keringat yang semakin membasahiku.
“Kenapa dia masih belum membunuhku?” gumamku. Lalu, berkelebatlah sebuah bayangan. Aku memukul-mukul awang-awang, hingga kusadari benda itu menggantung di rambutku.
“Astaga, rumput!” teriakku sembari membuang napas.
“Manusia jalang!” Makhluk yang mengenakan caping biru itu tiba-tiba sudah berada di depanku. Wajahnya bersimbah darah, suaranya yang menggetarkan gendang telinga mengorek telingaku. Parahnya, benda-benda mengerikan bawaannya sudah komplet kembali. Ya cangkul, arit, bak sial menebas gulma, ia berdiri di sana menatapku.
Aku merangkak mundur. Bulu kudukku berdiri tegak. Sendal jepit hijau yang keluar jalur itu kembali mengalihkan pandanganku. Benda norak itu segera kukejar. Lekas-lekas kuraih benda itu, dan kulemparkan sekuat mungkin ke arah makhluk itu, berharap ada waktu yang terulur.
Kini aku berlari. Berlari dengan napas yang terengah-engah. Terus berlari tanpa berani menoleh ke belakang, Lalu tiba-tiba, kurasakan sebuah kejanggalan. Perasaan lelah yang teramat sangat, melemahnya otot yang terus menguat seiring waktu, hingga rasa lapar yang begitu lama tak kurasakan. Kutantang adrenalinku untuk menilik ke belakang, walau segera membalik wajah buru-buru.
Aneh. Aku terdiam mengatur napas, dan memikirkan kemungkinan yang ada matangmatang. Kutatap sekelilingku dan kurasakan senyap yang tak biasa. Praduga sinting di kepalaku terus teranyam, hingga aku memberanikan berbalik sekali lagi. Seperti dugaanku, makhluk itu tak mengejarku.
Wajahnya tampak frustrasi. Gerakan aneh terus saja ia tunjukkan. Kakinya yang kotor, dan mengerikan ia langkahkan, tapi langsung ia tarik kembali. Makhluk itu hanya bolak-balik. Sembari mengeluarkan suara-suara aneh yang membuat siapa pun ketakutan. Namun anehnya, makhluk jalang itu terlihat menungguiku.
Kenapa tak mengejar lagi? Pikirku. Namun, tetap saja wajahnya yang mengerikan tak berhenti menatapku. Itu membuatku tak bisa bernapas lega.
Merasa kesal, kubalas tatapan itu dengan lemparan batu. Satu, dua, tiga, entah berapa banyak batu-batu yang sudah pungut, untuk menghantam makhluk memuakkan itu. Hingga akhirnya, sebongkah batu berukuran sekepalan tangan berhasil mengenai wajah buruknya. Suara jeritannya yang lantang menggetar gendang telingaku lagi, tetapi kali ini aku tak bergeming.
Kutunggu dia bereaksi cukup lama. Namun, apa yang kulihat sesudahnya benar-benar di luar nalar. Makhluk itu malah menyeringai, sambil mengusap-usap perut kurusnya yang tak pantas diperlihatkan. Seakan tengah mengisyaratkan bahwa perut temanku sudah ia obrak-obrik, makhluk itu tertawa-tawa.
“Bangs*t! Pecundang! Kubunuh kau!” makiku.
Namun, teriakanku hanya membuatnya kian gembira. Lompatan kecil yang ia perlihatkan semakin membuat mataku terbelalak.
“Dasar manusia laknat!” suara berfrekuensi mengerikan itu terdengar jelas.
Telingaku terasa gatal, otakku seakan berkedut-kedut mendengar mulut hina itu bergerak-gerak. Panik dan rasa takut bahkan membuatku tak mampu mengatur napas.
Tak seharusnya aku membuatnya bicara, pikirku.
Sungguh, sensasi yang mengerikan. Belum pernah kulihat lenganku gemetaran sesanter itu. Pagar besi Pak Kadus yang kulempari batu juga bergetar, persis seperti tanganku kala itu. Komunikasi yang sama sekali tak berjalan di antara kami terus berlangsung, sampai menjelang pagi. Makhluk itu kemudian menyerah dan meninggalkanku begitu saja, saat langit akan membiru.
***
Air mata dan teriakan sia-siaku malam itu hanya membuat kantung mataku pegal. Rasa asam di tenggorokan akibat begadang berlebihan juga kian melengkapi penderitaanku. Bahkan, pandanganku mulai berkunang-kunang. Tempat makhluk itu berdiri semalaman juga mulai goyah. Firasatku yang mengatakan tempat itu akan segera lenyap membuatku bergegas kembali. Sederhana, keadaan Eko dan kedua teman lainnya masih menjadi beban pikiran, tetapi saat aku memasuki lagi ladang tanpa ujung itu, tubuhku langsung roboh kehilangan tenaga.
Mentari sudah naik saat mataku terbuka. Petang yang kulihat semalam terasa seperti hanya mimpi. Namun, jalanan berlubang yang selalu kulihat menghempaskan pikiran bodoh itu. Jejak-jejak merah yang memercik di atas jalan menegaskan fananya pikiranku. Toh, bahuku pun, terasa perih. Di saat yang sama, aku teringat akan kondisi Eko yang memperihatinkan.
Semoga saja, itu benar-benar hanya mimpi buruk, panjatku.
Kutelusuri jalanan semalam. Doa-doa untuk keselamatan Eko terus kulanjutkan sepanjang langkah. Namun, apa yang kutakutkan terjadi. Tubuh Eko benar-benar terlentang dengan perutnya yang terburai. Talas sedap yang sempat kurasakan sontak berebutan keluar. Rasa asin mengiringi keluarnya makanan yang dulunya sedap itu. Panjang proses pencernaan membuat benda putih itu terasa menjijikkan dan beraroma tak sedap.
“Maaf, Ko, maaf!” Aku bersimpuh, bersebelahan dengan sahabatku yang tak akan lagi bisa bercengkerama. Air mata mulai membasahi pipiku. Terasa amat pedih hingga perut bawahku serasa ditusuk jarum. Aku meraung sejadi-jadinya. Tingkah konyolnya, kebiasaannya merokok, hingga sikap kasarnya. Semua itu terkenang dalam situasi menggaruk hati yang menyedihkan. Jika ini hukuman, ini terlalu berat untuk bisa kujalani.
Aku memeluk tubuh Eko yang terbujur kaku dan kehilangan kehangatan. Jantungnya pun tak lagi berdegup, bahkan kulit bagian bawahnya mulai membiru. Tanda-tanda serupa yang pernah terjadi pada Ilham meyakinkanku, bahwa roh Eko sudah tak lagi bersemayam di raganya. Namun ini bukan tempat yang pantas baginya untuk tidur selama-lamanya.
Kugendong tubuh kurusnya yang tiba-tiba terasa berat. Air mata yang meluap-luap, pikiran buruk, bahkan bahu yang terasa perih tak menggoyahkan langkahku. Meski pelan dan berat, pikiranku untuk mengebumikannya lebih kuat. Sosok gadis yang mengawasiku sedari tadi, bahkan nyaris tak membuatku tergubris meladeninya, tetapi dia mencegat langkahku. Itu membuatku terpaksa berhenti.
“Jangan ke sini!” serunya.
“Memangnya kenapa?” tanyaku.
“Justru kamu yang kenapa!” baliknya. “Memangnya, kowe pantes nanyain orang dengan kaki penuh darah seperti itu?!” tudingnya.
Tak dipercaya membuatku menggeleng. Aku terus melangkah hingga jarak kami hanya tersisa beberapa meter saja.
“Kowe nuduh aku ngapa-ngapain Eko, Mar?” tanyaku.
“Apa aku harus percaya yang lainnya lagi?” Dia balik bertanya, dan aku segera menggeleng.
“Terserah, Mar! Karepmu!” Aku coba menerobosnya, tetapi dia menghadangku lebih cepat. “Cukup, Mar, cukup! Aku sudah cukup dengan semua ini!” Sejenak kurebahkan tubuh Si Eko pelan-pelan. Marni tampak bergidik ketakutan melihat kondisi jenazah Eko.
Dia menatapku, tetapi aku sudah punya rencana lain. Kupatahkan sebuah batang singkong dari ladang. Sesudah itu, aku mendekati tebing sembari membuka baju.
“Lihat ini!” Kuperlihatkan bahuku yang terluka agar dia melihatnya dengan jelas.
“Kenapa itu?” tanyanya.
“Aku juga diserang mahluk itu semalam, Mar!” jelasku.
“Entahlah, mungkin saja itu karena perlawanan Eko?” sangkalnya.
“Kamu tetep ndak percaya?” tanyaku. Dia tetap menggeleng. Itu membuatku tak punya cara lain. “Tunggu!” ucapku, sambil mempersiapkan semuanya.
Aku membentur-benturkan salah satu sisi batang kayu. Setelah terlihat runcing, aku tancapkan bagian tumpul tersebut ke arah pagar, hingga kayu tersebut mengacung horizontal dengan ujung tajamnya yang tersembul jelas.
“Untuk apa kayu itu?” Marni menatapku, aku balik menatapnya, tanpa menjawab sepatah kata pun. “Jangan bodoh, Mat!” Dia berjalan semakin mendekat.
“Untuk apa aku di sini, kalau orang-orang yang ingin kuselamatkan saja tidak percaya padaku?” Aku menarik napas dalam-dalam.
“Mau apa kowe?” tanyanya.
“Seperti kata Eko, ‘palingan akhirnya juga kita bakalan membusuk di sini’,” ujarku, sambil mengambil ancang-ancang.
“Jangaaan!” Marni songak mengejarku. Dia mendorongku sebelum kayu runcing tersebut menghujam perutku. Berkali-kali, dia menampari wajahku. “Jangan bodoh, Mat!” Dia menatapku penuh amarah. Napas tersengal-sengal.
“Aku rela mati daripada kau merasa tak nyaman atas keberadaanku, Mar! Lagi pula, Eko sudah tidak ada. Siapa lagi yang bisa menopang hidupku di dunia? Kalian! Tapi kalau kehadiranku cuman bikin masalah, ya sudah! Buat apa lagi a ….”
“Cukup!” putus Marni. Dia tertunduk. Bola matanya mengembun, tetapi dia tak berbicara lagi. Aku yakin dia belum sepenuhnya percaya.
Dasar perutku kembali berkecamuk. Rasa sakit yang menyesakkan itu benar-benar menguras mentalku. Mataku yang mengembun hanya bisa kusembunyikan. Kutatap jenazah Eko, dan kuingat lagi kenangan-kenangan indah kami yang selama ini tak pernah kupanggil lagi.