“Woi, bocah bisu!” Itulah kalimat pertama yang Eko gunakan untuk menyapaku.
Kala itu, aku memang begitu pendiam. Di tengah berantakannya kondisi keluarga dan beban pikiran yang terlalu berat untuk anak SD, kalimat itu terdengar begitu menyakitkan. Apalagi, kami masih belum saling kenal.
Kenapa orang yang belum kukenal harus mencela sedemikian rupa? Pikirku.
“Amat!” Seketika, lamunanku buyar, mendengar namaku dia panggil. “I … iya, Mar?” jawabku.
“Malah bengong?!” tegurnya.
Marni benar. Bukan saatnya untuk melamun. Kudekati lagi jenazah Eko agar aku bisa segera menggendongnya ke atas sana. Namun, air mataku kembali tergaruk keluar.
Kesedihan menyayat hati ini benar-benar menggores luka yang dalam. Tak kusangka, liang lahat menyedihkan itu akan terbuat lagi. Lubang dengan bentuk mengecewakan itu menjadi saksi bisu tangisan perihku, dalam mengiringi prosesi pemakaman Eko. Masa perkenalan kami bahkan masih terasa baru saja terjadi. Tanpa kusadari, kenangan lama itu kembali tersiar.
“Apa maksudmu?” Aku menjawab pertanyaan begitu kasar.
“Bisa ngomong, toh? Tak kira, kowe bisu,” tukasnya.
Bocah badung itu meninggalkan tatapan menjengkelkannya sebelum pergi. Tubuhnya yang kurus, rambutnya yang tak lebih baik dari mi ayam, kulit sawo matangnya. Ingatan itu masih hangat, seperti baru terjadi kemarin. Nostalgia dan sentimentil itu membuat mataku mengembun. Tubuhku gemetaran, pandanganku pun, buyar terhalang gumpalan air mata.
Pada akhirnya, pertemuan awal kami berakhir dengan sebuah perkelahian. Aku masih ingat saat memukuli tubuh kurusnya seperti kesetanan dan perkelahian itu bukanlah akhir. Bahkan, hanya menjadi pembuka dari rentetan perselisihan lain yang berakhir sama.
Dasar bodoh, pikirku, saat mengusap pipiku. Marni yang membantu prosesi pemakaman menatapku iba, dengan tatapan sedih yang terasa menyakitkan. Tak kusangka, dia akan terbaring bersebelahan dengan Ilham secepat ini.
Bukannya menjauh, dia malah lebih sering mendekatiku. Mendorong tanganku saat tengah menulislah, menyentuh telingaku lalu pura-pura bodohlah, sengaja menendang bola ke arahkulah. Meskipun, tendangannya sama sekali tak berasa, tetapi tingkah kekanak-kanakkan itu berhasil memancing amarahku. Kami jadi lebih sering berkelahi. Anak lainnya perlahan mulai enggan mendekat. Cap siswa badung bahkan tak jua luntur, hingga hari kelulusan SMA-ku tahun lalu.
Sayangnya, Eko putus sekolah di SMP dan memilih membantu ibunya menggarap ladang. Duo badung itu pun harus bubar bersamaan dengan kelulusan SMP.
Yang paling berkesan, tentunya lemparan batu yang dia lakukan saat kelas 4 SD dulu. Selain karena rasa sakit luar biasa yang kurasakan. Hal itu menjadi titik balik hubungan bak kucing, dan anjing kami. Wajah tak tulus yang dia perlihatkan kala mengulurkan tangan masih terekam jelas di ingatanku.
“Yang ikhlas, dong!” tegurku.
Perban di kepala memperburuk penampilanku. Rasa perih yang menyakitkan membuatku sesekali meringis. Kekesalanku padanya pun, masih belum reda.
Mempertemukan kami saat itu bisa saja berakibat fatal, jika saja tak ditengahi guruku.
“Apa katamu?!” Dia masih saja congkak, walaupun tengah diperlakukan bak pelaku kriminal.
“Eko!” Bu Ida, guruku sontak menegurnya.
“Dengar, ya! Hanya karena keluarga yang berantakan, enggak berarti kalau kowe itu spesial!” omel Eko. Aku melongo karena aku pun, enggak pernah berpikir demikian. “Aku juga punya kondisi keluarga yang ndak sempurna. Tapi aku ndak diem dan menyendiri kaya kowe!” Dia terus saja mengoceh.
“Siapa?” tanyaku.
“Ya, aku!” jawabnya.
“Yang nanya!” celetukku.
Diam-diam, kata-kata itu memberi makna yang dalam bagiku. Belakangan, aku jadi tahu kalau Eko juga mengalami KDRT. Ayahnya sering memukuli dia dan ibunya. Yang berbeda, ayahnya akhirnya meninggal akibat penyakit stroke, dan darah tinggi akut yang memicu komplikasi.
Yang dia lakukan ternyata merupakan bentuk cari perhatiannya padaku. Mungkin, dia seperti melihat bayangannya sendiri dalam cermin, ketika melihatku.
Kedatangan tiba-tiba Jumi membuyarkan lamunanku. Dia menatap kami, mengharap penjelasan. Namun kami tak memberi jawaban, dia memutuskan untuk mencari tahu sendiri.
Seketika, suara tubuhnya bersimpuh menggegerkan telingaku. Aku bahkan mampu merasakan kedua telingaku bergerak. Telingaku terasa panas mungkin dia tengah berpikiran macam-macam tentangku saat itu. Marni yang juga tak siap dengan kenyataan, hanya terdiam. Tanpa penjelasan apa pun, Jumi tiba-tiba memaksakan langkah terhuyungnya meninggalkan kami.
“Mau ke mana kamu?” tegurku.
Dia hanya diam. Langkahnya begitu tergesagesa. Itu membuat prosesi pemakaman tertunda.
“Jangan gegabah, Jum!” Marni dengan sigap menangkap bahu kurusnya. Aku yang khawatir, segera melompat naik dari dalam liang lahat.
Bau apa ini? Pikirku, kala benda beraroma segar itu menyeruak dari dalam liang lahat. Noda kemerahan janggal pada pakaian bertuliskan merk pestisida itu juga tak kalah mencurigakan. Namun, jeritan Marni mengalihkan pikiranku.
Penuh sesal, Jumi menghadap tubuh bersimpuh Marni. Wajah kelabunya kala membuang muka, dan memantapkan diri untuk pergi juga terpaket dalam satu adegan risi yang berlangsung singkat.
“Kenapa kamu?” tegurku.
Wajah sedih Marni memelas menatapku. Dia hanya menunjuk punggung kurus Jumi yang semakin menjauh. Keinginan Jumi untuk tak berbicara memang masuk akal. Namun, tindakan mendorong yang dia lakukan sudah kelewat batas. Setengah geram aku berusaha mengejarnya sebelum tarikan Marni menghentikanku.
“Sekarang bukan saatnya untuk itu!” ucapnya.
Dengan perasaan berkecamuk dan kesiapan hati yang rapuh, kubiarkan punggung kurus Jumi berlalu pelan meninggalkan kami. Marni benar, memberikan penghormatan terakhir pada Eko lebih penting. Gundukan tanah baru yang terlihat mengecewakan itu hanya menguatkan rasa khawatir kami.
Bagaimana kalau hal serupa terjadi pada Jumi? Rasanya, aku masih belum siap kehilangan temanku lagi, pikirku.