“Kita harus segera mengejarnya Mar!” bujukku. Marni yang tengah merapalkan doa-doa seadanya sontak menatapku.
“Apa kamu ndak mau ngirim doa buat temenmu?” Dia menatapku dengan sorot mata tajam. Aroma kesal berpadu heran pada tatapannya tak berhasil meyakinkan kekhawatiranku.
“Dia itu bodoh! Aku yakin dia mau menunggu doa dariku. Lagi pula, doa dari bocah badung sepertiku mungkin ndak banyak membantu,” ujarku.
“Ngomong apa kamu ini! Justru doa dari temen dekatnya yang dia butuhkan saat ini!” Marni mengunciku lagi dengan tatapannya. Itu membuatku tak berdaya, tetapi doa yang kulafalkan tak bisa menjadi khusyuk. Aku bergegas bangkit dan berkata, “Eko juga ndak akan maafin aku kalau sampai terjadi apa-apa pada Jumi!”
Aku pun beranjak, bangkit dari peristirahatan
Eko yang menggunung tak rata. Marni mencegahku, tetapi pikiranku terlalu kacau. Aku menggeleng pelan. Kenyataan mengerikan, dan bahaya yang terjadi jadi patokanku.
“Sesuatu menyerang kami tadi malam. Aku ndak mau malam ini tercipta lagi kuburan baru!” ucapku.
Marni menatapku. Dia tak melalui neraka yang sama dengan yang kulalui. Wajar bila dia masih tak bisa menelaah ini.
“Kau pastinya belum lupa dengan yang terjadi pada kakakmu!” ingatku.
“Aku ingat jelas! Tapi, apa kau yakin mereka yang melakukannya?” tanyanya.
“Maksudmu?” Aku balik bertanya. Mengerut dahiku, tak habis pikir.
“Aku juga ndak tau. Tapi, aku ndak pernah lihat mereka nyerang langsung!” sanggahnya.
“Mahluk itu jelas-jelas melukai dan menginjak jenazah Eko di depan mataku, semalam!” bentakku.
“Kamu, kok, jadi ndak bisa mikir logis begini, sih?” omelnya.
Aku menggeleng. Justru karena aku melihatnya langsung, aku berani berujar. Justru karena ada bukti, aku berani menuduh. Di mana letak kekurangan logika dalam dugaanku, sekarang? Ingin kukatakan semua itu kepadanya. Namun, seseorang menyebut nama gadis yang kami kenal dengan jelas.
“Rea?” Begitulah dia memanggil.
Dari timur selter yang rimbun akan semak belukar, sosok manusia berjalan pelan ke arah kami. Wajahnya pucat pasi dengan bibir kering kerontang. Sinar rembulan yang remang, membuat penglihatanku kurang akurat.
Yang kuingat, pria itu memiliki tinggi badan di atas rata-rata. Tubuhnya tegap berisi, rambutnya lurus klimis bergaya mandarin, yang dibelah tengah. Gaya retro yang sekarang terkesan norak itu terbantahkan oleh wajahnya yang rupawan, tapi yang mengganjal kata ‘Rea’ yang barusan dia sebut. Ada perasaan familiar dalam logat yang baru saja dia ucap.
Kurasa, dia juga anak kota, pikirku.
“Oh, bukan ya? Gue pikir Rea.” Pria itu berbalik.
Punggung lebarnya yang siap pergi jauh menggelitikku untuk menghambatnya. Namun, Marni ternyata lebih cepat mencegatnya. “Tunggu!” panggilnya.
Pria tampan itu kembali berbalik. Senyum beraroma kesedihan yang dia perlihatkan, tampaknya memikat Marni. Matanya yang setengah tertutup, bentuk wajah ovalnya. Harus kuakui, kami tak akan sebanding jika adu ketampanan. Lagi pula, wajah Marni yang terlihat berbinar, seolah memukul telak jiwaku, sebelum bertanding. Suaranya yang rupawan, seolah memberiku pukulan terakhir yang menyudahi perlawananku, seketika.
“Tadi, kamu tanya soal Rea?” sahutku.
“Ngapain sih kowe ngomongin dia?!” protes Marni.
“Kalian kenal?” tanya pria itu, antusias.
Tubuhnya yang proporsional berjalan heboh ke arah kami. Hidungnya yang mancung bahkan tersembul jelas, dan mengundang senyum Marni makin merekah. Bak tokoh antagonis yang memendam praduga, dia menyeringai.
“Oh, nyari cewek itu lagi? Kenapa pada nempel sama itu cewek, sih?!” gerutunya.
“Lho, jarimu kenapa, Mas?” tanyaku.
“Kenapa memangnya?” Seakan tak ada yang aneh, pria tadi balik bertanya.
“Kenapa bagaimana?” protesku.
“Jari? Ndak apa-apa, kok!” sahut Marni.
“Ndak apa-apa gundulmu! Jelas-jelas telunjuk kirinya buntung gitu, kok!” protesku. Pria itu segera menyembunyikan tangan kirinya. Itu membuatku tak enak hati. “Maaf, Mas!” ucapku.
Pria itu tersenyum, tak mempermasalahkan. Namun, Marni terus saja membelanya. Itu membuat hatiku sedikit gelisah. Ada perasaan aneh yang sebelumnya tak pernah kurasakan.
“Siapa kowe sebenernya?” Kasar nadaku bertanya dia tanggapi dengan senyuman.
“Maaf, belum memperkenalkan diri. Namaku David,” kenal Si Pemuda Tampan. Dia mengulurkan pergelangan tangan kanannya yang mulus kepadaku. Aku menyalaminya dengan sinis, walau sebenarnya, ingin kusambut dia sepenuh hati.
“Dari mana, dan kenapa kamu bisa ada di sini?” tanyaku, bertubi.
“Gue seorang pendaki dari kota sebelah,” jawabnya.
“Pendaki? Di bulan ini?” tudingku.
“Tidak, bukan bulan ini,” terangnya.
“Terus, kapan?”
“Kami datang di bulan Sapar,” tandasnya.
“Kami? Maksudmu Rea?” tanyaku. Pria itu mengangguk dan membuatku geleng-geleng kepala. “Sapar kamu bilang?!” tanyaku.
Pria itu pun, mengangguk. Itu membuatku tak tahan untuk mendesaknya, “Jangan bohong kamu!”
“Kowe kenapa sih, Mat? Sentimen pol!” tuding Marni.
“Sepertinya otakmu sudah macet, ya? Ini saja masih bulan Suro!” omelku. Marni mengerutkan dahi sebelum menatap pemuda itu, heran. Sepertinya, dia baru saja menyadari keanehan yang kurasakan.
Tanggalan Jawa dimulai dari Suro, Sapar,
Mulud, Bakda Mulud, dan seterusnya hingga
Besar.
Jika perkataan dapat dipertanggungjawabkan, itu artinya, dia berangkat hampir satu tahun yang lalu. Namun, mana ada orang yang mendaki ke gunung dalam jangka waktu setahun. Lagi pula, tidak ada cerita orang hilang dalam setahun ini. Tak kusangka, hobi Eko mencari misteri bisa berguna hari itu.
“Oh, sekarang sudah Suro lagi, ya?” gumamnya.
Aneh, benar-benar aneh. Bukannya meralat, atau mencari-cari alasan, dia tak merubah jawabannya yang menggelikan. Namun ketika aku sedang berurusan dengan pikiranku, tibatiba saja Marni pingsan. Tubuhku pun, tiba-tiba ikut lemas. Lututku juga seakan macet, dan menolak bergerak. Gambaran buyar yang kulihat mengiringi jatuhnya tubuhku, usai tangan kanan pria misterius itu menjangkau keningku.
“Maaf, cuman ini cara satu-satunya yang bisa kulakukan. Waktuku di sini sebentar lagi habis!” Ucapan pria itu, terdengar samar.
“Ke … pa ….” Tubuhku yang telah hilang kesadaran sebelum mulut kotorku selesai mengumpat.