Aku terbangun di sebuah tempat yang belum pernah kusinggahi. Bangunan-bangunan tinggi menjulang nan megah, terlihat begitu jomplang dengan beberapa bangunan di sekitaran. Saking asingnya, tak ada memori terkenang, barang secuil pun, dari tempat berjalan mulus itu. “Aku di mana?” Aku bertingkah layaknya sinetron yang protagonisnya tengah hilang ingatan. “Akhirnya sadar juga!” sahut Marni. Saat kupikir dia jauh lebih tenang dariku, aku justru melihat bekas gigitan pada bibir bawahnya. Hal ini menandakan, ada kepanikan hebat yang dia sembunyikan. Tak lama kemudian, tiga orang pemuda yang dua di antaranya terlihat familiar datang. Satu di antaranya merupakan seorang gadis berparas cantik. Kacamata bulatnya, gigi runcing yang acap kali tersembul. Tidak salah lagi, gadis itu adalah Rea.

