“Lebih baik sekarang kita mencari Jumi!” Aku mengalihkan arah pembicaraan, berusaha menyembunyikan dugaanku. Marni terdiam. Dia tampak tak senang. Aku yakin dia tahu bahwa aku sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Namun aku segera tersenyum. Dia pun berbalik, menarik lenganku dengan lembut, lalu memapahku yang kesulitan berjalan. Akan tetapi, hanya dalam setengah jam aku menyerah. Aku tak tahan menjadi benalu. Beban yang mencagol kakinya terus-terusan. Dia tak akan bisa melompat lebih tinggi, selama aku terus bergandulan padanya. “Tinggalkan saja aku sendirian, Mar!” rintihku. “Apa maksudmu?!” Marni membalik diri, menatapku tajam. “Punggungku saja luka seperti ini. Bukannya membantu, aku yakin aku cuman jadi beban,” keluhku. Plak! Tamparan keras dia daratkan di pipi kiriku.

