“Amat? Amat!” teriakan berirama familiar itu membangunkanku dari semaput. Dapat kurasakan cahaya sang surya tak memberi izin, untuk mataku kembali terpejam. Suara gemericik air yang menenangkan, menggodaku untuk tak membuka mata. Lagi pula, nyeri, pegal, serta perasaan tak enak memenuhiku, tapi ia menamparku. “Ma … Marni?” suaraku begitu sesak, seolah paru-paruku diterkam erat. Punggungku terasa begitu sakit, hingga menjalar ke dadaku. Nyeri dan sesak yang menyertainya membuat napasku tersengal. Berat dan sesak di setiap napas yang kutarik membuatku kesulitan berbicara. Aku segera memberinya kode untuk menarik tubuhku yang tersangkut. “Aku panik, Mat! Takut!” bebernya. “Maaf!” lanjutnya penuh sesal. Aku mengangguk. Mana mungkin aku bisa menyimpan dendam padanya. Kuminta padanya

