Chapter 1 : Sweet Memories
Hai aku balik lagi, semoga suka cerita ini
Reading ❤❤❤
" Aku hitung sampai 10 ya ! 1...2...3...4...5...6..." seorang anak laki- laki tengah bermain petak umpet sementara sahabatnya bersembunyi dibalik semak semak.
"8...9...10...aku buka ya?" Anak itu memberi aba-aba membuka matanya.
Sementara sahabatnya yang bersembunyi tertawa kecil sambil membungkam mulutnya agar tidak ketahuan.
"Mika kamu dimana?" Seru anak itu mencari sahabatnya yang tengah bersembunyi.
Mika, seorang anak perempuan berlesung pipi manis, berambut panjang kuncir dua itu tengah bersembunyi dibalik semak semak sementara sahabatnya Ray, anak laki- laki dengan wajah polosnya tengah berjaga mencari sosok keberadaan sahabatnya yang bersembunyi.
Krakk...
Suara ranting pohon tak sengaja diinjaknya saat bersembunyi. Mika cepat-cepat membungkam mulutnya dan berjalan mundur kebelakang. Ray masih kebingungan mencari keberadaan Mika, tanpa disadari segerombolan anak mendekatinya dan mendorongnya hingga jatuh ke tanah.
"Mau apa kalian?" ucap Ray spontan.
Anak laki-laki yang mendorongnya hanya tertawa mengejek diikuti dua temannya dibelakang seakan tak peduli dengan apa yang mereka lakukan. Ray hanya bisa diam menahan kekesalannya.
"Ini tempat kami, cepat pergi" usirnya.
Mika yang melihatnya dari balik semak akhirnya keluar dengan wajah kesalnya menghampiri ketiga orang yang sudah mengganggunya dengan Ray.
"Hans hentikan! " geram Mika seraya menyilangkan kedua tanganya kedada.
"Ini tempat kami, kami duluan yang ada disini" protes Mika tak mau kalah. Ia lalu mendekati Ray untuk membantunya berdiri.
"Tapi taman ini dibuat oleh Papaku, dia Gubernur di kota ini" kata Hans menyombongkan diri
"Oh ya, kalau papa kamu Gubernur dia pasti jahat , tidak memperbolehkan kami menggunakan tempat ini " tegas Mika dengan keberaniannya.
"Apa kamu bilang??" Hans terlihat kesal.
"Ayo Ray kita pergi saja dari sini !" ajaknya seraya menggandeng tangan Ray pergi dari tempatnya kini.
Hans memandang mereka dengan tatapan kesal, baru kali ini ada yang menantangnya apalagi untuk seorang gadis kecil seperti Mika. Hans membenci Mika, sangat membencinya. Kepalan tangannya seakan menaruh dendam untuk mengusiknya esok hari.
"Awas aja kamu Mika" ancamnya menatap kepergian kedua anak itu dari belakang.
Keduanya memutuskan pulang dengan naik sepeda masing-masing. Menelusuri salah satu bukit teh dan melewati turunan yang cukup terjal. Sambil sesekali berbincang-bincang.
"Kok kamu berani sih sama Hans?" tanya Ray.
"Memang kenapa?" tanyanya balik.
"Dia bisa membalasmu besok di sekolah" Ray memperingatkannya.
"Aku nggak peduli, orang sombong kaya dia harus diberi pelajaran" katanya sambil memanyunkan bibirnya kesal mengingat Hans yang selalu mengganggunya saat di sekolah.
Tanpa sadar sepeda yang mereka tumpangi menabrak batu, lebih tepatnya sepeda Mika yang ditumpanginya. Mika tersandung dan jatuh dengan lutut berdarah. Ray langsung turun dari sepedanya dan menghampiri Mika.
Brakk...
"Mika!" teriaknya Ray panik.
Mika meringis kesakitan saat melihat luka goresan yang cukup dalam sampai mengeluarkan darah segar di lututnya.
"Aw sakit!"
"Kamu nggak papa?" Ray mengambil sapu tangan disaku celana dan membalutkan dilutut Mika yang berdarah.
"Udah mendingan?"tanya Ray
"Sedikit" anggukan kepalanya menandakan dia baik baik saja. Ia tertawa simpul.
Akhirnya mereka pulang dengan menuntun sepeda masing masing. Jarak kedua rumah mereka dari bukit cukup jauh, jadi keduanya harus berjalan lebih untuk sampai ke jalan raya menuju perumahan di kawasan bogor tempat mereka tinggal.
" MIKA!" teriak seorang laki-laki setengah baya dengan setelan jas menghampiri keduanya. Mika menghentikan langkahnya saat laki-laki itu mendekatinya dan berjongkok dengan kedua kakinya di depannya.
"Mika kamu kemana saja sayang?" kecemasan terpancar dari wajah laki-laki yang tak lain adalah ayahnya kepada anak semata wayangnya.
"Lutut mika sakit Pah!!"memperlihatkan lututnya yang diperban dengan sapu tangan.
"Ya ampun sayang , kenapa kamu nggak hati-hati?" cemasnya.
" Maaf Om, ini salah saya, Mika tadi jatuh dari sepeda." jelas Ray dengan menundukan kepalanya bersalah.
Laki laki itu mengusap kepala Ray lembut dan tersenyum.
"Nggak papa Ray, ini bukan salah kamu, mungkin Mika kurang hati-hati" ucapnya dengan lembut
"Lain kali Mika harus hati-hati ya, jangan sering merepotkan Ray, mengerti!"
"Iya Pah!" sahutnya tersenyum simpul.
"Ray kamu bisa pulang sekarang , terimakasih sudah mengantar Mika ya." ucap laki laki itu.
Ray hanya mengangguk polos.
"Ray hati-hati ya , besok kita main bareng lagi!" serunya sambil tersenyum.
Mika lalu masuk ke dalam mobil meninggalkan Ray yang masih berdiri sambil melambaikan tangan kearah mobil Mika yang semakin menjauh.
***
"Apa ini?" tanya Mika memegang kotak pemberian Ray yang diberikan untuknya.
"Ini namanya kotak musik, aku pegang kuncinya kamu pegang kotaknya, nanti kalau kita udah dewasa kita buka kotaknya sama-sama," kata Ray membuat sebuah janji sambil memberikan kotak musik itu padanya. Mika lalu membukanya.
"Wah ini bagus banget Ray!"ucapnya begitu bahagia dengan pemberian Ray. Sebuah kotak musik berwarna merah muda dengan hiasan penari balet di dalamnya, saat kotak itu diputar, terlihat penari balet itu juga ikut berputar mengikuti melodi. Mika terkekeh senang. Ray lalu mengalungkan kuncinya di leher Mika.
"Tapi aku mau kamu yang jaga semuanya, kotak ini dan kuncinya" katanya.
" lalu kamu?"'tanyanya
"Aku akan pegang janji kamu, kamu janji ya kalau nanti kita udah dewasa kita buka kotaknya sama-sama" sambil Ray mengacungkan jari kelingkingnya dan disambut dengan jari kelingking Mika yang menyatu. Mereka tersenyum satu sama lain.
Mereka lalu bermain di Bukit Peri, bukit yang ditemukan mereka beberapa tahun yang lalu dan mereka sepakat menamakan bukit peri. Mika sangat suka tempat itu, setiap hari tiada hentinya dia selalu menari nari disana layaknya putri yang anggun yang tengah berdansa dengan sang Pangeran.
Itu adalah pertemuan akhir Ray sebelum mengetahui Mika dan keluarganya pindah ke Singapura.
Disaat bahagia itu nyata kamu malah menghilang dari pandanganku.
.....
to be continued