Alinka terbangun dari mimpi buruknya. Ia memimpikan Oma yang berjalan pergi meninggalkannya. Alinka menangis meraung-raung, meminta Oma jangan pergi. Namun, Oma hanya tersenyum ke arah Alinka tanpa menghentikan langkahnya yang semakin menjauh dari Alinka. Mimpi itu terasa begitu menyakitkan hingga membuat d**a Alinka terasa begitu sesak. Sontak Alinka bangkit duduk dengan napas memburu. Merasa saat ini dirinya tidak sedang tidur di kamarnya sendiri, Alinka langsung mengamati sekitar. Kamar ini tampak asing sekaligus familiar, seolah Alinka pernah berada di sini, tapi ia tidak ingat ini di mana. Alinka memaksakan bangkit berdiri. Dengan kepala pening dan badan yang terasa lemas, ia berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Pemandangan pertama yang Alinka lihat adalah TV berukuran besar ya

