“Alinka kenapa?” tanya Mario ketika melihat sosok Alinka dengan kaos basah berjalan melewatinya. Alinka diam, mengabaikan pertanyaan Mario. Ia hanya terus berjalan seolah tidak ada siapa-siapa di sana. “Jangan tanya-tanya!” sahut Tamara yang berjalan di belakang Alinka. Sebelum Tamara berhasil melangkah mengikuti Alinka yang sudah menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya di lantai dua, Mario terlebih dahulu mencekal lengan adiknya itu yang membuat Tamara berhenti melangkah. “Apa yang terjadi?” tanya Mario tampak penasaran dan juga khawatir. Tamara melirik ke arah Alinka yang sudah hampir menghilang di tangga. Ia menghela napas dalam lalu mengembuskannya segera. “Entahlah,” jawabnya tidak tahu harus mengatakan apa. “Entahlah gimana maksudnya?” “Nggak tahu, Kak,” balas Tamara lagi. “

