Violet menghela napas pelan setelah menutup pintu ruangan Andreas. Suara klik gagang pintu terdengar lembut di balik deru pendingin ruangan yang konsisten—sebuah bunyi kecil yang sering luput diperhatikan, tapi bagi Violet selalu terasa seperti garis pemisah antara dua dunia. Dunia di dalam ruangan itu, tempat keputusan bernilai miliaran rupiah dibuat dengan satu anggukan kepala, dan dunia di luar, tempat dia duduk setiap hari dengan senyap, menjadi penjaga gerbang terakhir sebelum siapa pun bisa menghadap pria yang mengendalikan imperium properti itu.
Dia melangkah kembali ke mejanya—meja kecil yang bersandar ke dinding kaca, tepat di depan pintu ruang CEO. Dari posisi itu, Violet bisa melihat hampir seluruh lantai tiga puluh. Lorong-lorong berlapis karpet abu-abu, pantulan cahaya lampu di dinding kaca, serta bayangan orang-orang yang berlalu-lalang dengan langkah cepat dan wajah serius. Dunia korporat selalu bergerak seolah tak pernah punya waktu untuk bernapas. Namun meja Violet justru terasa seperti pulau kecil yang sunyi di tengah arus deras itu.
Meja itu sederhana. Tidak seperti meja-meja sekretaris eksekutif di film-film korporat glamor yang penuh perhiasan mahal, foto-foto liburan luar negeri, atau tablet terbaru. Di atas meja Violet hanya ada sebuah laptop yang sudutnya mulai aus, map-map berlabel warna-warni yang ditata rapi, pot kecil berisi kaktus mungil yang dia beli dari pedagang kaki lima di stasiun, dan satu bingkai foto usang.
Foto itu memperlihatkan ayah, ibu, dan adik perempuannya berdiri di halaman rumah kayu di Magelang. Rumah dengan pagar bambu dan pohon mangga tua di sampingnya. Senyum mereka sederhana, jujur, tanpa pose berlebihan. Setiap kali Violet menatap foto itu, dadanya selalu terasa hangat sekaligus perih. Foto itu mengingatkannya akan asal-usulnya—bahwa sebelum gedung pencakar langit, sebelum jas mahal dan rapat strategis, dia hanyalah anak sulung dari keluarga sederhana yang datang ke Jakarta membawa satu koper, segenggam mimpi, dan tanggung jawab yang tak pernah dia ucapkan dengan lantang.
Setiap hari, Violet datang lebih pagi dari siapa pun. Bahkan sebelum office boy membuka pintu utama kantor. Dia menyukai saat-saat itu—ketika lantai tiga puluh masih lengang, ketika hanya suara langkah kakinya sendiri yang terdengar, dan matahari pagi perlahan menembus kaca-kaca tinggi, menyinari kota yang belum sepenuhnya terbangun.
Dia akan membuka laptopnya, memeriksa jadwal Andreas dengan teliti, menyusun ulang dokumen-dokumen penting, lalu menyeduh kopi hitam sesuai selera sang bos yaitu tanpa gula, sedikit lebih pekat dari kopi biasa. Dia hafal detail itu tanpa perlu catatan. Bukan karena ingin dipuji, bukan pula karena berharap diperhatikan. Dia hanya merasa perlu melakukannya dengan benar.
Violet tahu posisinya. Dia hanya sekretaris. Seorang profesional yang seharusnya menjaga jarak, bersikap netral, dan tidak larut dalam urusan personal atasannya. Tapi dia juga tahu—dari caranya memijat pelipis, dari napas panjang yang sering terlepas tanpa sadar—bahwa pria itu sedang tidak baik-baik saja.
Bukan sekadar firasat.
Violet bisa membacanya dari cara Andreas berbicara. Dari jeda panjang di tengah rapat. Dari tatapannya ke luar jendela yang tak pernah benar-benar fokus, seolah kota di bawah sana hanyalah lukisan tanpa makna. Di balik jas mahal yang selalu rapi dan jam tangan mewah yang berkilau di pergelangan tangan, ada kelelahan yang tak pernah diucapkan.
Dia juga mendengarnya dari gosip-gosip rekan kerja—tentang pernikahan Andreas yang tak bahagia, tentang Nadine, sang istri, yang jarang terlihat di acara perusahaan. Tentang perempuan elegan itu yang lebih sering muncul di majalah gaya hidup, mempromosikan butik dan menghadiri pesta-pesta sosialita, seolah dunia rumah tangga hanyalah latar belakang yang tak perlu diperlihatkan.
Tapi Violet bukan tipe wanita yang suka bergosip. Dia mendengar seperlunya, menyimpan sisanya, lalu membiarkan semuanya berlalu tanpa komentar. Namun ada satu hal yang tak bisa dia cegah, yaitu rasa iba.
Dan entah sejak kapan, rasa iba itu mulai berubah. Perlahan. Nyaris tak terasa. Bertransformasi menjadi perhatian yang lebih dalam, lebih personal, lebih berbahaya.
Di awal-awal bekerja, Andreas hanya bicara seperlunya padanya. “Tolong siapkan ini.” “Kirimkan email itu.” “Jadwalkan ulang.” Kalimat-kalimat singkat, padat, tanpa emosi. Nada profesional yang dingin tapi efisien.
Namun seiring waktu, nada itu berubah.
Tak lagi setajam dulu. Kadang terdengar lelah. Kadang diselipi keheningan yang tak biasa. Kadang, hanya satu kata sederhana yang diucapkan tanpa menatap layar ponsel atau laptop: “Terima kasih.”
Dan entah mengapa, satu kata itu selalu cukup bagi Violet.
Hari itu, menjelang sore, Violet menengok jam tangan di pergelangan tangannya. Pukul 15.50. Dia membuka jadwal di layar laptop, memastikan tidak ada perubahan mendadak, lalu berdiri dan melangkah ke depan pintu ruang Andreas. Dengan ketukan ringan, dia membuka pintu.
“Maaf, Pak. Ada jadwal rapat dengan tim pengembangan pukul empat. Mau dijalankan atau dibatalkan?” tanyanya dengan suara lembut, nada profesional yang selalu dia jaga.
Andreas menoleh dari balik meja besar berlapis kayu gelap. Sejenak dia tampak bingung, seolah baru saja kembali dari perjalanan panjang di dalam pikirannya sendiri. Matanya kosong sesaat, lalu fokus kembali.
“Dijalankan saja,” katanya akhirnya. “Tapi kamu ikut, ya.”
Violet mengerutkan kening ringan. Biasanya dia tidak ikut rapat internal seperti ini. Tugasnya hanya mencatat poin-poin penting dari luar, bukan duduk di dalam bersama para manajer senior. Tapi dia tidak bertanya. Tidak menolak.
“Baik, Pak,” jawabnya singkat.
Rapat berlangsung hampir satu jam. Diskusi berjalan intens—membahas proyek residensial baru di daerah BSD, permasalahan izin lingkungan, hingga kalkulasi harga jual per unit yang harus disesuaikan dengan pasar. Para peserta berbicara bergantian, beberapa dengan nada defensif, beberapa lain dengan ambisi yang nyaris telanjang.
Andreas bersuara seperlunya. Memberi arahan singkat, memotong jika diskusi melenceng, lalu kembali diam. Violet mencatat dengan cepat, jemarinya lincah di atas layar tablet. Dia mengikuti alur pembicaraan dengan saksama, menyadari betapa rapuhnya keseimbangan di antara kepentingan-kepentingan besar itu.
Ketika rapat usai dan satu per satu peserta keluar ruangan, Andreas mengangkat tangan, memberi isyarat pada Violet untuk tetap tinggal.
“Duduklah sebentar,” ucapnya.
Violet menurut. Dia meletakkan tabletnya di atas meja dan duduk di kursi seberang Andreas. Tangannya terlipat rapi di pangkuan. Posturnya tegak, sikapnya profesional. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang berdebar lebih cepat dari biasanya.
“Kamu sudah kerja tiga bulan, ya?” tanya Andreas, suaranya datar tapi lembut.
“Ya, Pak.”
“Kamu betah?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi Violet tahu jawabannya tak sesederhana itu. Dia terdiam sejenak, memilih kata-kata dengan hati-hati.
“Saya belajar banyak, Pak. Lingkungan di sini menantang… tapi menyenangkan.”
Andreas mengangguk pelan. Pandangannya tertuju pada wajah Violet, seolah mencoba membaca sesuatu di balik jawaban yang rapi itu. Lalu, setelah jeda yang terasa lebih panjang dari seharusnya, dia berkata dengan nada yang berbeda—lebih rendah, lebih jujur.
“Kalau boleh jujur… kamu satu-satunya hal yang terasa jujur di kantor ini.”
Kata-kata itu menghantam Violet tanpa peringatan. Dadanya terasa sesak. Matanya membesar sedikit sebelum akhirnya dia menunduk, menyembunyikan ekspresi yang hampir tak terkendali.
“Saya hanya melakukan pekerjaan saya, Pak,” ujarnya hati-hati.
“Tapi kamu melakukannya dengan hati.”
Hening.
Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang penuh makna. Seolah ruangan itu menahan napas bersama mereka. Violet bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Ini bukan lagi percakapan biasa antara atasan dan bawahan. Ada garis tipis yang mulai terhapus, dan Violet tahu betapa berbahayanya itu.
“Maaf kalau saya lancang,” katanya akhirnya, suaranya nyaris seperti bisikan.
Andreas menggeleng pelan. Senyum tipis—senyum yang jarang muncul—terlukis di wajahnya. “Tidak. Kamu hanya jadi diri kamu sendiri. Dan itu… langka.”
Violet berdiri lebih cepat dari yang dia rencanakan. “Kalau begitu, saya kembali ke meja saya, Pak.”
Andreas mengangguk. Tapi tatapannya tetap mengikuti Violet hingga pintu tertutup, hingga langkahnya menjauh, hingga dunia kembali ke ritme semula.
Sore itu, Violet pulang lebih lambat dari biasanya. Hujan turun gerimis, membasahi kaca taksi yang membawanya ke kos kecil di Tebet. Lampu-lampu jalan berpendar di antara tetes air, menciptakan bayangan buram yang menari di jendela.
Di kursi belakang, Violet bersandar. Ponselnya tetap di dalam tas, tak tersentuh. Tak ada musik. Tak ada pesan. Hanya pikirannya sendiri yang riuh, memutar ulang setiap detik percakapan di ruang itu—intonasi suara Andreas, cara matanya menatap, kalimat sederhana yang terasa terlalu dalam.
Dia tahu ini bisa menjadi awal dari bencana. Hatinya memperingatkan. Logikanya menjerit. Tapi ada bagian lain dari dirinya—bagian yang telah lama sendiri, yang tak pernah merasa dipilih—yang hanya ingin merasakan hangatnya perhatian itu, meski sebentar.
Di kamar kos sempit dengan dinding bercat kusam dan suara televisi tetangga yang terlalu keras, Violet memeluk bantalnya lebih erat. Dia menatap langit-langit yang retak, membiarkan pikirannya mengembara.
Untuk pertama kalinya sejak lama, ada senyum kecil mengembang di bibirnya. Senyum yang takut. Tapi nyata.
Karena di lantai tiga puluh sebuah gedung pencakar langit, untuk sesaat… dia merasa dilihat. Dihargai. Diperhatikan.
Dan mungkin—meski tak seharusnya—dicintai.
Salahkah rasa itu berharap lebih?