Bab3

1330 Kata
Hujan turun deras malam itu, membasahi jendela-jendela gedung pencakar langit di pusat kota Jakarta. Air menelusuri kaca dalam garis-garis tak beraturan, memantulkan cahaya lampu jalan yang temaram dan berpendar seperti kenangan yang tak ingin benar-benar hilang. Kilatan petir sesekali menyambar langit, disusul gemuruh guntur yang terdengar jauh—cukup untuk menggetarkan udara, cukup untuk mengingatkan bahwa alam pun punya caranya sendiri menumpahkan isi d**a. Gedung Fernandez Property Group hampir seluruhnya tenggelam dalam gelap. Lantai demi lantai yang biasanya hidup oleh langkah kaki, suara tawa ringan, dan dering telepon kini sunyi. Para karyawan telah lama pulang, membawa pulang kelelahan mereka masing-masing, menyisakan bangunan tinggi itu dalam kesendirian yang megah sekaligus dingin. Namun di lantai tiga puluh, dua sumber cahaya masih bertahan. Satu berasal dari ruang kerja CEO—lampu kuning keemasan yang lembut namun tegas, menyinari meja besar dari kayu mahoni dan dinding kaca yang menghadap langsung ke panorama kota. Satu lagi berasal dari meja kecil di depannya—meja sekretaris yang sederhana, nyaris tak mencolok, namun setia berada di sana setiap hari. Violet masih duduk di kursinya. Punggungnya tegak, rambut hitamnya tergerai rapi, kacamata tipis bertengger di hidungnya. Di layar laptop, laporan evaluasi tim marketing terpampang rapi. Grafik, angka, dan catatan strategis memenuhi halaman. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard, terbiasa, presisi—seolah tubuhnya bekerja secara otomatis. Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana. Sesekali, matanya terangkat, melirik ke arah pintu ruang kerja Andreas yang terbuka sedikit. Dari celah itu, cahaya kuning mengalir ke lantai marmer. Bayangan tubuh Andreas tampak samar di balik kaca—berdiri membelakangi jendela besar, bahunya sedikit turun, kepalanya tertunduk seolah sedang memikul beban yang terlalu lama ia abaikan. Jam di layar laptop menunjukkan pukul delapan lewat lima belas. Tak ada kewajiban bagi Violet untuk tetap tinggal. Tidak ada instruksi. Tidak ada pekerjaan mendesak. Bahkan, Andreas sendiri tidak pernah menuntutnya lembur tanpa alasan. Tapi entah mengapa, Violet tetap duduk. Dia mencoba berdalih pada dirinya sendiri—menyebutnya sebagai tanggung jawab, loyalitas, profesionalisme. Dia menyebut kata-kata itu dalam benaknya seperti mantra, berharap mereka cukup kuat untuk menutupi kebenaran yang lebih rapuh. Namun jauh di dalam hatinya, Violet tahu, ini bukan tentang pekerjaan. Ada perasaan aneh yang menahannya. Perasaan yang tidak ingin diakui, bahkan pada dirinya sendiri. Perasaan yang tumbuh perlahan dari kebiasaan melihat punggung seorang pria yang selalu tampak kuat, dari nada suaranya yang terkadang berubah lirih saat tak ada orang lain, dari jeda-jeda sunyi yang terlalu panjang untuk disebut biasa. Akhirnya, Violet menyimpan file laporannya. Bunyi klik kecil terdengar di ruangan yang senyap. Dia menutup laptop, merapikan meja, lalu bangkit dari kursinya. Langkahnya pelan saat mendekati pintu ruang kerja itu. Dia mengangkat tangan dan mengetuk pelan. “Pak Andreas,” katanya lembut. “Saya pulang dulu, ya. Mau saya matikan lampunya?” Andreas menoleh. Di bawah cahaya lampu ruangan, wajahnya tampak berbeda dari biasanya. Tidak ada sorot percaya diri yang tajam. Tidak ada ekspresi dingin khas seorang pemimpin. Yang tersisa hanya kelelahan—jenis kelelahan yang tidak bisa dihilangkan dengan tidur. Jasnya telah ia lepaskan dan disampirkan di sandaran kursi. Kemeja putihnya tergulung di bagian lengan, memperlihatkan urat-urat tipis di lengannya. Kancing paling atas terbuka, dadanya naik-turun pelan, seolah bernapas pun terasa berat malam ini. “Violet…” ucapnya perlahan. Ada jeda sebelum dia melanjutkan. “Bisa temani saya sebentar?” Violet terdiam. Tubuhnya menegang, refleks pertama yang muncul adalah kehati-hatian. Tapi sesuatu di wajah Andreas—sesuatu yang rapuh dan jujur—membuatnya mengangguk sebelum pikirannya sempat menimbang terlalu jauh. Dia melangkah masuk dan duduk di kursi tamu, posisi yang biasa ia tempati setiap kali rapat informal. Tapi kali ini, rasanya berbeda. Tidak ada laptop di pangkuannya. Tidak ada buku catatan. Tidak ada peran yang bisa ia sembunyikan di baliknya. Hanya dua manusia dalam ruangan yang sunyi. “Ada apa, Pak?” tanyanya akhirnya. Suaranya lembut, tulus. “Apa Bapak menginginkan sesuatu… untuk menghilangkan rasa lelah Bapak?” Andreas menghela napas panjang. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu menyandarkan tubuh ke kursi, mendongak ke langit-langit seolah mencari jawaban di sana. “Tidak,” katanya. “Saya tidak lelah.” Bibirnya melengkung tipis. “Atau mungkin… lebih tepatnya, saya kosong.” Kata itu menggantung di udara. “Kadang,” lanjutnya pelan, “saya bertanya pada diri sendiri—apa semua ini benar-benar saya inginkan?” “Semua apa, Pak?” Violet bertanya, hati-hati. Andreas terdiam beberapa detik. Keheningan itu terasa berat, penuh makna. “Harta. Jabatan. Kemewahan. Semua pencapaian ini,” katanya akhirnya. “Kadang terasa tidak ada artinya. Apalagi ketika setiap malam yang menyambut saya di rumah hanya… keheningan.” Violet menunduk. Kata-kata itu seperti gema dari dugaan yang selama ini hanya ia simpan dalam hati. Mendengarnya diucapkan langsung terasa jauh lebih nyata—dan lebih menyakitkan. “Apa Ibu Nadine tidak menunggu di rumah?” tanyanya lirih. Andreas tersenyum. Tapi senyum itu pahit, nyaris rapuh. “Yang menunggu di rumah cuma kesepian, Vi,” katanya. “Dan itu tidak pernah absen.” Hening kembali merambat. Di luar, hujan semakin deras, mengetuk kaca jendela dengan irama yang konsisten—seperti detak waktu yang tak bisa dihentikan. Andreas berdiri. Langkahnya pelan saat berjalan ke arah jendela besar di belakang meja. Dia berdiri di sana, menatap lampu-lampu kota yang buram oleh hujan. Jakarta tampak jauh dan dekat sekaligus—ramai, tapi terasa tak terjangkau. “Saya ingin seorang anak,” katanya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Saya ingin rumah yang penuh suara. Tawa. Tangisan kecil. Suara yang memanggil ‘Ayah’.” Dia menarik napas dalam. “Tapi Nadine tidak mau. Katanya belum siap. Katanya anak itu beban. Dia takut bentuk tubuhnya berubah. Takut harus berhenti dari dunia sosialitanya.” Violet merasakan dadanya menghangat oleh empati yang bercampur pilu. Tidak ada amarah dalam suara Andreas. Tidak ada kebencian. Hanya kekecewaan yang telah lama dipendam. Dia menatap punggung pria itu—dan untuk pertama kalinya, dia melihat Andreas tanpa jabatan. Tanpa titel. Tanpa kekuasaan. Hanya seorang laki-laki yang mendambakan kehangatan yang sederhana. “Bapak tidak sendiri,” ucap Violet akhirnya. Andreas menoleh. Tatapannya tak lagi tajam. Kini ada sesuatu yang terbuka di sana—kerapuhan yang jarang diperlihatkan, bahkan pada dirinya sendiri. “Selama ini Bapak terus berjalan, terus kuat,” lanjut Violet, suaranya bergetar halus. “Tapi tidak ada salahnya kalau lelah. Saya… saya melihat semua itu. Dan saya peduli.” Kata terakhir itu meluncur begitu saja—tanpa rencana, tanpa perlindungan. Hening kembali turun, kali ini lebih berat. Violet merasa dadanya sesak. Dia tahu, barusan dia melangkah terlalu jauh. Tapi juga tahu, itu jujur. Andreas melangkah mendekat. Jarak di antara mereka menyempit. Violet bisa mencium aroma parfum maskulin dari tubuh pria itu—aroma yang selama ini akrab, tapi kini terasa berbeda. “Terima kasih,” kata Andreas pelan. Lalu, tanpa banyak pikir, tangannya menyentuh tangan Violet. Sentuhan itu lembut. Ragu. Tapi nyata. Violet terpaku. Dia tidak menarik tangannya. Dalam sentuhan singkat itu, dia merasakan sesuatu yang sama-sama mereka kenal yaitu kesunyian. Luka yang lama dipendam. Kerinduan yang tak pernah mendapat tempat. Dan ketika bibir mereka akhirnya bersentuhan—hanya sekejap—Violet tahu, batas itu telah dilewati. Bukan dengan gairah. Bukan dengan niat. Tapi dengan kejujuran yang terlambat. Andreas menarik diri lebih dulu. Wajahnya berubah, diliputi rasa bersalah yang jelas. Violet menunduk, menatap tangannya sendiri, seolah mencari pegangan. “Maaf,” kata Andreas lirih. Violet menggeleng. “Saya yang minta maaf, Pak. Saya seharusnya tidak—” “Tapi kamu tidak salah,” potong Andreas. “Saya yang salah. Saya yang lemah.” Violet berdiri perlahan. Kakinya terasa berat. “Saya pulang dulu,” katanya nyaris tak terdengar. Andreas mengangguk, tanpa menatap. Violet membuka pintu dan keluar tanpa menoleh lagi. Hujan masih mengguyur ketika dia menuruni lift. Di dalam perut gedung yang sunyi, langkahnya menggema sendiri. Dia menggenggam payung tanpa membukanya, membiarkan hujan membasahi tubuhnya saat keluar dari lobi. Malam itu, rahasia telah tumbuh. Diam-diam. Dalam. Mengakar. Dan seperti hujan yang jatuh tanpa bisa dicegah, Violet tahu—perasaannya pun telah melangkah terlalu jauh. Meski ia sadar… ini akan berakhir rumit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN